JAKARTA – Burnout atau kelelahan fisik dan mental akibat stres berkepanjangan semakin banyak dialami pekerja muda. Tekanan untuk terus produktif, membangun karier, hingga tuntutan media sosial disebut menjadi faktor yang membuat generasi muda lebih rentan mengalami kondisi tersebut.
Psikolog klinis Phoebe Ramadina mengatakan pekerja muda umumnya berada dalam fase membangun karier sehingga kerap merasa harus terus membuktikan diri.
“Ditambah lagi, tekanan dari media sosial membuat banyak orang merasa tertinggal jika tidak terus produktif,” ujar Phoebe, dikutip dari ANTARA, Kamis (7/5/2026).
Tekanan hustle culture pada pekerja muda
Menurut Phoebe, kondisi tersebut berkaitan erat dengan fenomena hustle culture, yakni dorongan untuk terus bekerja dan produktif demi mencapai kesuksesan.
Padahal, jika dilakukan terus-menerus tanpa diimbangi istirahat yang cukup, tubuh dan pikiran dapat mengalami kelelahan kronis atau burnout.
Burnout sendiri merupakan kondisi lelah secara emosional, mental, dan fisik akibat stres kerja berkepanjangan. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.
Tanda-tanda burnout yang sering diabaikan
Phoebe menjelaskan tanda burnout biasanya mulai terlihat dari tubuh yang mudah lelah, sulit fokus, kehilangan motivasi kerja, hingga menjadi lebih sensitif dan emosional.
Dalam beberapa kasus, burnout juga dapat memicu gangguan tidur maupun keluhan fisik lainnya. Karena itu, pekerja muda dinilai perlu mulai membangun batasan yang sehat antara produktivitas dan waktu istirahat.
Saat mulai merasa kelelahan, seseorang disarankan berhenti sejenak untuk mengenali hal-hal yang paling menguras energi dalam kesehariannya.
“Individu perlu mulai mengevaluasi sumber kelelahan, misalnya beban kerja, kurang istirahat, tekanan relasi kerja, atau hilangnya keseimbangan hidup,” kata Phoebe.
Healing saja tidak selalu cukup
Phoebe menyarankan pekerja mulai mengatur ulang pola istirahat, menetapkan batas kerja yang lebih sehat, serta memberi ruang untuk pemulihan emosional.
Ia juga mengingatkan bahwa healing atau liburan singkat belum tentu dapat menyelesaikan burnout jika akar masalahnya tidak berubah, seperti lingkungan kerja toxic atau pola kerja tanpa batas yang jelas.
Menurut dia, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental sebenarnya menjadi langkah positif selama dijalani secara sehat dan konsisten, bukan sekadar mengikuti tren.
Jika kelelahan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional seperti psikolog klinis juga penting dilakukan agar seseorang dapat menemukan mekanisme coping yang lebih sehat.
Kesehatan mental pekerja jadi sorotan
Sebelumnya, World Health Organization (WHO) melaporkan kondisi depresi dan kecemasan meningkat lebih dari 25 persen pada tahun pertama pandemi.
Di Indonesia, survei nasional juga mencatat sekitar 6 persen kaum muda mengalami depresi. Kementerian Kesehatan pun menyoroti pentingnya penguatan layanan kesehatan jiwa bagi pekerja karena berkaitan dengan keselamatan kerja, produktivitas, hingga kualitas hidup masyarakat.[]


