Mau PhD di Eropa? Tidak Wajib Punya Publikasi Scopus

JAKARTA – Calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan doktoral atau PhD di perguruan tinggi Eropa ternyata tidak diwajibkan memiliki publikasi ilmiah terindeks Scopus. Salah satu aspek yang menjadi pertimbangan dalam proses seleksi adalah motivasi calon mahasiswa yang disampaikan melalui dokumen pendaftaran dan tahapan seleksi.

Hal tersebut disampaikan EURAXESS Worldwide Representative for ASEAN, Tatas Brotosudarmo, dalam rangkaian acara European Higher Education Fair (EHEF) Indonesia 2026 di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (7/11/2026). Kegiatan tersebut berlangsung hingga Minggu (8/11/2026).

“Tidak ada, kecuali bidang-bidang yang di mana anak tersebut atau kita memang tertarik untuk melakukan publikasi. Tetapi dari course, dari universitas sendiri tidak ada,” ujar Tatas.

Ia menambahkan, publikasi ilmiah dapat menjadi nilai tambah, tetapi bukan persyaratan umum untuk mendaftar program PhD di Eropa.

“Jadi apakah dia sudah publikasi atau apa, itu sebagai tambahan,” sambungnya.

Mengenal Program PhD di Eropa

EURAXESS merupakan inisiatif pan-Eropa yang didukung Uni Eropa untuk mendukung mobilitas, pengembangan karier, dan kolaborasi ilmiah para peneliti di seluruh dunia.

Melalui portal EURAXESS, calon mahasiswa dan peneliti dapat mencari informasi lowongan kerja, beasiswa, pendanaan riset, seperti program Horizon Europe dan Marie Skłodowska-Curie Actions (MSCA), serta layanan bantuan relokasi secara gratis.

Baca juga:  Sambangi Nelayan di Rigaih, Kapolda Aceh Bangun Kedekatan dengan Masyarakat

Tatas menjelaskan, mahasiswa PhD di Eropa memiliki sistem yang menyerupai pekerja profesional. Mereka dapat memperoleh tunjangan hidup yang dikenakan pajak serta tunjangan mobilitas.

Mahasiswa doktoral juga dituntut memiliki mobilitas tinggi. Selain menjalankan kegiatan akademik di institusi asal, mereka berkesempatan bekerja sama dengan institusi lain di luar negara tempat studi, termasuk dengan pihak industri.

Dengan demikian, mahasiswa PhD dapat membangun jejaring akademik dan profesional yang lebih luas.

“Sehingga PhD di sana itu bersifat mobile. Dia bisa bekerja di beberapa tempat,” jelasnya.

Menurut Tatas, peluang karier lulusan doktoral di Eropa tidak terbatas pada bidang akademik. Mereka juga didorong menghasilkan teknologi dan penelitian yang memberikan dampak nyata bagi industri maupun masyarakat.

Untuk meningkatkan kapasitas peneliti, tersedia pula pendanaan khusus pengembangan kapasitas atau capacity building, salah satunya melalui Marie Skłodowska-Curie Actions (MSCA). Program tersebut merupakan bagian dari pendanaan riset dan inovasi Uni Eropa, Horizon Europe, yang turut mendukung proyek penelitian kolaboratif berskala global.

Cara Mencari Peluang PhD melalui EURAXESS

Bagi masyarakat yang tertarik melanjutkan pendidikan PhD di Eropa, informasi peluang studi dan penelitian dapat diakses melalui situs resmi EURAXESS di https://euraxess.ec.europa.eu/.

Setelah membuka situs tersebut, pengguna dapat memilih menu Jobs & Opportunities, kemudian mencari kolom Researcher Profile. Selanjutnya, pilih kategori First Stage Researcher dan posisi PhD.

Baca juga:  Modernisasi Sensus, Kepala BPS Raih Penghargaan CNN Indonesia Awards 2026

Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur filter Research Field untuk mencari peluang sesuai bidang ilmu yang diminati. Pilihan bidang yang tersedia beragam, mulai dari biomedis, linguistik, hingga ilmu ekonomi.

Tatas mengatakan, peluang penelitian juga terbuka bagi mereka yang memiliki minat pada bidang-bidang tertentu, termasuk filsafat hingga seni musik.

“Ada yang tertarik bidang filsafat? Filsafat itu sangat unik sekali, yang mengubah seluruh dunia. Ataukah yang mau yang lebih keren lagi, misalnya menjadi seorang pianis? Bisa, ada di situ ya,” tuturnya.

Lulusan Magister dengan Gap Year Lama Tetap Bisa Mendaftar

Menjawab pertanyaan pengunjung EHEF, Tatas menjelaskan bahwa lulusan magister yang telah lama mengambil jeda atau gap year setelah menyelesaikan pendidikan tetap memiliki kesempatan mendaftar program PhD di Eropa.

Meski demikian, ia menyarankan calon pendaftar memilih program doktoral yang bidang ilmunya sudah cukup familiar, baik berdasarkan latar belakang akademik maupun pengalaman kerja.

Menurutnya, tidak ada ketentuan batas maksimal jeda waktu dari kelulusan jenjang sebelumnya untuk mendaftar PhD.

“Kalau dari PhD ke postdoc, ada ketentuan maksimum (jarak) 8 tahun. Tapi kalau yang (jenjang) sebelumnya ke PhD, itu nggak ada ketentuan,” pungkasnya.[]

Trisna Wulandari – detikEdu

Berita Populer

Berita Terkait