Mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan USK Paparkan Inovasi “Jagoan Anak” di Forum Internasional Thailand

BANDA ACEH – Mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan (MIK) Universitas Syiah Kuala (USK), Mina Shafira, sukses memukau audiens internasional dalam forum World Class University Student Exchange Program 2026. Di hadapan para akademisi dan praktisi global, Mina mempresentasikan model pemberdayaan anak pascabencana yang dikembangkan di Aceh.

Kegiatan strategis ini berlangsung di King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang (KMITL), Thailand, pada 5–10 April 2026. Forum ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan lintas negara untuk membahas penguatan ketahanan lintas batas dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Mina mengangkat studi kasus pendekatan Child-Led Community Recovery yang diimplementasikan oleh organisasi Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A). Pendekatan ini menawarkan paradigma baru dalam merespons pascabencana dengan menempatkan anak-anak sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima bantuan.

“Selama ini, anak-anak sering diposisikan sebagai penyintas pasif. Padahal, mereka memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi,” tegas Mina Shafira di hadapan peserta forum.

Mina menceritakan pengalaman empirisnya saat terlibat dalam respons cepat bencana Cyclone Senyar di Pidie Jaya pada November 2025 lalu. Saat itu, rusaknya sanitasi dan terbatasnya air bersih menjadi ancaman serius. Tim GEN-A kemudian menginisiasi model partisipasi yang melibatkan anak-anak dalam proses pemulihan fisik dan sosial.

Baca juga:  UIN Ar-Raniry Sambut Kunjungan Maahad Tahfiz Negeri Johor Malaysia

Salah satu poin paling menarik yang dipaparkan Mina adalah implementasi sistem “Jagoan Anak”, sebuah model pembagian peran kreatif yang mentransformasi anak-anak menjadi penggerak aktif dalam menjawab tantangan di lapangan.

Melalui sistem ini, anak-anak dikelompokkan ke dalam empat peran spesifik yang saling terintegrasi: Sang Jagoan Air yang berfokus pada edukasi dan perlindungan sumber air bersih, serta Sang Jagoan Angin yang berperan aktif dalam menjaga kebersihan udara dan kesehatan lingkungan sekitar.

Selain itu, terdapat pula Sang Jagoan Tanah yang memikul tanggung jawab dalam pengelolaan sampah serta penghijauan kembali lahan terdampak, serta Sang Jagoan Neon yang memiliki fokus krusial pada aspek keamanan dan pemantauan penerangan di area kamp pengungsian maupun pemukiman warga. Pendekatan tematik ini terbukti efektif memberikan rasa tanggung jawab yang nyata bagi anak-anak dalam proses pemulihan komunitas mereka.

Baca juga:  26 Wartawan Aceh Raih Sertifikasi Kompeten, AMSI Dorong Profesionalisme Jurnalistik

Melalui pembagian peran ini, anak-anak membangun rasa tanggung jawab dan kepemilikan terhadap pemulihan komunitas mereka sendiri. Hasilnya signifikan; tidak hanya memperbaiki kondisi sanitasi, tetapi juga memperkuat kapasitas psikososial anak agar lebih percaya diri pascatrauma.

Partisipasi Mina dalam forum ini merupakan langkah strategis USK dalam memperkenalkan “praktik baik” (best practice) penanggulangan bencana dari Aceh ke panggung dunia. Hal ini membuktikan bahwa ketahanan bencana tidak hanya dibangun melalui infrastruktur fisik, tetapi juga melalui penguatan kapasitas manusia sejak dini.

“Anak-anak bukan hanya penyintas, mereka adalah agen perubahan. Memberdayakan anak hari ini berarti membangun komunitas yang lebih tangguh di masa depan,” tutup Mina.

Kehadiran delegasi MIK USK di Thailand ini diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi riset lintas negara, sekaligus mempertegas posisi Universitas Syiah Kuala sebagai pusat unggulan ilmu kebencanaan di tingkat global.[]

Berita Populer

Berita Terkait