JAKARTA – Menjaga kesehatan pencernaan balita membutuhkan asupan nutrisi yang tepat setiap hari. Salah satu hal yang perlu dipahami orangtua adalah perbedaan antara prebiotik dan probiotik, dua komponen yang sama-sama berperan penting dalam menjaga kesehatan usus anak.
Meski sering disebut bersamaan dan terdengar mirip, prebiotik dan probiotik memiliki fungsi biologis yang berbeda serta bekerja di bagian saluran pencernaan yang tidak sama.
“Masih banyak yang enggak tahu bedanya antara prebiotik dan juga probiotik. Bahkan banyak yang menganggap keduanya sama. Padahal ini sesuatu yang sangat berbeda,” ujar dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, M.Kes dalam acara Digestion Expert Lab di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Prebiotik, Makanan bagi Bakteri Baik
Prebiotik bukanlah bakteri atau mikroorganisme hidup, melainkan zat yang berfungsi sebagai sumber makanan bagi bakteri baik di dalam usus.

Bentuk prebiotik yang paling mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah serat yang terkandung dalam buah-buahan, sayuran, dan berbagai bahan pangan nabati lainnya. Karena itu, konsumsi makanan berserat sangat dianjurkan untuk dimasukkan ke dalam menu harian balita.
Menurut dr. Miza, prebiotik memiliki karakteristik unik karena tidak dapat dicerna selama melewati sebagian besar saluran pencernaan. Zat ini baru diproses ketika mencapai usus besar.
“Prebiotik ini uniknya tidak bisa dicerna di bagian manapun di saluran pencernaan manusia kecuali di usus besar,” jelasnya.
Karena bekerja di usus besar, kekurangan asupan prebiotik umumnya akan berdampak langsung pada fungsi pembentukan dan pengeluaran feses. Gangguan yang paling sering muncul adalah masalah buang air besar, seperti sembelit atau perubahan konsistensi tinja.
“Kalau ada gangguan pada prebiotik, karena dia bekerja di usus besar yang berfungsi menyerap cairan, keluhan yang paling sering muncul adalah gangguan pada feses,” kata dr. Miza.
Probiotik, Bakteri Baik Penjaga Saluran Cerna
Berbeda dengan prebiotik, probiotik merupakan mikroorganisme hidup atau bakteri baik yang secara alami berada di dalam tubuh manusia. Bakteri ini berperan menjaga keseimbangan mikrobiota usus dan membantu sistem pencernaan bekerja secara optimal.
Dr. Miza menjelaskan bahwa terdapat banyak jenis probiotik dengan fungsi yang berbeda-beda. Setiap jenis atau strain memiliki tugas spesifik yang tidak dapat digantikan oleh strain lainnya.
“Mereka strain-specific. Probiotik A kerjanya hanya untuk fungsi A, probiotik B hanya untuk fungsi B. Jadi mereka tidak bisa menjadi solusi untuk semua masalah sekaligus,” ujarnya.
Untuk menjaga jumlah dan keseimbangan bakteri baik di dalam usus, anak tetap memerlukan asupan prebiotik atau serat secara rutin. Tanpa sumber makanan yang cukup, koloni bakteri baik dapat berkurang dan tidak bekerja secara maksimal.
Lactobacillus reuteri dan Perannya bagi Pencernaan Anak
Salah satu jenis probiotik yang banyak mendapat perhatian dalam dunia kesehatan anak adalah Lactobacillus reuteri atau L. reuteri.
Berbeda dengan prebiotik yang hanya bekerja di usus besar, bakteri ini memiliki area kerja yang jauh lebih luas. L. reuteri mampu beradaptasi dan menempel di berbagai bagian saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga usus.
“Lactobacillus reuteri bisa menempel di hampir seluruh saluran pencernaan manusia. Mulai dari mulut, esofagus, lambung, usus halus, hingga usus besar,” terang dr. Miza.
Karena dapat bekerja di berbagai bagian sistem pencernaan, L. reuteri dinilai efektif membantu mengatasi beragam gangguan pencernaan pada anak. Manfaatnya tidak hanya terkait diare, tetapi juga berbagai keluhan pada saluran cerna bagian atas maupun bawah.
Menurut dr. Miza, kombinasi antara asupan prebiotik yang cukup dan keberadaan probiotik yang seimbang merupakan salah satu kunci penting untuk menjaga kesehatan pencernaan anak sejak usia dini.[]



