JAKARTA – Tuntutan produktivitas di masa dewasa sering kali membuat aktivitas bermain terasa seperti membuang waktu. Padahal, bermain memegang peran penting dalam mengendalikan stres, membangun relasi, dan menjaga kelenturan pikiran.
Orang dewasa malah sangat disarankan untuk terus meluangkan waktu bersenang-senang demi menjaga kewarasan saraf dan mental, di tengah padatnya tanggung jawab harian yang kerap memicu kelelahan kronis.
Terapis seni dan pemilik NeuroArts Therapy and Consulting, Megan Collins, MA, LMFT, menerangkan, bermain adalah segala aktivitas yang mana prosesnya jauh lebih penting daripada hasil akhirnya. “Kamu melakukannya karena rasanya menyenangkan, bukan untuk menghasilkan sesuatu atau mengesankan siapa pun,” kata dia, melansir Real Simple, Kamis (28/5/2026).
Menggali kembali kebahagiaan lewat bermain di usia dewasa
Makna bermain bagi orang dewasa
Salah satu kesalahpahaman terbesar di masyarakat adalah anggapan bahwa bermain harus terlihat seperti tingkah anak-anak, misalnya berlarian atau menyusun balok bangunan.
Pada usia dewasa, bentuknya bisa sangat beragam. Pola pikir yang mengutamakan kesenangan jauh lebih penting daripada aktivitasnya itu sendiri. “Bermain bagi orang dewasa bisa tampak seperti membiarkan diri tenggelam dalam lamunan, mengambil kuas cat tanpa rencana, atau merawat taman tanpa memedulikan apakah itu sempurna,” papar Collins.
Bahkan, sekadar bernyanyi sepenuh hati di kamar mandi, atau menari sambil menunggu masakan matang di dapur, sudah termasuk “bermain” versi orang dewasa.
Bersenang-senang dapat menunjang kesehatan saraf dengan meningkatkan kreativitas, memecahkan masalah, dan membangun ketahanan emosional. Terapis berlisensi Alyssa Kushner menuturkan, bermain dapat menghentikan mode bertahan hidup akibat berbagai “ancaman” yang dirasakan.
“Begitu banyak orang dewasa hidup dalam kondisi kecemasan, urgensi, stres, dan kelelahan emosional yang kronis. Bermain bisa membantu kita keluar dari mode ketegangan,” ungkap dia.
Lebih lanjut, bermain juga membentuk perkembangan emosional dan sosial manusia. “Empati terus berkembang dan dibentuk hingga dewasa. Melalui bermain, orang-orang memperoleh dan mengembangkan kapasitas mereka untuk ingin tahu tentang sudut pandang dan pengalaman orang lain,” jelas direktur klinis dan psikolog klinis di LifeStance Health, Meera Khan, PsyD.
Bermain sangat membantu memperluas fleksibilitas neurokognitif. Momen keseruan tersebut turut memberi ruang untuk bereksperimen dengan berbagai identitas atau pengalaman emosional baru.
“Secara mental, bermain menghentikan bagian yang terus-menerus berpikir, bertindak, dan menghasilkan sesuatu, sehingga memberi otak istirahat dari kerja keras saraf eksekutif,” jelas Kushner.
“Secara fisik, ia mengatur saraf vagus, menurunkan kortisol, meningkatkan variabilitas detak jantung, dan melepaskan dopamin tanpa risiko kelelahan yang datang dari keluaran terus-menerus,” lanjut dia. Bermain pada hakikatnya juga memiliki fungsi yang sangat mirip dengan langkah pemulihan luka batin masa kecil. Banyak orang dewasa dituntut terlalu dini menanggung ragam beban kehidupan sehingga melupakan spontanitas.
Hambatan dan cara memulainya
Rintangan terbesar orang dewasa untuk bersenang-senang adalah izin dari diri sendiri. Tekanan sosial sering membuat gagasan bermain terasa memalukan.
Sebagai awalan, carilah kegiatan kreatif santai yang tidak menuntut keahlian khusus, seperti mencoret-coret kertas atau memainkan papan teka-teki. Momen ini bisa diwujudkan dengan berinteraksi santai bersama teman yang membuat kita aman secara emosional.[]



