Iran Klaim AS Sepakat Cairkan Aset Rp 214 T yang Dibekukan

TEHERAN – Ketua parlemen sekaligus kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengklaim bahwa Amerika Serikat telah sepakat untuk mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan senilai US$ 12 miliar, atau setara Rp 214,2 triliun.

Ghalibaf, seperti dilansir Al Jazeera dan The Business Standard, Selasa (23/6/2026), mengatakan bahwa pembicaraan Iran dan AS di Swiss telah menyelesaikan kesepakatan tentang pencairan aset-aset Iran yang dibekukan tersebut.

Dia menyebut langkah itu merupakan hasil langsung dari nota kesepahaman (MoU) yang lebih luas antara kedua negara. Ghalibaf mengatakan bahwa kesepakatan tersebut secara resmi telah ditandatangani dalam pertemuan teknis di Swiss pada hari Senin (22/6).

“Kesepakatan agar AS melepaskan aset Iran yang dibekukan senilai US$ 12 miliar telah diselesaikan di Swiss,” kata Ghalibaf kepada media pemerintah Iran pada Senin (22/6) waktu setempat.

Menurut Ghalibaf, pelepasan aset yang dibekukan senilai US$ 12 miliar itu akan dilakukan dalam dua tahap, dengan masing-masing sebesar US$ 6 miliar (Rp 107 triliun).

Baca juga:  Pratama Arhan Resmi Berpisah dengan Bangkok United

Dia menggambarkan pelepasan aset tersebut sebagai salah satu hasil utama yang diperoleh Teheran berdasarkan MoU dengan Washington.

Ghalibaf menambahkan bahwa kesepakatan itu juga mencakup langkah-langkah keringanan sementara yang mempengaruhi beberapa sektor. Dia menyebut sanksi-sanksi terhadap ekspor minyak mentah, petrokimia, dan turunannya baru akan dicabut sepenuhnya saat kesepakatan akhir tercapai.

Dia mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut akan mencakup sektor perbankan, asuransi, dan transportasi.

Pernyataan Ghalibaf ini disampaikan setelah AS mengumumkan pelonggaran sementara sanksi-sanksi yang memungkinkan penjualan minyak dan produk petrokimia Iran hingga 21 Agustus.

Trump Sebut Dana Iran Dipakai Beli Produk Makanan AS

Otoritas AS tidak secara resmi menanggapi klaim Ghalibaf tersebut. Namun Presiden AS Donald Trump, saat berbicara kepada wartawan, mengatakan bahwa dana Iran yang dicairkan nantinya akan digunakan untuk membeli produk makanan dan pertanian secara eksklusif dari AS.

“Semua uang itu akan kembali dalam bentuk pembelian makanan, yang sangat mereka butuhkan. Mereka memiliki 91 juta penduduk; mereka tidak mampu memberi makan penduduk mereka. Jadi, uang yang kita cairkan akan mengalir kepada para petani kita,” kata Trump seperti dilansir Al Jazeera.

Baca juga:  Pemerintah Aceh Raih Opini WTP ke-11 Berturut-turut dari BPK RI

Iran Bantah Klaim Trump Soal Dana Dipakai Beli Produk AS

Iran langsung membantah klaim Trump tersebut, dengan Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, seperti dilansir kantor berita Tasnim, menegaskan bahwa Teheran “tidak berkewajiban untuk membeli” produk pertanian dari AS berdasarkan perjanjian yang ada.

Hemmati mengatakan bahwa perjanjian AS-Iran mengenai masalah ini menyatakan jika dana US$ 6 miliar pertama dapat digunakan untuk membeli “barang kebutuhan pokok dan obat-obatan”.

“Jika harga dan kualitas input Amerika lebih sesuai dibandingkan negara-negara lainnya, kami tidak keberatan untuk membeli dari negara tersebut,” ucapnya.

Dia menambahkan bahwa sisa dana US$ 6 miliar itu “tidak harus dihabiskan untuk barang kebutuhan pokok, tetapi Iran juga dapat membeli barang-barang lainnya yang tidak dikenai sanksi”. []

Berita Populer

Berita Terkait