JAKARTA – Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Muda Shahram Irani, menanggapi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait rencana blokade Selat Hormuz sebagai pernyataan yang “konyol dan menggelikan”. Ia menegaskan bahwa militer Iran terus memantau secara ketat setiap pergerakan armada AS di kawasan tersebut.
“Prajurit Angkatan Laut Republik Islam Iran melacak dan memantau semua pergerakan militer AS yang agresif di wilayah ini,” ujar Irani, seperti dikutip dari Press TV. Ia juga menyebut ancaman blokade tersebut muncul setelah “kekalahan memalukan” yang dialami militer AS.
Trump sebelumnya mengumumkan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokir Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Kebijakan itu disampaikan setelah perundingan tingkat tinggi antara Teheran dan Washington di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Selain itu, AS juga memperingatkan akan menghentikan kapal-kapal yang diketahui membayar bea masuk kepada Iran di perairan internasional.
Sejak konflik dengan AS dan Israel meningkat pada akhir Februari, Iran telah memberlakukan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz. Otoritas Iran hanya mengizinkan kapal dari negara-negara sahabat untuk melintas, sementara kapal yang berafiliasi dengan negara yang dianggap sebagai agresor dibatasi.
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan menegaskan bahwa kondisi Selat Hormuz “tidak akan pernah kembali seperti semula”, khususnya bagi AS dan Israel. Parlemen Iran juga mengusulkan aturan baru yang mewajibkan pembayaran biaya transit menggunakan mata uang nasional serta melarang kapal AS dan Israel melintas.
Di sisi lain, militer Iran dilaporkan telah meluncurkan serangan balistik, hipersonik, dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Asia Barat serta posisi Israel. Pihak AS sendiri mengakui adanya korban jiwa dan kerugian peralatan dalam konflik tersebut.
Ketegangan ini meningkat hanya beberapa jam setelah negosiasi maraton selama 20 jam antara Iran dan AS di Islamabad berakhir tanpa terobosan. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa keputusan kini berada di tangan Iran untuk menerima tawaran terakhir dari Washington.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai pihak AS justru menunjukkan sikap “maksimalisme, perubahan target, dan ancaman blokade” saat kesepakatan hampir tercapai. Ia juga menyindir bahwa Washington tidak belajar dari kegagalan konfrontasi sebelumnya.
Iran menegaskan tidak akan membiarkan AS maupun Israel menentukan aturan penggunaan Selat Hormuz, yang berada dalam wilayah kedaulatan mereka. []


