JAKARTA – Jurnalis senior Lukas Luwarso menyampaikan sejumlah pandangan terkait dinamika internal dan arah politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Lukas menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menjadi salah satu figur sentral yang memengaruhi arah kebijakan dan pergerakan PSI.
Menurut Lukas, posisi Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI lebih bersifat formal, sementara sejumlah agenda strategis partai disebutnya masih berada di bawah pengaruh Jokowi.
“Semua sudah tahu PSI dibeli Jokowi dari Jeffrie Geovanie, Kaesang itu hanya dipasang. Semua episentrum dari PSI kan di Jokowi, Jokowi yang mengatur Rakernas, Rakerda, Jokowi yang mendikte PSI,” ujar Lukas Luwarso, mengutip Obor Rakyat Reborn, Minggu (4/10/2026). (Warta Ekonomi)
Lukas juga menilai strategi pengembangan PSI saat ini masih bergantung pada popularitas personal Jokowi dan dukungan finansial. Meski menganggap popularitas Jokowi perlahan menurun, ia menyebut kekuatan finansial masih menjadi salah satu modal politik.
Ia mengaku memperoleh informasi dari kalangan politikus di tingkat DPD dan DPR mengenai adanya tawaran insentif bernilai puluhan miliar rupiah kepada tokoh yang bersedia berkampanye untuk PSI.
“Masalah cuan katanya masih kuat, saya dapat info A1 dari politikus di DPD/DPR dia ditawarin sekian puluh miliar kalau mau berkampanye untuk PSI,” ungkap Lukas.
Lebih lanjut, Lukas menyampaikan klaim mengenai ambisi PSI menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2029. Ia menyebut Jokowi disebut-sebut telah menyiapkan dana dalam jumlah besar untuk mendorong perolehan suara PSI hingga 16 persen pada Pemilu 2029.
Lukas bahkan menyebut angka Rp200 triliun dalam konteks klaim tersebut.
“Jokowi menyiapkan 200 triliun untuk menyiapkan PSI meraih 16 persen di Pemilu 2029,” pungkasnya.
Catatan: Klaim mengenai kendali Jokowi atas PSI, tawaran insentif puluhan miliar rupiah, serta dana Rp200 triliun merupakan pernyataan Lukas Luwarso yang belum disertai bukti independen dalam sumber yang dirujuk.[]


