ACEH BESAR – Upaya meningkatkan minat baca di kalangan anak-anak terus dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif. Salah satunya melalui kegiatan “Studi Literasi di Perpustakaan Kecamatan Montasik” yang berlangsung di Perpustakaan Kecamatan Montasik, Jumat (8/5/2026).
Kegiatan yang digelar oleh pengelola perpustakaan di bawah naungan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Aceh Besar itu melibatkan siswa-siswi SD Negeri Montasik sebagai peserta utama.
Sebanyak 10 siswa dan siswi hadir didampingi seorang guru pendamping.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan perpustakaan sebagai ruang belajar yang menyenangkan dan interaktif. Selain mengenalkan koleksi buku dan layanan perpustakaan, kegiatan tersebut juga bertujuan menumbuhkan budaya literasi serta melatih kreativitas anak melalui pembuatan karya berbasis bacaan.
Pengelola perpustakaan, Nazirah, saat membuka kegiatan menyampaikan pentingnya membangun kebiasaan membaca sejak usia dini. Menurutnya, perpustakaan harus menjadi tempat yang dekat dengan anak-anak dan mampu memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari ruang kelas pada umumnya.
“Anak-anak perlu merasakan bahwa membaca bukan kegiatan yang membosankan. Dengan suasana yang nyaman dan kegiatan kreatif, mereka akan lebih mudah tertarik untuk datang ke perpustakaan dan mengenal buku,” ujar Nazirah.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan laporan singkat mengenai rangkaian acara serta sesi materi dan diskusi tentang pentingnya literasi di era digital. Dalam sesi tersebut, para siswa dikenalkan pada berbagai jenis buku bacaan dan diajak memahami manfaat membaca dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana semakin hidup ketika peserta mengikuti sesi ice breaking yang dipandu pengelola perpustakaan. Gelak tawa dan antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Pendekatan yang santai namun edukatif membuat siswa lebih aktif berinteraksi dan berani menyampaikan pendapat.
Pada sesi inti, peserta diminta memilih buku yang tersedia di perpustakaan untuk dibaca dan dipahami. Setelah itu, mereka menyusun resume buku dan mengolah isi bacaan menjadi poster kreatif. Tidak hanya itu, para siswa juga diajak membuat video kreatif bertema literasi di lingkungan perpustakaan.
Seluruh karya tersebut nantinya akan dipublikasikan melalui akun Instagram @perpustakaan_kec.montasik sebagai bentuk apresiasi sekaligus media kampanye budaya membaca.
Muhammad Rafif, salah satu siswa yang mengikuti kegiatan, mengaku senang dapat belajar sambil berkarya di perpustakaan. Ia mengatakan kegiatan tersebut membuatnya lebih tertarik membaca buku dibanding hanya bermain gawai.
“Biasanya saya lebih sering bermain handphone setelah pulang sekolah, tapi hari ini saya jadi tahu kalau membaca buku juga menyenangkan. Apalagi kami bisa membuat poster dan video dari buku yang dibaca,” katanya.
Sementara itu, Mirandawati selaku guru pendamping menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan yang dinilai mampu memberikan pengalaman belajar baru bagi siswa. Menurutnya, kegiatan literasi berbasis praktik seperti ini penting untuk terus dilakukan agar anak-anak lebih dekat dengan buku.
“Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan seperti ini dapat menambah minat baca dan ilmu pengetahuan anak-anak. Mereka terlihat sangat antusias sejak awal hingga akhir kegiatan. Ini menjadi pengalaman belajar yang baik karena siswa tidak hanya membaca, tetapi juga belajar memahami isi buku dan menyampaikannya kembali secara kreatif,” ujarnya.
Penutupan kegiatan dilakukan oleh Jamalidiana selaku pengelola perpustakaan Kecamatan Montasik. Dalam penutupannya, ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun budaya literasi yang lebih kuat di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Menurut Jamalidiana, perpustakaan saat ini harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap menarik bagi generasi muda. Karena itu, penggabungan literasi dengan media kreatif seperti poster digital dan video dianggap menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan ketertarikan anak terhadap buku.
Kegiatan ini menghasilkan berbagai karya kreatif berupa resume buku, poster digital, dan video literasi yang dibuat langsung oleh peserta. Selain itu, kegiatan juga memberikan dampak positif lain seperti meningkatnya rasa percaya diri siswa, kemampuan memahami isi bacaan, keterampilan bekerja sama, serta keberanian menyampaikan ide di depan teman-temannya.
Secara lebih luas, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi tantangan rendahnya minat baca di tengah tingginya penggunaan gawai pada anak-anak. Fenomena anak yang menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan telepon genggam tanpa diimbangi aktivitas membaca menjadi perhatian banyak pihak dalam dunia pendidikan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rendahnya budaya membaca dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis dan pemahaman siswa terhadap informasi. Dalam sejumlah laporan pendidikan nasional, literasi disebut sebagai salah satu fondasi utama peningkatan kualitas sumber daya manusia. Anak yang terbiasa membaca sejak dini cenderung memiliki kemampuan bahasa, daya imajinasi, dan keterampilan komunikasi yang lebih baik.
Di sisi lain, penggunaan teknologi sebenarnya dapat diarahkan menjadi sarana pendukung literasi apabila dimanfaatkan secara tepat. Karena itu, kegiatan yang menggabungkan membaca buku dengan pembuatan konten kreatif dinilai relevan dengan karakter generasi muda saat ini. Anak-anak tidak hanya diajak membaca, tetapi juga belajar menyampaikan kembali isi bacaan melalui media yang dekat dengan kehidupan mereka.
Kegiatan Studi Literasi di Perpustakaan Kecamatan Montasik menjadi gambaran bahwa perpustakaan dapat berkembang menjadi ruang edukasi yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Dengan dukungan sekolah, guru, dan pengelola perpustakaan, budaya membaca di kalangan anak-anak diharapkan terus tumbuh dan menjadi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.[]


