ACEH BESAR — Rasa malu bukan sekadar sikap menjaga sopan santun dalam pergaulan, tetapi juga menjadi pengendali diri yang mencegah seseorang terjerumus dalam perbuatan buruk. Ketika rasa malu mulai hilang, seseorang berpotensi kehilangan batas antara kebaikan dan keburukan, termasuk dalam membedakan perkara halal dan haram.
Hal itu disampaikan Ust. Khairul Rafiqi, Lc., MA, saat menyampaikan tausiyah BBC di Masjid Hidayatullah Islam Teuku Nyak Arief, Lamreung, Aceh Besar, Ahad Subuh, 6 September 2026, bertepatan dengan 24 Rabiul Awal 1448 H.
Dalam tausiyahnya, Ust. Khairul mengajak jamaah untuk kembali merenungkan tujuan kehidupan. Menurutnya, manusia sering kali terlalu sibuk mengejar berbagai kepentingan duniawi, padahal seluruh pencapaian tersebut pada akhirnya akan ditinggalkan ketika kematian tiba.
Ia mengatakan, tidak semua hal yang dianggap penting selama hidup akan memiliki nilai ketika manusia telah berada di dalam kubur. Karena itu, bekal yang semestinya dipersiapkan bukan hanya untuk kehidupan dunia, tetapi juga untuk kehidupan setelah kematian.
“Di atas dunia ini banyak perkara yang kita anggap penting, ternyata tidak penting ketika kita sudah di bawah tanah. Yang penting adalah sesuatu yang akan menjadi pegangan kita nanti ketika sudah di bawah tanah,” ujarnya.
Pergaulan Bisa Menjadi Penentu di Akhirat
Selain mengingatkan tentang kematian, Ust. Khairul juga mengajak jamaah memperhatikan siapa saja yang menjadi teman dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, banyaknya teman tidak otomatis menjadikan seseorang memiliki banyak sahabat di akhirat. Pertemanan yang dibangun atas dasar kemaksiatan, kepentingan duniawi, atau saling mendukung dalam keburukan justru dapat menjadi sumber permusuhan di kemudian hari.
“Begitu pula kita punya banyak kawan di atas dunia ini, eh ternyata menjadi musuh ketika di akhirat. Berhati-hatilah,” pesannya.
Ia meminta umat Islam tidak sembarangan memilih lingkungan pergaulan karena karakter seseorang dapat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya.
Rasa Malu Bagian dari Keimanan
Ust. Khairul kemudian menyoroti semakin bergesernya nilai rasa malu dalam kehidupan masyarakat. Padahal, menurutnya, Islam menempatkan rasa malu sebagai bagian penting dari keimanan.
Ia mengingatkan hadis Rasulullah SAW, Al-hayā’u minal īmān, yang berarti rasa malu merupakan bagian dari iman.
Dahulu, kata dia, orang tua terbiasa menanamkan rasa malu kepada anak sejak dini. Anak diajarkan malu meminta-minta, berkata kasar, melanggar aturan, mencoreng nama baik keluarga, maupun melakukan perbuatan yang tidak pantas.
Namun, nilai tersebut dinilai mulai mengalami pergeseran. Perbuatan yang dahulu dianggap tabu bahkan dalam kondisi tertentu justru dilakukan tanpa rasa bersalah.
“Dulu orang tua kita mengajarkan anaknya agar malu meminta-minta. Tetapi sekarang ada orang yang justru bangga meminta-minta. Bangga melanggar aturan, bangga berkata-kata kotor, padahal yang seperti itu dulu tabu,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut patut menjadi perhatian karena hilangnya rasa malu dapat menjadi awal rusaknya tatanan kehidupan.
Perilaku Sehari-hari Cerminan Hilangnya Malu
Dalam tausiyah tersebut, Ust. Khairul memberikan sejumlah contoh sederhana yang menunjukkan semakin menipisnya rasa malu.
Ia menyebut perilaku anak yang berani merokok di hadapan guru, siswa yang melompati pagar sekolah karena terlambat, hingga pekerja yang datang terlambat tanpa merasa bersalah.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai pelanggaran aturan, tetapi berkaitan dengan melemahnya kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri.
“Malulah sebelum melakukan sesuatu yang tidak pantas. Malu itu sifat Islam,” tegasnya.
Ia menilai rasa malu seharusnya membuat seseorang berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Malu Bukan Sifat yang Merendahkan
Ust. Khairul juga menegaskan bahwa rasa malu bukanlah sesuatu yang harus dianggap sebagai kelemahan.
Ia mengingatkan bahwa dalam hadis disebutkan Allah SWT memiliki sifat malu dan Mahapemurah. Rasulullah SAW juga dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga rasa malu.
Salah satu hadis yang dikutipnya menyebutkan bahwa Allah SWT tidak mengembalikan tangan seorang hamba dalam keadaan kosong ketika hamba tersebut berdoa dan mengangkat kedua tangannya kepada-Nya.
Keteladanan Rasulullah SAW tersebut, menurut Ust. Khairul, seharusnya menjadi pengingat bagi umat Islam untuk menjaga rasa malu sebagai bagian dari akhlak.
