JAKARTA – Hantavirus menjadi perhatian penting bagi masyarakat Indonesia. Hal ini terjadi setelah mewabahnya hantavirus jenis virus Andes di kapal pesiar MV Hondius.
Mewaspadai penyebaran hantavirus di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengupayakan pencegahan penyebaran penyakit di pintu masuk negara.
Balai kekarantinaan kesehatan di seluruh Indonesia akan melakukan Risk Based Assessment untuk kapal maupun pesawat, alat angkut, barang, hingga orang-orang yang ada di area tersebut.
“Termasuk memantau keberadaan tikus di kapal-kapal tersebut termasuk kebersihannya, apakah di situ ada kotoran tikus dan semacamnya, dan termasuk promosi kesehatan,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Andi Saguni, Senin (11/5/2026), dalam konferensi pers Kementerian Kesehatan RI.
Pada pelaku perjalanan luar negeri akan dilakukan skrining gejala di pintu masuk negara melalui thermal scanner dan pengamatan visual. Upaya ini juga melibatkan aplikasi All Indonesia dari Direktorat Jenderal Imigrasi RI.
“Jadi pelaku perjalanan baik melalui bandara atau pelabuhan itu dilakukan hal seperti ini,” kata Andi.
Saat pemeriksaan, jika suhu pelaku perjalanan lebih dari 38 derajat celcius, maka ditindaklanjuti dengan skrining penyakit yang lebih lanjut sesuai dengan SOP. Nantinya, apabila dinyatakan bukan suspek penyakit potensi KLB/wabah, maka penumpang bisa lanjut ke pemeriksaan imigrasi.
“Jika ternyata bergejala dan suspek penyakit potensial KLB atau wabah, maka akan dirujuk ke faskes tingkat lanjut di rumah sakit yang telah disediakan,” tuturnya.
Saat ini terdapat 198 rumah sakit jejaring pengampuan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) di seluruh indonesia yang bisa difungsikan sebagai rujukan kasus penyakit virus hanta.
Sebanyak 21 RS Sentinal PIE (Penyakit Infeksi Emerging) terdapat di 20 Provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Baray, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Papua Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.[]


