BANDA ACEH – Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) di lima kabupaten/kota di Provinsi Aceh, yakni Aceh Tengah, Meulaboh, Aceh Tamiang, Banda Aceh, dan Lhokseumawe, tercatat inflasi sebesar 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Agustus 2026.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 115,87 pada Juli 2026 menjadi 116,20 pada Agustus 2026. Sementara secara tahunan (year-on-year/y-on-y), Aceh mengalami inflasi sebesar 4,86 persen.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi m-to-m adalah kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Kelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 0,82 persen dengan kontribusi sebesar 0,12 persen terhadap inflasi bulanan.
Sementara secara y-on-y, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,51 persen dengan kontribusi sebesar 1,71 persen.
Komoditas utama yang dominan menyumbang inflasi m-to-m antara lain tarif air minum, daging ayam ras, beras, cabai rawit, dan semen. Sementara itu, komoditas yang paling berpengaruh terhadap inflasi y-on-y adalah nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, bensin, dan tomat.
Secara y-on-y, seluruh wilayah yang menjadi cakupan penghitungan inflasi mengalami inflasi. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 5,57 persen, sedangkan terendah tercatat di Meulaboh sebesar 3,85 persen.
Sementara secara m-to-m, Kabupaten Aceh Tengah mengalami deflasi sebesar 0,33 persen. Adapun wilayah penghitungan inflasi lainnya mengalami inflasi. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Meulaboh sebesar 0,88 persen, sedangkan terendah tercatat di Kota Banda Aceh sebesar 0,17 persen.
Nilai Tukar Petani Naik
BPS Aceh turut mencatat kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Agustus 2026. NTP mencapai 128,06 atau naik 0,59 persen dibandingkan Juli 2026.
Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada Agustus 2026 tercatat sebesar 161,38 atau meningkat 0,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas yang menjadi penyumbang utama kenaikan It adalah kopi, cabai rawit, dan kakao atau cokelat biji.
Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) tercatat sebesar 126,02 atau meningkat 0,40 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas yang dominan menyumbang kenaikan Ib antara lain cabai rawit, beras, dan tongkol.
Neraca Perdagangan Surplus
BPS Provinsi Aceh juga mencatat neraca perdagangan luar negeri Aceh mengalami surplus sebesar US$2,15 juta pada Juli 2026.
Secara rinci, nilai ekspor Aceh pada Juli 2026 mencapai US$84,04 juta, lebih tinggi dibandingkan nilai impor yang sebesar US$81,89 juta. Nilai ekspor tersebut turun 1,49 persen dibandingkan Juni 2026.
Komoditas utama ekspor Aceh pada Juli 2026 didominasi batu bara dengan nilai US$53,18 juta atau berkontribusi sebesar 63,29 persen terhadap total ekspor.
Berdasarkan negara tujuan, India menjadi mitra dagang terbesar Aceh dengan nilai ekspor mencapai US$63,05 juta atau 75,02 persen dari total ekspor. Komoditas yang diekspor ke India didominasi batu bara, CPO, dan berbagai produk kimia.
Di urutan berikutnya adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$10,19 juta, dengan komoditas utama berupa kopi dan rempah-rempah. Selanjutnya, ekspor ke Thailand tercatat sebesar US$3,13 juta, dengan komoditas utama batu bara, daging dan ikan olahan, serta kopi dan rempah-rempah.
Ekspor komoditas asal Aceh yang dilakukan melalui pelabuhan di wilayah Provinsi Aceh tercatat sebesar US$68,31 juta atau 81,29 persen dari total ekspor. Sementara sisanya diekspor melalui pelabuhan di provinsi lain, dengan nilai terbesar melalui Provinsi Sumatera Utara sebesar US$15,71 juta.
Sementara itu, total impor Aceh pada Juli 2026 didominasi gas propana/butana dengan nilai US$56,88 juta. Negara asal impor terbesar adalah Amerika Serikat dengan nilai US$56,88 juta berupa gas butana/propana.
Selain itu, Rusia menyumbang nilai impor sebesar US$11,63 juta berupa pupuk. Di posisi ketiga, Tiongkok menyumbang US$9,77 juta berupa mesin atau pesawat mekanik dan pupuk.
Kunjungan Wisatawan Mancanegara Turun
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Aceh pada Juli 2026 tercatat sebanyak 2.838 kunjungan. Angka tersebut meningkat 11,16 persen dibandingkan Juni 2026, tetapi turun 31,02 persen dibandingkan Juli 2025.
Terdapat dua pintu masuk utama wisman yang dipantau, yakni Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda dan Pelabuhan Internasional Balohan di Sabang.
Indikator pariwisata lainnya yang dirilis BPS adalah Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel, baik hotel berbintang maupun nonbintang.
Pada Juli 2026, TPK hotel berbintang di Aceh tercatat sebesar 29,04 persen. Angka tersebut turun 0,34 poin persentase dibandingkan Juni 2026 dan turun 0,37 poin persentase dibandingkan Juli 2025.
Sementara itu, TPK hotel nonbintang pada Juli 2026 tercatat sebesar 19,94 persen. Angka tersebut turun 1,22 poin persentase dibandingkan Juni 2026, tetapi meningkat 1,20 poin persentase dibandingkan Juli 2025.[]


