Kamis, Februari 12, 2026

‎Update Banjir–Longsor Aceh: 16 Kabupaten/Kota Terdampak, 20.759 Warga Mengungsi dan Satu Orang Hilang

BANDA ACEH – Bencana banjir dan longsor di Aceh terus meluas sejak 18–27 November 2025. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan 16 dari 23 kabupaten/kota terdampak, dengan total 20.759 jiwa mengungsi dan satu orang hilang terseret arus banjir bandang di Kabupaten Bener Meriah.

‎Wilayah terdampak mencakup Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan.

‎Plt Kepala Pelaksana BPBA, Fadmi Ridwan, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan di lapangan serta berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota.

“Curah hujan tinggi dan angin kencang masih memicu banjir dan longsor di berbagai wilayah. Kami memastikan penanganan darurat berjalan optimal,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).

‎Korban Hilang dan Longsor di Bener Meriah

‎Di Kabupaten Bener Meriah, banjir bandang di Kecamatan Wih Pesam mengakibatkan satu warga hilang terseret arus. Longsor juga terjadi di Desa Pantai Kemuning, Kecamatan Timang Gajah, pada Rabu, 19 November, sekitar pukul 16.30 WIB.

‎Sebanyak sepuluh kecamatan terendam banjir, mulai dari Bandar, Bener Kelipah, Bukit, Gajah Putih, Mesidah, Permata, Pintu Rime Gayo, Syiah Utama, Timang Gajah, hingga Wih Pesam.

‎Banjir Meluas di Aceh Besar dan Pidie

‎Di Aceh Besar, banjir sejak 27 November merendam 23 kecamatan dengan ketinggian 30–50 sentimeter, memaksa 36 kepala keluarga (KK) mengungsi.

‎Pidie menjadi salah satu daerah dengan dampak terbesar, yakni 2.979 KK atau 12.853 jiwa terdampak. Sebanyak 2.081 KK atau 7.585 jiwa harus mengungsi karena air tidak kunjung surut.

‎“Debit air masih tinggi dan hujan belum berhenti. Kami terus siaga,” kata Fadmi.

‎Pidie Jaya, Bireuen, dan Lhokseumawe Belum Surut

‎Di Pidie Jaya, tercatat 6.039 KK atau 22.190 jiwa terdampak banjir dengan ketinggian 30–100 sentimeter. Sementara itu, Bireuen melaporkan 956 KK atau 2.272 jiwa terdampak. Hingga kini, banjir di kedua daerah tersebut masih belum surut.

‎Di Lhokseumawe, banjir dan longsor terjadi sejak Rabu, 26 November 2025, akibat hujan intensitas tinggi sejak enam hari sebelumnya. Empat kecamatan terdampak, meliputi Banda Sakti, Blang Mangat, Muara Dua dengan 100 KK terdampak, serta Muara Satu.

‎Ribuan Jiwa Terdampak di Aceh Timur dan Langsa

‎Cuaca ekstrem sejak 22 November juga memicu banjir di Aceh Timur. Tercatat 7.972 KK atau 29.706 jiwa terdampak dan 920 KK atau 2.456 jiwa mengungsi. Lima rumah rusak dengan kategori berat, sedang, dan ringan. Air belum surut hingga laporan terakhir.

‎Di Kota Langsa, banjir genangan merendam 110 rumah di Desa Paya Bujok Seulemak. Beberapa kecamatan lainnya seperti Langsa Barat, Langsa Kota, Langsa Lama, dan Langsa Timur melaporkan 150 KK atau 420 jiwa terdampak.

‎Aceh Barat, Subulussalam, Gayo Lues, dan Singkil Masih Tergenang

‎Aceh Barat mencatat banjir setinggi 130 sentimeter di 12 kecamatan, berdampak pada 183 KK atau 265 jiwa. Air belum surut.

‎Subulussalam melaporkan 1.981 KK atau 9.291 jiwa terdampak banjir di lima kecamatan.

‎Di Gayo Lues, banjir sejak 18 November merendam 11 kecamatan, dan hingga kini air belum surut.

‎Aceh Singkil mencatat 6.579 KK atau 25.827 jiwa terdampak akibat luapan Sungai Lae Cinedang dengan ketinggian air 50–80 sentimeter.

‎Aceh Utara dan Aceh Selatan Terus Siaga

‎Erosi tebing sungai dan hujan terus-menerus menyebabkan banjir setinggi 30–80 sentimeter di Aceh Utara. Sebanyak 2.028 KK atau 3.690 jiwa terdampak, dan 438 KK atau 1.444 jiwa mengungsi.

‎Di Aceh Selatan, banjir sejak 22 November merendam 18 kecamatan, berdampak pada 858 KK atau 3.106 jiwa. Air mulai berangsur surut.

‎Delapan Daerah Tetapkan Status Darurat

‎Hingga kini, delapan daerah telah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi, yakni Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Singkil, Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh Tengah, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat.

‎“Penetapan status darurat diperlukan untuk percepatan evakuasi dan mobilisasi logistik,” kata Fadmi.

‎BPBA mengimbau pemerintah daerah untuk mengaktifkan posko siaga darurat, melakukan evakuasi, menyiapkan logistik dan layanan kesehatan darurat, memantau data cuaca dan debit sungai, serta melakukan kaji cepat penetapan status tanggap darurat.

‎“Keselamatan warga adalah prioritas. Kami meminta masyarakat terus memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD,” ujar Fadmi.

‎BPBA juga menekankan pentingnya mitigasi sederhana seperti membersihkan saluran air, menghindari lereng saat hujan, dan mengikuti arahan petugas.

‎Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri melalui surat Nomor 300.2.8/9333/SJ tanggal 18 November 2025 juga menginstruksikan seluruh bupati dan wali kota di Aceh meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. []

Berita Populer

Berita Terkait