19 Kursi Partai Arab Israel Jadi Kunci Koalisi untuk Lengserkan Netanyahu

TEL AVIV – Pemimpin partai dengan mayoritas anggota Arab terbesar di parlemen Israel mengatakan, sudah saatnya kubu oposisi menerima “realitas politik” dan menyatukan kekuatan untuk melengserkan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.

Ketua Joint List, Yousef Jabareen, seperti dilansir AFP, Selasa (3/11/2026), menyoroti hasil pemilu legislatif pada 27 Oktober lalu yang tidak memberikan kemenangan mutlak kepada kubu politik mana pun.

Koalisi Netanyahu meraih total 53 kursi dari 120 kursi yang diperebutkan di parlemen Israel atau Knesset. Sementara itu, koalisi oposisi memperoleh 48 kursi. Kedua kubu tersebut masih belum mencapai ambang batas mayoritas 61 kursi untuk mengendalikan parlemen dan membentuk pemerintahan baru.

Namun, Joint List dan partai Arab Israel lainnya, Ra’am, masing-masing berhasil mengamankan 11 dan 8 kursi. Dengan total 19 kursi, kedua partai tersebut berpotensi membantu kubu oposisi mencapai ambang batas mayoritas jika bersedia bergabung dalam koalisi.

Jabareen mengatakan kepada AFP bahwa perolehan suara partai-partai Arab dalam pemilu tahun ini “merupakan hal yang menghalangi Netanyahu untuk merayakan kelanjutan pemerintahannya”.

Baca juga:  Waka Komisi III DPR Apresiasi Kapolri Evaluasi Anggota Terkait Ponpes Sukoharjo

Dia menyebut koalisi pemerintahan Netanyahu sebagai “pemerintahan sayap kanan ekstrem dengan segala bahaya yang ditimbulkannya”.

Jabareen juga mengkritik sejumlah pihak di kubu oposisi yang secara terbuka menolak pembentukan koalisi dengan partai-partai Arab Israel. Salah satunya adalah Partai Yisrael Beytenu yang dipimpin mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Avigdor Lieberman.

“Seperti semua orang lainnya di kancah politik, Lieberman harus menghadapi realitas politik dan perolehan kursi di Knesset,” tegas Jabareen.

“Melihat komposisi parlemen saat ini, pemerintahan Netanyahu tidak dapat digantikan tanpa koordinasi dengan Joint List,” ujarnya dalam wawancara di Nazaret, wilayah yang menjadi basis komunitas Arab sekaligus tempat masa kecil Yesus Kristus.

Warga Arab Israel mencakup sekitar 20 persen dari total populasi negara tersebut. Mereka merupakan keturunan warga Palestina yang tetap tinggal setelah berdirinya Israel pada 1948.

Kubu Oposisi Ragukan Koalisi dengan Partai Arab Israel

Baca juga:  Polri Tetapkan Tiga Tersangka dalam Kasus Dugaan Penyadapan Presiden Prabowo

Pemimpin kubu oposisi, Gadi Eisenkot, sebelumnya menyatakan keraguan terhadap pembentukan pemerintahan koalisi yang melibatkan partai-partai Arab Israel. Meski demikian, dia tidak secara terbuka menutup kemungkinan tersebut.

Eisenkot, mantan kepala militer Israel, merupakan Ketua Partai Yashar yang memperoleh kursi terbanyak kedua di parlemen, yakni 21 kursi. Partai tersebut berada di bawah Likud yang dipimpin Netanyahu dengan perolehan 27 kursi.

Jabareen mengatakan dirinya telah bertemu dengan Ketua Partai Ra’am, Mansour Abbas, pada Senin (2/11/2026). Dia juga dijadwalkan bertemu Yair Golan dari Partai Demokrat, satu-satunya tokoh senior sayap kiri di kubu oposisi yang secara terbuka mendorong pembentukan koalisi dengan partai-partai Arab.

“Lanskap politik saat ini sudah jelas: partai-partai oposisi tidak memiliki mayoritas untuk mengesahkan undang-undang tanpa Joint List. Oleh karena itu, kami menyatakan kesediaan untuk mengulurkan tangan guna mendukung undang-undang dan keputusan yang sejalan dengan proyek dan program politik kami,” ucapnya.[]

Berita Populer

Berita Terkait