Anak Muda Yakin Jadi Gamer Bisa Sukses, Orangtua Masih Skeptis

JAKARTA – Bermain game kini tidak lagi sekadar hobi atau pengisi waktu luang. Bagi banyak anak muda, terutama Generasi Z (Gen Z), dunia game dan e-sports mulai dipandang sebagai jalur karier yang serius dan menjanjikan. Namun, di tengah meningkatnya popularitas industri game kompetitif, masih banyak orangtua yang meragukan profesi gamer profesional sebagai pekerjaan yang stabil dan layak untuk masa depan.

Hal itu terungkap dalam survei global Logitech G PRO Series Survey yang melibatkan 18.000 responden di 12 negara, termasuk Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Jerman, hingga Australia. Meski tidak memuat data Indonesia, survei tersebut mencerminkan fenomena global mengenai perubahan cara pandang anak muda terhadap dunia kerja di era digital.

Hasil survei menunjukkan lebih dari separuh responden global atau 54 persen menganggap game profesional sebagai jalur karier yang sah. Dukungan terbesar datang dari generasi muda. Sebanyak 67 persen Gen Z dan 60 persen generasi Milenial percaya bahwa menjadi atlet e-sports atau gamer profesional merupakan profesi yang valid. Sebaliknya, hanya 37 persen responden Baby Boomers yang memiliki pandangan serupa.

Dalam survei tersebut, Gen Z dikategorikan sebagai generasi kelahiran 1997-2012, Milenial lahir pada 1981-1996, sedangkan Baby Boomers lahir pada rentang 1946-1964. Perbedaan pandangan antar generasi ini menunjukkan bahwa dunia e-sports semakin diterima oleh kalangan muda, tetapi belum sepenuhnya dipahami oleh generasi yang lebih tua, termasuk para orangtua.

Dalam beberapa tahun terakhir, industri e-sports memang berkembang pesat. Turnamen game kini menawarkan hadiah miliaran rupiah, tim e-sports mendapat dukungan sponsor besar, dan atlet game mulai diperlakukan layaknya atlet olahraga profesional.

Fenomena ini membuat banyak anak muda mulai melihat dunia game sebagai peluang karier di era digital, bukan sekadar hiburan semata. “Riset ini menunjukkan seberapa jauh e-sports dan gaming berkembang, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga jalur nyata menuju kesuksesan pribadi dan profesional,” ujar Global Communications Gaming Lead Logitech G, Derek Perez.

Baca juga:  Rupiah Jebol Rp17.600, Prabowo: di Desa Nggak Pakai Dolar

Meski demikian, Perez menilai masih banyak hal yang perlu dilakukan agar generasi muda mendapatkan dukungan untuk membangun karier di industri game profesional. Menurutnya, dukungan perusahaan teknologi dan industri e-sports akan membuka lebih banyak peluang kerja di sektor tersebut.

“Semakin banyak perusahaan seperti Logitech mendukung atlet dan industri e-sports secara keseluruhan, maka semakin besar pula peluang bagi masyarakat di seluruh dunia untuk meniti karier di bidang e-sports,” tambah Derek.

Kendati mulai diterima generasi muda, profesi gamer profesional masih kalah jauh dibanding pekerjaan konvensional dari sisi prestise. Dalam survei yang sama, tenaga kesehatan dianggap sebagai profesi paling terhormat secara global dengan angka 55 persen. Disusul pengacara sebesar 33 persen, guru atau dosen 30 persen, dan teknisi 28 persen. Sementara itu, profesi gamer profesional hanya memperoleh angka 8 persen dalam kategori pekerjaan yang dianggap bergengsi atau terhormat.

Bahkan, hanya 1 persen responden Baby Boomers dan 3 persen Gen X yang mengaku akan mendorong anak atau orang terdekat mereka menjadi gamer profesional. Generasi Milenial pun masih cenderung berhati-hati. Hanya 4 persen yang mengatakan akan merekomendasikan profesi gamer kepada anak muda di sekitar mereka.

Kekhawatiran terbesar terhadap profesi ini datang dari faktor finansial dan kestabilan pekerjaan. Sebanyak 42 persen responden menilai karier gamer profesional memiliki risiko keuangan tinggi. Selain itu, 34 persen menyebut industri ini terlalu kompetitif, sementara 31 persen mengatakan kurangnya dukungan orangtua dan masyarakat menjadi hambatan utama.

Sekitar sepertiga responden global juga menganggap profesi gamer tidak menawarkan jaminan pekerjaan jangka panjang. Bahkan, 42 persen responden menilai profesi ini belum dianggap sebagai pekerjaan “nyata” karena masih identik dengan aktivitas hobi semata.

Baca juga:  Kunjungan Kerja ke Polres Langsa, Kapolda Aceh Tekankan Jajarannya Bijak Bermedsos dan Santuni Korban Kebakaran

Selain belum dianggap prestisius dan dinilai berisiko, banyak responden juga memandang karier di dunia e-sports memiliki tuntutan dan tingkat kompetisi yang tinggi. Sebanyak 84 persen responden menilai karier di dunia game kompetitif membutuhkan kemampuan mental yang kuat, sedangkan 55 persen menyebut profesi gamer profesional juga menuntut ketahanan fisik.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat mulai memahami kerasnya latihan para atlet e-sports. Sekitar 27 persen responden memperkirakan gamer profesional dapat berlatih selama 10-12 jam per hari, lebih panjang dibanding jam kerja kantoran pada umumnya.

Dengan tuntutan tinggi seperti itu, sebagian responden menilai karier di industri e-sports perlu dipersiapkan sejak dini. Hal ini terlihat dari dukungan terhadap pendidikan e-sports di sekolah. Hampir setengah responden global atau 47 persen setuju bahwa sekolah perlu menghadirkan kelas e-sports dalam kurikulum, berdampingan dengan olahraga tradisional.

Dukungan terhadap gagasan tersebut sangat tinggi di beberapa negara seperti China sebesar 77 persen dan Swiss 73 persen. Namun, negara seperti Inggris, Prancis, dan Jerman masih cenderung lebih berhati-hati.

Secara global, sebanyak 65 persen responden juga mendukung adanya jalur pendidikan formal untuk karier e-sports dan game profesional, baik melalui universitas, perguruan tinggi, maupun kursus khusus.

Adapun beberapa hal yang dinilai dapat membuat profesi gamer lebih diterima masyarakat antara lain liputan media yang lebih luas, fasilitas pelatihan profesional, serta transparansi pendapatan atlet e-sports. Selain itu, kehadiran e-sports di ajang olahraga global seperti Olimpiade juga dianggap dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi karier anak muda di industri tersebut, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Logitech.[]

Berita Populer

Berita Terkait