Hilangnya Malu Membuka Jalan Pelanggaran
Ust. Khairul juga mengingatkan bahwa rasa malu memiliki fungsi penting dalam menjaga seseorang agar tidak melewati batas agama dan moral.
Tanpa rasa malu, berbagai tindakan yang sebelumnya dianggap tidak pantas dapat dilakukan secara terbuka, mulai dari tipu-menipu hingga mencari keuntungan melalui cara yang tidak halal.
“Semua loss di ruang publik bila tak punya rasa malu,” ujarnya.
Ia mengingatkan jamaah agar tidak terlibat dalam praktik yang bertentangan dengan nilai agama, termasuk permainan proyek, transaksi jual beli jabatan, maupun upaya memperoleh harta dengan cara yang haram.
“Jangan sampai kita tipu-tipu orang, olah-olah proyek. Malu kepada Allah. Jaga perut dari perbuatan dan harta yang tidak halal,” pesannya.
Menurutnya, manusia bisa saja menyembunyikan perbuatannya dari orang lain, tetapi tidak ada satu pun perbuatan yang tersembunyi dari pengetahuan Allah SWT.
Tiga Rasa Malu yang Harus Dijaga
Dalam tausiyahnya, Ust. Khairul menjelaskan tiga bentuk rasa malu yang penting dimiliki setiap Muslim, yakni malu kepada Allah, malu kepada manusia, dan malu kepada diri sendiri.
Malu kepada Allah berarti menyadari bahwa seluruh perbuatan manusia berada dalam pengetahuan-Nya. Tidak ada dosa yang benar-benar dapat disembunyikan, meskipun tidak diketahui oleh orang lain.
“Malu kepada manusia saja bila keburukan dan kesalahan kita diketahui. Bagaimana lagi kepada Allah yang Mahatahu setiap kesalahan kita?” katanya.
Selanjutnya, malu kepada manusia dan masyarakat berfungsi menjaga seseorang agar tidak melakukan tindakan yang dapat merusak kehormatan diri maupun lingkungan sosial.
Sedangkan malu kepada diri sendiri menjadi dorongan untuk melakukan introspeksi. Ketika seseorang mengetahui kekurangannya, ia seharusnya tidak membiarkannya, tetapi berusaha memperbaiki diri.
“Sudah tahu ada kekurangan, mengapa tidak memperbaiki?” ujarnya.
Jangan Menunggu Aib Terbongkar
Ust. Khairul mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan tertutupnya aib sebagai alasan untuk terus melakukan dosa.
Menurutnya, ketika Allah SWT masih menutupi kesalahan seseorang, kesempatan tersebut seharusnya digunakan untuk segera bertobat dan memperbaiki diri, bukan justru mengulangi kesalahan.
“Kita melakukan dosa jangan tunggu ketahuan dulu baru bertaubat. Lakukan terus walau belum ketahuan manusia, karena Allah pasti tahu,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa seluruh manusia pada akhirnya akan dikumpulkan di Ardhul Mahsyar. Pada saat itu, tidak ada lagi perbuatan yang dapat disembunyikan.
Karena itu, ia mengajak jamaah mempersiapkan diri menghadapi hari tersebut dengan memperbanyak amal dan menjaga akhlak.
“Semua keburukan kita akan dibuka di hari perkumpulan besar di hadapan Allah. Maka bersiaplah dan berhiaslah untuk hari Mahsyar itu dengan sifat malu agar tidak terlihat buruk di pertemuan besar di hari kiamat,” pesannya.
Pendidikan Rasa Malu Dimulai dari Keluarga
Ust. Khairul juga memberikan perhatian khusus kepada peran orang tua dalam membentuk karakter anak.
Menurutnya, pendidikan rasa malu perlu diberikan sejak dini agar anak mampu membedakan perilaku yang pantas dan tidak pantas. Anak juga harus dibekali kemampuan untuk menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.
Ia mengingatkan jangan sampai kondisi masyarakat berbalik, ketika perilaku yang dahulu dianggap memalukan justru dianggap biasa, sementara orang yang berusaha menjaga kehormatan diri malah dianggap aneh.
Karena itu, keluarga memiliki peran penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut.
Malu Sebagai Pagar Kehidupan
Menutup tausiyahnya, Ust. Khairul mengajak jamaah menjadikan rasa malu sebagai bagian dari karakter keluarga dan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, malu kepada Allah dapat menjaga hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Malu kepada manusia membantu menjaga hubungan sosial, sedangkan malu kepada diri sendiri mendorong seseorang untuk terus melakukan evaluasi dan memperbaiki kekurangan.
“Harus ada tiga malu: malu kepada Allah, malu kepada manusia dan masyarakat, serta malu kepada diri sendiri,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa selama rasa malu masih ada, seseorang akan lebih berhati-hati sebelum bertindak. Sebaliknya, ketika rasa malu telah hilang, berbagai batas moral dan agama dapat dengan mudah diterobos.
Malu, kata Ust. Khairul, bukan simbol kelemahan. Justru rasa malu menjadi tanda bahwa iman, kehormatan, dan kemanusiaan masih terjaga dalam diri seseorang.[]


