Rabu, Februari 4, 2026

Tembus 6,7 Persen, BI Catat Lonjakan Inflasi Pascabencana

BANDA ACEH – Bank Indonesia (BI) Aceh mencatat inflasi Provinsi Aceh pada Desember 2025 menembus 6,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). Lonjakan tersebut terjadi pascabencana hidrometeorologi yang mengganggu jalur distribusi dan pasokan sejumlah komoditas utama.

Kepala Perwakilan BI Aceh, Agus Chusaini, mengatakan kenaikan inflasi dipicu terganggunya distribusi barang, khususnya bahan pangan, akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.

“Tekanan inflasi meningkat karena pasokan terganggu pascabencana, sehingga mendorong kenaikan harga berbagai komoditas,” kata Agus di Banda Aceh, Rabu (21/1/2026).

Berdasarkan data BI yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Aceh pada November 2025 masih berada di kisaran 3,58 persen (yoy) sebelum melonjak tajam pada Desember 2025. Angka inflasi Desember tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata inflasi Desember dalam tiga tahun terakhir.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan antara lain beras sebesar 1,06 persen, emas perhiasan 0,79 persen, cabai merah 0,38 persen, ikan tongkol 0,35 persen, dan ikan dencis 0,31 persen.

Meski inflasi meningkat tajam, BI Aceh menilai tekanan harga tersebut bersifat sementara. Seiring perbaikan infrastruktur dan normalisasi distribusi, inflasi diperkirakan akan kembali melandai.

“BI bersama pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah terus memperkuat koordinasi untuk menjaga pasokan dan kelancaran distribusi, agar inflasi tetap terkendali,” ujar Agus. []

Berita Populer

Berita Terkait