KOTA JANTHO – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Aceh Besar kembali menggelar Pelatihan Kerajinan Batik Lanjutan sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat daya saing produk batik unggulan daerah kegiatan ini yang berlangsung di Aula Dekranasda Aceh Besar, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Dekranasda Aceh Besar dalam mengembangkan Batik Malaka sebagai identitas budaya sekaligus produk unggulan ekonomi kreatif daerah. Pelatihan yang berlangsung selama 10 hari itu diikuti oleh tujuh peserta dan dibimbing langsung oleh perajin batik berpengalaman asal Yogyakarta yang telah meraih penghargaan One Village One Product (OVOP), sehingga diharapkan mampu meningkatkan keterampilan serta kualitas produksi batik para peserta.
Wakil Ketua Dekranasda Aceh Besar, Hj. Nuril Fazli, S.Ag., mengatakan bahwa kerajinan batik memiliki potensi besar sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif yang mampu membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjadi produk unggulan daerah yang bernilai ekonomi tinggi.
“Batik bukan hanya sebuah karya seni, tetapi juga merupakan warisan budaya yang memiliki nilai ekonomi. Karena itu, Batik Malaka harus terus dikembangkan dengan mengangkat kekayaan budaya dan kearifan lokal Aceh Besar sehingga memiliki ciri khas yang kuat dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk mengikuti pelatihan dengan penuh kesungguhan agar mampu meningkatkan kualitas, kreativitas, dan inovasi dalam menghasilkan produk batik. Menurutnya, hasil karya peserta nantinya akan dipamerkan pada akhir kegiatan sebagai bentuk apresiasi sekaligus sarana evaluasi perkembangan keterampilan para perajin.
“Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar sebanyak mungkin dari para instruktur. Kami berharap pelatihan ini mampu melahirkan perajin-perajin batik yang terampil dan produktif sehingga Batik Malaka semakin dikenal dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh Besar,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Harian Dekranasda Aceh Besar, Drs. Sulaimi, M.Si yang juga Kadis Kopukmdag Aceh Besar menjelaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan lanjutan dari program magang dan studi tiru yang telah dilaksanakan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada akhir tahun 2025.
Setelah memperoleh dasar-dasar teknik membatik, khususnya teknik cap dan pewarnaan, para perajin kini kembali mendapatkan pendampingan langsung dari instruktur berpengalaman untuk memperdalam keterampilan dan mempelajari teknik lanjutan.
Menurut Sulaimi, Showroom Batik Kota Malaka yang telah lama dibangun kini mulai menunjukkan perkembangan positif dengan mulai memproduksi kain batik. Meski masih menghadapi keterbatasan tenaga kerja, pelatihan tahap awal telah melibatkan tujuh peserta sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor batik.
“Ke depan, kami berharap showroom ini dapat menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan batik di Aceh Besar. Kami juga ingin melibatkan siswa-siswa SMK melalui program magang agar lahir generasi muda yang memiliki keterampilan membatik dan mampu melestarikan warisan budaya daerah,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan industri batik lokal membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari DPRK Aceh Besar, Dinas Pendidikan, ISBI Aceh, hingga Kementerian Hukum terkait aspek legalitas produk. Sinergi lintas sektor tersebut dinilai penting untuk memperkuat keberlanjutan industri batik yang masih menghadapi keterbatasan sumber daya dan anggaran.
“Saat ini Showroom Batik Kota Malaka menjadi salah satu showroom batik yang masih aktif di Aceh. Dengan dukungan seluruh pihak, kami optimistis showroom ini dapat terus berkembang, membuka peluang kerja baru, serta meningkatkan kualitas dan daya saing Batik Malaka sebagai produk unggulan Kabupaten Aceh Besar,” pungkasnya. []



