Rocky Gerung Soroti Pertemuan Jokowi dan Prabowo di Kertanegara

JAKARTA – Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Rocky Gerung, mempertanyakan kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke kediaman Presiden Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa (6/10/2026) malam.

Kunjungan tersebut menjadi sorotan karena berlangsung bertepatan dengan agenda pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pendidikan calon wakil presiden (cawapres) yang berkaitan dengan Gibran Rakabuming Raka.

Rocky mengakui bahwa kunjungan Jokowi ke kediaman Prabowo memunculkan beragam interpretasi di tengah masyarakat. Ia pun menyinggung kemungkinan adanya kepentingan politik di balik pertemuan kedua tokoh tersebut.

“Lalu timbul interpretasi macam-macam, kenapa Pak Jokowi datang ke Kertanegara. Menego, menekan, mau mengingatkan perjanjian politik,” kata Rocky Gerung dalam diskusi publik bertajuk “Ijazah SMA Tak Ditemukan, Gibran Tetap Wapres!”, seperti dikutip Minggu (11/10/2026).

“Akibatnya, opini publik muncul lagi, di situ ada kesempatan untuk mempermainkan lagi ratio decidendi,” sambungnya.

Rocky juga menilai MK menangkap keresahan publik terkait persoalan ijazah SMA atau sederajat milik Gibran Rakabuming Raka yang menjadi perhatian masyarakat.

“Jadi sebetulnya, Mahkamah juga secara tidak sengaja mengirimkan kegelisahan publik,” ujarnya.

Baca juga:  BULOG Cetak Rekor Sepanjang Sejarah, Pengadaan Beras Melampaui 4 Juta Ton

Menurut Rocky, keputusan MK yang tidak mendiskualifikasi Gibran berkaitan dengan pertimbangan untuk menghindari kekacauan politik. Karena itu, ia tidak mempermasalahkan apabila ada pihak yang ingin membawa persoalan putusan MK tersebut ke DPR RI.

“Nah, tugas masyarakat sipil adalah mengepung DPR dengan pikiran atau bahkan dengan massa, supaya moral dari ratio decidendi itu tidak berubah menjadi politico decidendi. Itu prinsipnya,” tegasnya.

Rocky Nilai Gibran Akan Elegan Jika Mundur

Rocky berpandangan, Gibran akan menunjukkan sikap elegan apabila bersedia mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI. Menurutnya, kesadaran moral tersebut semestinya muncul dari diri Gibran sendiri.

“Dan supaya itu tidak berlangsung lama, sangat elegan kalau Gibran bilang: ‘Saya mengerti bahwa ratio decidendi itu artinya saya tidak layak lagi’. Kesadaran moral dari Gibran itu yang kita inginkan,” ucapnya.

Rocky kemudian menyinggung kemungkinan perubahan opini publik seiring berlanjutnya proses politik terkait persoalan tersebut.

“Tapi mungkin itu 0,7 persen. Tapi kalau proses, dia legitimasi berlangsung panjang, 0,5 bisa jadi 20 persen dalam dua hari, lalu jadi 80 persen dalam tiga hari, jadi 100 persen sebelum tanggal 20,” tambahnya.

Baca juga:  Polisi Perkuat Pemberantasan Premanisme untuk Jaga Kepastian Hukum Dunia Usaha

Ia kembali menegaskan bahwa pengunduran diri Gibran akan menjadi bentuk sikap kenegarawanan.

“Gibran bilang, ‘Saya mengerti ratio decidendi itu, walaupun saya tidak punya ijazah, tapi saya mengerti rasio ratio decidendi itu’,” tegasnya.

Menurut Rocky, sikap tersebut berpotensi mendapat penghargaan dari masyarakat sekaligus membantu meredakan kegaduhan politik yang berkembang.

“Dan di situ dia jadi noble untuk menghentikan percocokan politik,” tuturnya.

Rocky Tegaskan Pernyataannya Bukan Sikap Wantimpres

Lebih lanjut, Rocky menegaskan bahwa pernyataannya merupakan pandangan pribadi dan tidak mewakili sikap resmi Dewan Pertimbangan Presiden.

Ia menjelaskan bahwa setiap anggota Wantimpres memiliki hak untuk menyampaikan pemikirannya masing-masing.

“Saya terangkan itu sekali lagi, sebagai anggota Wantimpres tidak mewakili pikiran dewan, karena setiap anggota punya hak untuk menerangkan pikirannya sendiri. Saya anggota Dewan Pertimbangan Presiden, bukan Dewan Pertimbangan Wakil Presiden,” pungkasnya.[]

Catatan redaksi: Sebelum diterbitkan, sebaiknya verifikasi kembali kutipan langsung, terutama bagian persentase dan pernyataan mengenai ijazah, dengan rekaman atau transkrip asli agar maknanya tetap akurat.[]

Berita Populer

Berita Terkait