JAKARTA – Salah satu momen yang dinantikan jemaah haji dan umrah adalah mencium Hajar Aswad di Masjidil Haram. Di tengah lautan manusia yang berdesakan mengelilingi Ka’bah, banyak orang berusaha mendekat, menyentuh, dan mencium batu tersebut.
Tidak bisa dipungkiri, mencium Hajar Aswad punya keistimewaan tersendiri. Hukumnya adalah sunah atau sangat dianjurkan.
Hajar Aswad adalah sebuah batu yang terletak di sudut timur laut Ka’bah. Batu ini tertanam pada salah satu sudut Ka’bah dan menjadi titik awal serta akhir dalam setiap putaran tawaf.
Menurut riwayat yang dikutip dari NU Online, Hajar Aswad merupakan batu dari surga. Awalnya batu ini berwarna putih bersih, namun berubah menjadi hitam akibat dosa-dosa manusia.
عن ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنْ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنْ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ
Artinya: Dari Ibn Abbas berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Hajar Aswad turun dari surga dengan warna lebih putih dari susu, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. (HR Tirmidzi)
Keistimewaan lainnya, batu ini kelak akan menjadi saksi bagi orang-orang yang menyentuhnya dengan penuh keimanan.
Dalil Mencium Hajar Aswad
Rasulullah SAW mencontohkan secara langsung mencium Hajar Aswad. Amalan ini kemudian diikuti para sahabat, sehingga hukumnya adalah sunah bagi yang mampu melakukannya tanpa menyakiti orang lain. Salah satu hadis yang menjelaskan keistimewaan Hajar Aswad adalah sebagai berikut:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجَرِ وَاللَّهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ يَشْهَدُ عَلَى مَنْ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
Artinya: Dari Ibn Abbas, ia berkata, Rasulullah bersabda terkait Hajar Aswad: Demi Allah, batu ini akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dengan memiliki dua mata untuk melihat dan lisan untuk berbicara, dan akan bersaksi atas orang yang mengusapnya dengan benar. (HR Tirmidzi)
Doa Saat Mencium atau Menyentuh Hajar Aswad
Mencium atau menyentuh Hajar Aswad baiknya disertai dengan doa-doa baik. Berikut doa yang diajarkan oleh para sahabat:
عن نافع قال كان بن عمر اذا اراد ان يستلم الحجر قال اللهم ايمانا بك وتصديقا بكتابك وسنة نبيك محمد صلى الله عليه وسلم ثم يصلى على النبي صلى الله عليه وسلم ويستلمه
Artinya: Dari Nafi’, ia berkata, suatu ketika Ibnu Umar akan mengusap Hajar Aswad, ia berdoa: Allahumma imanan bika, wa tasdiqan bi kitabika, wa sunnati nabiyyika Muhammadin Sallallahu alaihi wa sallam. Lalu Ibn Umar membaca shalawat Nabi Muhammad dan mengusap Hajar Aswad. (HR Mu’jam Tabrani)
Selain itu, dalam kitab ulama juga disebutkan doa lengkap yang bisa dibaca saat melihat, menyentuh, atau mencium Hajar Aswad:
بِسْمِ اللهِ ، وَاللهُ أَكْبَر اللَّهُمَّ إِيمَاناً بِكَ ، وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ ، وَاتِّبَاعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليه وسلم
Bismillâhi wa-Llâhu akbar allâhumma îmânan bika wa tashdîqan bikitâbika wa wafâ’an bi ‘ahdika wat tibâ’an li sunnati nabiyyika muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Artinya: Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, seraya iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, menepati janji kepada-Mu, serta mengikuti sunnah Nabi-Mu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bagi jemaah yang belum hafal doa di atas, tidak perlu khawatir. Islam memberikan kemudahan dengan membolehkan berdoa menggunakan bahasa sendiri. Misalnya:
“Wahai Hajar Aswad, saksikanlah bahwa aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta percaya kepada Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad”.
Yang terpenting adalah niat, keikhlasan, dan kesadaran bahwa amalan tersebut merupakan bagian dari ibadah kepada Allah.
Dengan memahami sejarah, dalil, dan doa yang dianjurkan, kita jadi tahu bahwa mencium Hajar Aswad bukanlah amalan sembarangan. Seraya berusaha meraihnya di tengah lautan manusia, ketika berhasil sampai, kita diingatkan untuk memanjatkan doa dan bersaksi atas keagungan Allah subhanahu wa ta’ala.[]


