Gema Tanah Rencong Tribute to Nyawoung Dimulai, Akan Berlangsung Hingga Besok

BANDA ACEH – Perhelatan musik etnik “Gema Tanah Rencong: Harmoni Etnik Aceh (Tribute to Nyawoung)” resmi dibuka di Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh, pada Minggu (24/5).

Acara yang berlangsung selama dua hari hingga Senin (25/5) ini digelar sebagai bentuk refleksi dan penghormatan terhadap perjalanan grup musik etnik legendaris Aceh, Nyawoung.

Kegiatan ini digelar oleh Komunitas Endatu Kreatif, sebuah komunitas yang berkomitmen untuk melakukan pelestarian dan pemajuan seni dan budaya di Aceh.

Pembukaan kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh, Piet Rusdi, Ketua Majelis Seniman Aceh, Chairiyan Ramli, Ketua Komunitas Endatu Kreatif, Rizqi Mubarak, dan para pengurus lainnya.

Hari pertama pembukaan kegiatan ini langsung dimulai dengan Festival Musik Etnik Aceh yang menampilkan 13 grup musik.

Setiap grup membawa warna khas masing-masing, wajib membawakan salah satu dari 10 lagu Nyawoung, dan memperlihatkan kekayaan instrumen tradisional yang berpadu dengan sentuhan modern. Suasana festival terasa hangat, penuh energi, dan menjadi ruang pertemuan antara generasi muda dengan para maestro musik etnik.

Selain itu, pada hari kedua, Senin 25 Mei akan digelar pula Seminar Musik Etnik Kolaborasi yang menargetkan 150 peserta dengan narasumber Moritza Thaher, Jauhari Samalanga, dan Joel Kande.

Seminar ini menjadi forum diskusi tentang bagaimana musik tradisi dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas. Para peserta akan diajak untuk melihat peluang kolaborasi lintas disiplin seni, sekaligus memperkuat posisi musik etnik Aceh di panggung nasional.

Baca juga:  Kak Na: TP Posyandu Aceh Dukung Upaya Kemenkes Capai Target Cakupan Vaksinasi dan IDL

Malam Tribute to Nyawoung

Puncak acara yaitu malam pertunjukan Tribute to Nyawoung akan berlangsung pada Senin 25 Mei mulai pukul 20.00 WIB hingga selesai. Sebanyak sembilan musisi lintas generasi Aceh akan membawakan lagu-lagu Nyawoung yang pernah dirilis pada tahun 2000.

Lagu-lagu tersebut dianggap sebagai tonggak penting dalam perjalanan musik etnik Aceh, dan malam itu akan menjadi momentum nostalgia sekaligus penghormatan terhadap karya yang telah menginspirasi banyak orang.

Ketua Komunitas Endatu Kreatif, Rizqi Mubarak, dalam sambutan saat pembukaan Gema Tanah Rencong: Harmoni Etnik Aceh (Tribute to Nyawoung) menyampaikan bahwa komunitas yang berdiri sejak 2022 ini berkomitmen penuh pada pelestarian budaya dan seni Aceh.

Dia menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari kategori Pemberdayagunaan Ruang Publik dalam Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

“Kami mengajak para musisi dan seniman Aceh untuk ikut serta dalam program ini. Kementerian Kebudayaan membuka peluang bagi perorangan maupun komunitas untuk mengelola dana kebudayaan melalui pengkaryaan, pertunjukan, dan pendokumentasian demi pelestarian serta pemajuan kebudayaan di daerah masing-masing,” ujar Rizqi Mubarak.

Terkait kegiatan ini yang mengambil tema besar Tribute to Nyawoung, Rizqi menjelaskan bahwa Nyawoung adalah inspirasi banyak musisi etnik di Aceh dalam berkarya. “Kami kebetulan di komunitas ini tergabung dalam satu rasa yang sama, kita sama-sama berkiblat kepada Nyawoung dengan karya-karya terbaik mereka yang menginspirasi banyak musisis Aceh saat ini,” ujarnya.

Baca juga:  Ketua MPU Aceh Dukung Program Beut Kitab Bak Sikula yang Dijalankan Pemerintah Aceh Besar

Terakhir, Rizqi menyampaikan terima kasih kepada semua sponsor yang telah mendukung penuh kegiatan tersebut. “Semoga kegiatan ini menjadi wadah bagi kita bersama, dan memantik kita semua untuk terus melakukan pelestarian dan pemajuan kebudayaan di Aceh,” ujarnya.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Aceh, Piet Rusdi. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam memperkuat identitas budaya. Piet Rusdi mengapresiai kegiatan tersebut, karena Endatu Kreatif berhasil mempertemukan seniman lintas genarasi dengan tujuan yang sama.

“Kami melihat niat baik dari Endatu Kreatif sebagai pekerja seni yang membawa beban moral untuk melestarikan budaya. Kolaborasi lintas generasi dalam festival ini menjadi ruang inspirasi, bagaimana musik tradisi dan modern bisa saling menguatkan identitas,” katanya.

Piet juga mengatakan, Dana Indonesiana Raya dari Kementerian Kebudayaan yang diperoleh oleh Komunitas Endatu Kreatif merupakan dana pemajuan kebudayaan yang bisa diperoleh siapapun.

“Ini adalah peluang besar bagi seniman dan pelaku kebudayaan di seluruh Indonesia. Yang terpenting adalah keberlanjutan, sehingga ide dan gagasan bisa terus hidup,” kata Piet Rusdi.

Gema Tanah Rencong Tribute to Nyawoung bukan sekadar festival musik, melainkan sebuah gerakan budaya. Kehadiran musisi lintas generasi, seminar kolaborasi, dan dukungan dari pemerintah melalui Dana Abadi Kebudayaan menunjukkan bahwa musik etnik Aceh memiliki ruang untuk terus berkembang. Harapannya, kegiatan ini mampu menginspirasi generasi muda Aceh agar tetap mencintai tradisi, sekaligus berani berinovasi dalam karya seni.[]

Berita Populer

Berita Terkait