BANDA ACEH – Staf Humas Universitas Syiah Kuala Ibnu Syahri Ramadhan berhasil meloloskan dua naskahnya pada kompetisi menulis Cerita Anak Dwibahasa yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh. (Banda Aceh, 20 April 2026).
Informasi ini berdasarkan pengumuman para pemenang kompetisi tersebut yang dipublish Balai Bahasa Aceh di laman resminya. Berdasarkan informasi tersebut, naskah Ibnu lolos pada dua jenjang kompetisi yang berbeda yaitu Jenjang A dan C, dengan bahasa daerah yaitu bahasa Melayu Tamiang.
Untuk Jenjang A, naskah Ibnu berjudul “Kemano Lalunye Keleng?. Lalu untuk Jenjang C, naskah yang lolos berjudul “Ketokan di Tengah Ladang”.
Rektor USK Prof. Mirza Tabrani mengucapkan selamat serta sangat mengapresiasi atas keberhasilan Ibnu memenangi kompetisi menulis tersebut. Apalagi pada tahun sebelumnya, Ibnu juga berhasil meloloskan dua naskahnya pada kompetisi yang sangat kompetitif ini.
Rektor menilai, prestasi Ibnu ini patut dibanggakan sebab melalui kompetisi ini Ibnu tidak hanya menghidupkan budaya literasi di lingkungan kampus ini.
Namun melalui pencapaian ini, ungkap Rektor, dirinya secara tidak langsung turut melestarikan bahasa Melayu Tamiang, yang merupakan salah satu khazanah budaya Aceh.
“Prestasi Ibnu ini patut kita apresiasi. Karena kita tahu, menulis cerita anak itu tidaklah mudah. Tentu kita berharap, capaian Ibnu ini bisa semakin menggerakan semangat literasi khususnya di lingkungan kampus ini,” ucap Rektor.
Sementara itu, Ibnu turut menyampaikan rasa syukur karena tahun ini dirinya kembali berhasil meloloskan dua naskahnya. Lelaki kelahiran Aceh Tamiang ini mengungkapkan, ia pertama kali mengikuti lomba ini pada tahun 2023.
Kala itu naskahnya yang berjudul Rasidah: Si Manis dan Cantik Buatan Bedah berhasil lolos kompetisi ini untuk jenjang B3. Selanjutnya, pada tahun 2024 dua naskahnya yang mengangkat khazanah budaya Melayu Tamiang yang lolos berjudul “Petualangan ke Negeri Pantun” dan “Berburu Jurong di Sungai Tamiang”, berhasil lolos untuk jenjang C.
Bagi Ibnu, mengikuti kompetisi menulis cerita anak ini adalah salah satu caranya untuk mengenalkan lebih luas budaya Melayu Tamiang khususnya untuk anak-anak. Melalui kompetisi ini pula, dirinya merasa tertantang untuk terus meningkatkan kemampuan menulisnya.
“Alhamdulillah, senang rasanya saat naskah ini nantinya akan dibaca oleh anak-anak. Ini mungkin cara sederhana saya untuk terus membumikan literasi,” ucapnya.
Kompetisi menulis Cerita Anak Dwibahasa adalah event tahunan yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh. Setiap peserta diminta membuat cerita anak dengan menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang ada di Aceh. Pada tahun ini panitia penyelenggara menerima 92 naskah untuk jenjang A dan 49 naskah untuk jenjang C. Dari jumlah tersebut, panitia hanya menerima 29 naskah yang layak lolos seleksi.
Selanjutnya, naskah tersebut akan diterbitkan menjadi buku anak oleh Balai Bahasa Provinsi Aceh di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).[]


