Quran.com Copot Mishary Rashid sebagai Qari Default Diduga Terkait Komentar soal AS dan Iran

JAKARTA – Platform bacaan dan tilawah Al-Qur’an online terpopuler di dunia, Quran.com, menghapus suara Mishary Rashid Alafasy sebagai qari (pembaca) default di seluruh situsnya. Keputusan ini diambil menyusul kontroversi komentar politis Alafasy di media sosial X (Twitter) yang dianggap mendukung Amerika Serikat dalam ketegangan dengan Iran.

Menurut berbagai laporan sejak awal April 2026, perubahan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah unggahan Alafasy menjadi viral. Dalam postingannya, qari asal Kuwait itu menuliskan pernyataan yang dikaitkan dengan Gedung Putih: “الرئيس ترامب سيفتح أبواب الجحيم على إيران”, yang diterjemahkan sebagai “Presiden Trump akan membuka pintu neraka bagi Iran”.

Sejumlah sumber juga menyebutkan bahwa Alafasy menambahkan komentar lain yang menyebut Iran sebagai “negara agresor” yang mengancam negara-negara Teluk, serta menyatakan sikap “berdiri melawan agresor meski orang itu paling saleh sekalipun”. Pernyataan tersebut menuai kritik keras dari sebagian umat Muslim yang menilai hal itu sebagai bentuk dukungan terhadap potensi agresi militer AS-Israel terhadap Iran, yang juga merupakan negara Muslim.

Quran.com, yang digunakan jutaan orang di seluruh dunia untuk membaca dan mendengarkan Al-Qur’an, tidak mengeluarkan pernyataan resmi terkait alasan perubahan qari default. Namun, waktu perubahan yang relatif cepat membuat banyak pengguna dan pengamat mengaitkannya langsung dengan kontroversi tersebut.

Baca juga:  Patroli Satgas Damai Cartenz di Ilaga Berjalan Aman, Jalur Rawan Dipantau Intensif

Meski demikian, suara tilawah Mishary Rashid Alafasy masih tersedia di perpustakaan qari di platform tersebut, hanya saja tidak lagi menjadi pilihan otomatis saat pengguna memutar audio ayat Al-Qur’an. Sebelumnya, suara Alafasy yang lembut dan khas sering menjadi default di situs ini.

Reaksi di media sosial pun beragam. Sebagian pihak memuji langkah Quran.com sebagai “langkah prinsipil”, dengan alasan bahwa tilawah Al-Qur’an seharusnya tidak dikaitkan dengan figur yang dianggap memberikan “legitimasi agama” terhadap tindakan yang dinilai opresif. Di sisi lain, pendukung Alafasy berpendapat bahwa ia berhak menyampaikan pandangan pribadi, serta menilai Iran memang memiliki rekam jejak konflik dengan negara-negara Teluk.

Kontroversi ini juga mengingatkan pada riwayat Alafasy yang sebelumnya pernah dikritik karena dianggap dekat dengan sejumlah rezim di dunia Arab, termasuk sikapnya yang dinilai jarang menyoroti isu-isu sensitif seperti konflik di Palestina.

Mishary Rashid Alafasy (lahir 5 September 1976 di Kuwait) merupakan salah satu qari internasional paling terkenal. Ia dikenal karena suara yang merdu, tajwid yang kuat, serta rekaman tilawah yang tersebar luas di berbagai platform. Selain menjadi imam, ia juga aktif sebagai penceramah dan penyanyi nasyid. Jutaan Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, kerap mendengarkan tilawahnya dalam berbagai kesempatan.

Baca juga:  Dubes Iran Ajak Sunni-Syiah Bersatu Menentang Zionis Israel

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa figur publik di dunia Islam—terutama mereka yang memiliki pengaruh besar melalui tilawah—sering dihadapkan pada ekspektasi tinggi dari umat. Banyak yang berpendapat bahwa seorang qari sebaiknya menjaga netralitas atau fokus pada dakwah, daripada terlibat dalam isu geopolitik yang sensitif.

Hingga berita ini ditulis, baik Mishary Rashid Alafasy maupun pihak Quran.com belum memberikan tanggapan resmi lebih lanjut. Sementara itu, perdebatan di media sosial terus berlanjut: sebagian pengguna tetap mendengarkan tilawah Alafasy di platform lain, sementara yang lain mendukung keputusan Quran.com sebagai bentuk konsistensi nilai.

Peristiwa ini sekali lagi menunjukkan betapa sensitifnya isu politik Timur Tengah di kalangan umat Muslim global, di mana batas antara pendapat pribadi, agama, dan geopolitik kerap menjadi perdebatan yang tajam.[]

Berita Populer

Berita Terkait