BPS Catat Inflasi Aceh 5,03%, Ini Penyebab Utamanya

BANDA ACEH – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Aceh mengalami inflasi tahunan (y-on-y) pada September 2026 sebesar 5,03 persen. Kenaikan harga tertinggi terjadi di Aceh Tengah dan Aceh Tamiang.

Kepala BPS Aceh Agus Andria mengatakan, berdasarkan pemantauan BPS di 5 kabupaten/kota, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,03 pada September 2025 menjadi 116,62 pada September 2026. Kelima daerah yang menjadi pemantauan adalah Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Meulaboh, Lhokseumawe dan Kota Banda Aceh.

“Tingkat inflasi m-to-m (bulanan) di Provinsi Aceh pada September 2026 sebesar 0,36 persen dan inflasi y-to-d sebesar 1,94 persen,” kata Agus dalam konferensi pers virtual, Kamis (1/10/2026).

Baca juga:  Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, Begini Sejarah dan Latar Belakangnya

Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan naiknya indeks kelompok pengeluaran. Beberapa kelompok yang memberi andil inflasi adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,92 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,50 persen; dan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,15 persen.

Agus juga menjelaskan, komoditas penyumbang inflasi bulanan adalah cabai merah, daging ayam ras, cabai hijau, ikan tuna, semangka. Sedangkan komoditas penyumbang deflasi bulanan antara lain tomat, ikan kembung/ikan gembung/ikan banyar/ikan gembolo/ ikan aso-aso.

Baca juga:  Mendagri Bahas Rencana Pembangunan 2.200 Rumah Papua Pegunungan hingga Gentengisasi

“5 kabupaten/kota IHK di Provinsi mengalami inflasi y-on-y. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 5,86 persen dengan IHK sebesar 120,31 dan terendah terjadi di Meulaboh sebesar 3,61 persen dengan IHK sebesar 116,49,” jelasnya.[]

Berita Populer

Berita Terkait