5 Tips Makan Daging Kurban agar Terhindar dari Risiko Stroke

JAKARTA – Iduladha identik dengan tradisi mengolah dan menyantap daging kurban bersama keluarga. Namun, konsumsi daging merah secara berlebihan tetap perlu diwaspadai, terutama bagi penderita hipertensi, diabetes, penyakit jantung, Stroke, maupun mereka yang memiliki riwayat kolesterol tinggi.

Dokter spesialis neurologi Heri Munajib mengatakan masyarakat tetap boleh mengonsumsi daging saat Iduladha selama porsinya tidak berlebihan dan cara pengolahannya tepat.

Idul Adha 1447 H

“Penderita dengan faktor risiko tersebut sebenarnya boleh mengonsumsi daging saat Iduladha, asalkan porsinya tidak berlebihan dan cara pengolahannya tepat,” kata Heri, dikutip dari NU Online, Selasa, 26 Mei 2026.

Menurut Heri, sejumlah studi menunjukkan kasus Stroke dapat meningkat setelah Iduladha akibat konsumsi daging secara berlebihan. Risiko itu dipicu oleh tingginya asupan lemak jenuh, garam pada olahan daging seperti gulai dan rendang, serta konsumsi jeroan.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan kolesterol, menaikkan tekanan darah secara cepat, dan mengganggu aliran darah pada pembuluh darah.

Berikut sejumlah tips aman mengonsumsi daging kurban agar terhindar dari risiko Stroke:

1. Batasi porsi daging

Heri menyarankan konsumsi daging dibatasi sekitar 1-3 kali makan per pekan dengan porsi 56-85 gram setiap kali makan.

“Sebagai gambaran, 50 gram daging kira-kira seukuran satu potong kecil atau setengah telapak tangan. Sementara bagi orang sehat, batas aman konsumsi daging merah sekitar 50-100 gram per hari,” jelasnya.

Ia menambahkan, penderita hipertensi, kolesterol tinggi, riwayat Stroke, atau penyakit jantung perlu lebih membatasi konsumsi daging merah maupun makanan olahan berbahan daging.

Baca juga:  Waka BGN Siap Bersihkan Praktik Ilegal Jual Beli Titik SPPG, Koordinasi dengan Polri Diperkuat

2. Pilih bagian daging rendah lemak

Pemilihan bagian daging juga penting untuk mengurangi asupan lemak jenuh. Heri menyarankan masyarakat memilih bagian rendah lemak seperti sirloin, paha belakang (round), serta pinggang (loin) pada daging sapi.

“Bagian ini mengandung lemak lebih sedikit dibandingkan bagian lainnya. Selain itu, batasi konsumsi jeroan seperti hati atau usus,” ujar Heri yang juga Ketua Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, jeroan umumnya memiliki kandungan kolesterol lebih tinggi dibandingkan daging tanpa lemak.

3. Kurangi santan, garam, dan bumbu berlebih

Cara mengolah daging turut menentukan dampaknya bagi kesehatan. Heri menyarankan metode memasak yang lebih sehat seperti merebus, memanggang, atau mengukus.

Penggunaan santan, garam, dan bumbu berlebihan sebaiknya dikurangi karena dapat meningkatkan tekanan darah.

“Mengontrol konsumsi garam sangat penting bagi penderita hipertensi, stroke, dan penyakit jantung. Kementerian Kesehatan menyarankan batas konsumsi natrium tidak lebih dari 2.000 miligram atau sekitar 5 gram per hari agar tekanan darah tetap stabil,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu sering mengonsumsi makanan olahan dan makanan cepat saji yang umumnya mengandung garam tinggi.

4. Imbangi dengan sayur dan buah

Konsumsi daging perlu diimbangi dengan sayur dan buah agar tubuh mendapat asupan serat yang cukup. Menurut Heri, serat membantu mengontrol kolesterol serta mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Baca juga:  Menkeu Bongkar Dugaan Tiga Raksasa Sawit Terlibat Praktik Manipulasi Ekspor CPO, Ini Daftarnya

Buah dan sayur juga mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan yang berperan menjaga kesehatan pembuluh darah. Selain itu, masyarakat dapat memilih sumber protein rendah lemak seperti tempe, tahu, putih telur, kacang-kacangan, dan yogurt.

Heri juga menyarankan konsumsi makanan kaya asam lemak omega-3 seperti salmon, makarel, dan sarden karena dapat membantu mengurangi peradangan dan menekan risiko Stroke.

5. Cukupi air putih dan tetap aktif bergerak

Asupan air putih yang cukup juga perlu diperhatikan, terutama saat mengonsumsi makanan tinggi garam dan bumbu.

Heri mengimbau masyarakat tetap aktif bergerak dengan olahraga ringan setidaknya 30 menit per hari agar metabolisme tubuh tetap optimal.

Selain menjaga pola makan dan aktivitas fisik, masyarakat juga perlu mengenali tanda awal Stroke melalui metode BEFAST, yakni Balance, Eyes, Face, Arms, Speech, dan Time.

Gejala stroke dapat berupa kehilangan keseimbangan mendadak, pusing, penglihatan kabur atau ganda, wajah tidak simetris, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, hingga gangguan bicara.

“Jika mengalami gejala tersebut, segera cari pertolongan medis. Bagi dokter spesialis neurologi, waktu adalah otak,” tegasnya.

Heri menekankan, penderita dengan gejala BEFAST perlu segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat agar mendapat penanganan cepat dan tepat. Penanganan dini dapat membantu menurunkan risiko kecacatan dan kematian akibat Stroke.[]

Berita Populer

Berita Terkait