Illiza Buka Festival Kenduri Laot dan Kenduri Anak Nelayan Aceh di Ulee Lheue

BANDA ACEH – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal secara resmi membuka Festival Kenduri Laot dan Kenduri Anak Nelayan Aceh di Dermaga Panglima Laot Lhok Kuala Cangkoi, Ulee Lheue, Rabu (22/7/2026).

Kenduri laot tahun ini mengusung tema “Merawat Adat, Mensyukuri Nikmat Laut, dan Menguatkan Persaudaraan Pesisir”. Rangkaian acaranya antara lain zikir dan doa, penampilan tarian tradisional seperti Rapai Geleng, Tarek Pukat, dan Likok Pulo, santunan anak yatim, serta mengajak anak yatim naik perahu hias untuk memperkenalkan Lhok Kuala Cangkoi.

Di lokasi acara juga dilaksanakan pameran foto, pemutaran film, dan bazar UMKM, serta pengumuman pemenang lomba foto. Tak ketinggalan, menjelang siang ada jamuan makan/kenduri bersama dengan menu utama Kuah Beulangong.

Dalam sambutannya, Illiza menyampaikan apresiasi kepada Majelis Adat Aceh (MAA) Banda Aceh, Yayasan Pangkai Meureunoe Aneuk Nelayan (YPMAN), Panglima Laot, panitia, nelayan, pelaku UMKM, dan seluruh masyarakat pesisir.

“Kenduri Laot adalah ungkapan syukur kepada Allah atas rezeki laut, doa bersama untuk keselamatan nelayan, sekaligus pengingat bahwa laut adalah amanah yang harus kita jaga bersama,” ujar Illiza.

Baca juga:  Kapolda Aceh Terima Audiensi Kanwil Ditjen Imigrasi dan Ditjen Pemasyarakatan Aceh, Perkuat Sinergi Antarinstansi

Illiza menegaskan, tradisi ini mengandung empat nilai penting, yaitu keislaman, sosial, budaya, dan lingkungan. Menurutnya, melalui Hukom Adat Laot, masyarakat diajarkan memanfaatkan laut dengan tanggung jawab menjaga kelestariannya.

Wali kota juga memaparkan potensi kelautan Banda Aceh, di mana saat ini ada 949 nelayan dengan 604 unit kapal, dan produksi hasil tangkapan mencapai 20.535,23 ton/tahun. Pemko juga mencatat kebutuhan BBM 4.803 KL/tahun dan telah tersedia tujuh unit cold storage untuk menunjang aktivitas melaut.

Untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, Pemko Banda Aceh mendorong pengolahan hasil laut dan perluasan pemasaran lewat aplikasi berbasis digital, salah satunya “Usaha Teman”. Illiza juga mengajak seluruh nelayan memiliki Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (Kusuka) agar semakin mudah mendapat bantuan, pelatihan, dan program pemberdayaan.

Di akhir sambutan, Illiza mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa menjaga laut dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi pemakaian kantong plastik, dan berpedoman pada Hukom Adat Laot warisan indatu.

Baca juga:  BSI Aceh Bersama OJK dan FKIJK Gelar GENCARKAN, Perkuat Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah di Aceh

“Mari kita manfaatkan sumber daya laut secara bijaksana, karena laut yang kita jaga hari ini akan menjadi sumber kehidupan bagi anak cucu kita di masa yang akan datang,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua MAA Banda Aceh, Tgk Ameer Hamzah, menyebut Khanduri Laot sebagai tradisi turun-temurun masyarakat Aceh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.

“Mensyukuri nikmat Allah ini secara turun-temurun telah diwujudkan dalam masyarakat Aceh melalui berbagai tradisi adat, seperti para nelayan cara bersyukurnya dengan khanduri laut dan para petani dengan khanduri blang dan kenduri glee,” katanya.

Kata Ameer, tradisi-tradisi tersebut telah disesuaikan dengan ajaran Islam sehingga tidak mengandung unsur kemusyrikan. Ia pun menegaskan bahwa adat dan syariat harus berjalan beriringan.

“Selama suatu tradisi tidak bertentangan dengan syariat Islam, adat dapat terus dilestarikan,” ujarnya.[]

Berita Populer

Berita Terkait