Saat Bantuan Memicu Prasangka: Perspektif Psikologis Diskriminasi di Tengah Bencana

Oleh: M. Zahidi Ar Rizva dan Cut Silva Ramadhani

PEMBAGIAN bantuan banjir yang tidak merata memicu prasangka di tengah masyarakat. Warga mencurigai keluarga tertentu yang dekat dengan pemerintah mendapat perlakuan istimewa. Kekecewaan ini akhirnya meledak dalam aksi demonstrasi di Tamiang pada 12 Februari 2026.

Para pendemo menyoroti lambannya distribusi bantuan dari pemerintah daerah. Padahal, bantuan dari pemerintah pusat sudah cepat turun ke kabupaten. “Bantuan pusat cepat datang, tapi turun ke masyarakat lama sekali. Ini yang bikin kami curiga,” ujar salah seorang peserta aksi.

Di Desa, Bantuan Lebih Banyak ke Kerabat Geuchik

Bukan hanya di tingkat kabupaten, warga juga mengeluhkan hal serupa di tingkat desa. Menurut mereka, bantuan, terutama sembako dan logistik, lebih banyak mengalir kepada saudara atau kerabat kepala desa (geuchik).

“Setiap ada bantuan, yang duluan dapat selalu keluarga pak geuchik. Warga lain kadang tidak kebagian,” kata seorang warga.

Baca juga:  PSSI Perkuat Kualitas Pelatih melalui Program Coach Educator Modern

Akibatnya, keluarga kepala desa mulai dikucilkan di lingkungannya sendiri. Rasa iri dan curiga tumbuh di antara warga yang merasa belum tersentuh bantuan.

Pembagian Sembako Sering Berujung Keributan

Situasi memanas saat pembagian sembako di masa-masa genting. Warga yang sudah mengantre lama kecewa karena stok habis, sementara mereka melihat orang-orang yang dekat dengan kepala desa mendapat jatah tanpa antre.

“Kami dari subuh sudah di sana, tapi yang dapat duluan kenalannya pak geuchik. Akhirnya adu mulut, bahkan sempat adu fisik,” cerita seorang warga.

Konflik antarwarga pun tak terhindarkan. Kegaduhan hampir selalu mewarnai setiap kali ada pembagian bantuan.

Prasangka mengacu pada sebuah tipe khusus sikap yang pada umumnya bersifat negatif terhadap anggota kelompok sosial tertentu. Para ahli psikologi sosial meneliti bahwa prasangka sangat mudah menyebar dan memengaruhi perilaku manusia, baik pada tingkat individu maupun masyarakat luas.

Baca juga:  Alasan Pakistan Muncul Jadi Mediator Kunci dalam Negosiasi AS-Iran

Selain itu, diskriminasi mengacu pada tindakan negatif terhadap individu, yakni sikap yang diterjemahkan ke dalam bentuk perilaku. Diskriminasi merupakan manifestasi dari prasangka yang diarahkan kepada kelompok tertentu.

Oleh karena itu, prasangka memiliki dampak yang tidak kalah berat. Prasangka buruk masyarakat terhadap pemerintah dan aparatur desa kini menjadi persoalan baru pascabencana. Diskriminasi dalam penyaluran bantuan menimbulkan perpecahan sosial. Warga yang semula akur menjadi saling curiga.

Warga berharap ke depan penyaluran bantuan dilakukan secara lebih transparan. “Kami hanya minta keadilan. Bantuan jangan hanya untuk kenalan atau saudara. Semua warga korban banjir berhak mendapatkannya,” pungkas seorang tokoh masyarakat.

Penulis adalah Mahasiswa Psikologi, Fakultas Kedokteran USK

Berita Populer

Berita Terkait