AI Bukan Pengganti Dokter, Melainkan Asisten Cerdas di Dunia Medis

JAKARTA – Penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di bidang kesehatan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. AI kini tidak hanya hadir dalam bentuk aplikasi kesehatan, tetapi juga telah terintegrasi ke berbagai perangkat medis, seperti CT Scan, MRI, USG, hingga sistem image guided therapy.

Teknologi ini dimanfaatkan untuk mempercepat proses pemeriksaan, meningkatkan kualitas citra medis, membantu dokter mengidentifikasi kelainan, serta mendukung pengambilan keputusan saat tindakan medis berlangsung.

Meski demikian, masih banyak masyarakat yang khawatir AI suatu saat akan menggantikan peran dokter. Padahal, menurut para ahli, AI justru dirancang sebagai teknologi pendamping yang membantu tenaga medis bekerja lebih cepat, lebih akurat, dan lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

AI Bukan untuk Menggantikan Dokter

Global Chief Medical Officer for Diagnosis & Treatment Philips, Atul Gupta, MD, menegaskan AI tidak diciptakan untuk mengambil alih profesi dokter.

“AI tidak di sini untuk menggantikan saya atau dokter-dokter lainnya. AI sama seperti teknologi lainnya. Jika diterapkan dengan benar, AI dapat menjadi asisten bagi dokter,” ujarnya saat ditemui di Philips Customer Experience Center, Eindhoven, Belanda, belum lama ini.

Menurut dr. Atul, AI saat ini telah diterapkan dalam puluhan aplikasi klinis yang membantu meningkatkan efisiensi layanan kesehatan. Philips sendiri telah mengembangkan lebih dari 45 fitur AI pada sistem pencitraan diagnostik, seperti CT Scan, MRI, dan USG.

Teknologi tersebut mampu mempercepat proses pemeriksaan, meningkatkan kualitas gambar, sekaligus membuat penggunaan alat medis menjadi lebih efisien.

Baca juga:  Perkuat Sinergi, IBI Gelar Seminar Praktis Klinis Bersama Ketua DPRK dan Dokter Spesialis

“Dengan AI, saya bisa melakukan pemindaian MRI hingga tiga kali lebih cepat. Kualitas gambar bisa meningkat hingga 80 persen, bahkan konsumsi daya MRI dapat dikurangi sekitar 40 persen,” jelasnya.

Tak hanya mempercepat pemeriksaan, AI juga mulai berperan sebagai “mata kedua” bagi dokter saat menganalisis hasil radiologi.

Sebagai contoh, AI mampu menandai area pada hasil MRI prostat yang dicurigai sebagai kanker sehingga dokter dapat memberikan perhatian lebih pada bagian tersebut. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan dokter. Kehadiran AI hanya membantu mengurangi risiko kelalaian akibat besarnya jumlah data yang harus dianalisis.

Ke depan, kemampuan AI diperkirakan akan semakin berkembang, termasuk memprediksi risiko penyakit sebelum gejala muncul. Salah satunya melalui analisis data denyut jantung dari perangkat wearable yang dapat memperkirakan kemungkinan seseorang mengalami fibrilasi atrium beberapa minggu sebelum terjadi.

Sementara itu, Executive Vice President sekaligus Chief Business Leader Image Guided Therapy Philips, Bert van Meurs, menilai AI juga berperan penting dalam memperluas akses layanan kesehatan, terutama di negara yang masih kekurangan dokter spesialis.

Menurutnya, AI dapat membantu dokter yang baru menyelesaikan pendidikan memperoleh dukungan pengetahuan layaknya dokter senior saat melakukan tindakan medis.

“Bayangkan selama prosedur berlangsung, seluruh pengetahuan itu tersedia melalui AI,” katanya.

Bert menambahkan, AI juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dokter ketika menangani pasien dengan kondisi kritis.

Baca juga:  Dojang SMKN 1 Banda Aceh Raih Juara Umum II dengan Perolehan 18 Medali Emas pada Kejuaraan Taekwondo Aceh Student Championship 2.0

“Teknologi ini akan membantu mendemokratisasi layanan kesehatan dengan menghadirkan pengalaman yang dimiliki dokter paling berpengalaman kepada dokter yang masih kurang berpengalaman,” ujarnya.

Ia pun menepis anggapan bahwa AI akan mengambil alih profesi tenaga kesehatan. Menurutnya, teknologi tersebut dirancang untuk membantu dokter mengambil keputusan yang lebih baik, terutama dalam situasi yang penuh tekanan.

“AI akan memainkan peran yang sangat penting. Seperti yang disampaikan dr. Atul, AI lebih berperan sebagai asisten daripada mengambil alih peran dokter,” katanya.

Lebih lanjut, dr. Atul mengungkapkan bahwa beban kerja dokter saat ini jauh lebih berat dibandingkan beberapa dekade lalu. Jika dahulu satu pemeriksaan CT Scan otak hanya menghasilkan sekitar 30 gambar, kini jumlahnya bisa mencapai lebih dari 1.000 gambar yang harus dianalisis dalam waktu singkat.

Dalam kondisi tersebut, AI membantu dokter mengelola lonjakan data medis tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada pasien.

“Bagi saya, AI memberikan dampak yang sangat besar. AI telah membantu kami meningkatkan efisiensi, dan menurut saya itulah dampak terbesar yang diberikan teknologi ini,” ungkapnya.

Para ahli menegaskan, perkembangan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan tenaga medis. Sebaliknya, teknologi ini hadir sebagai alat pendukung yang memungkinkan dokter bekerja lebih efisien, meningkatkan akurasi diagnosis, mempercepat pelayanan pasien, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang berkualitas. []

Berita Populer

Berita Terkait