Rabu, Februari 4, 2026

Pertahankan Disertasi soal Stunting, Iskandar Raih gelar Doktor

BANDA ACEH — Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kementerian Kesehatan Aceh, Iskandar, meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK), Jumat, 23 Januari 2026.

Ujian terbuka tersebut dipimpin Prof. Agussabti sebagai Ketua Sidang merangkap penguji. Safrizal Rahman bertindak sebagai Sekretaris Sidang sekaligus penguji. Iskandar didampingi Prof. Syaukani sebagai promotor, dengan Prof. Muhammad Yani sebagai Co-Promotor I dan Aripin Ahmad sebagai Co-Promotor II. Tim penguji lainnya terdiri atas Wirdahayati, Prof. Mudatsir, serta penguji eksternal Basri Aramiko.

Dalam sidang itu, Iskandar mempertahankan disertasi berjudul Pengembangan Model Konvergensi Program Penurunan Stunting di Tingkat Desa dengan Pendekatan Lembaga Adat di Kabupaten Pidie. Penelitian tersebut menempatkan lembaga adat sebagai aktor kunci dalam memperkuat konvergensi program penurunan stunting di tingkat desa.

Iskandar menilai, percepatan penurunan stunting di Aceh memerlukan strategi yang menyentuh akar sosial masyarakat. Menurut dia, pendekatan berbasis lembaga adat mampu memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap intervensi gizi dan kesehatan.

Dia memulai kajiannya dengan memotret kondisi stunting di Aceh yang memang menunjukkan tren penurunan, dari 33,2 persen pada 2021 menjadi 31,2 persen pada 2022. Namun, angka tersebut masih jauh di atas target nasional sebesar 14 persen. Salah satu penyebabnya, kata Iskandar, adalah belum optimalnya konvergensi program serta terbatasnya jangkauan layanan hingga ke tingkat desa.

Penelitian ini menggunakan desain sequential explanatory dengan mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif. Studi dilakukan di lima kecamatan fokus stunting di Kabupaten Pidie melalui tiga tahap, yakni analisis pendahuluan pada 2022, implementasi model pada 2023, dan pengukuran dampak pada 2024.

Hasil analisis awal menunjukkan faktor perilaku masih menjadi determinan utama stunting, antara lain kualitas air minum yang rendah, kebersihan peralatan memasak, rendahnya konsumsi ikan, ketidakpatuhan konsumsi tablet zat besi pada ibu hamil, serta belum optimalnya imunisasi dasar dan pemberian ASI eksklusif. Pada balita, diare, infeksi saluran pernapasan akut, dan panjang badan lahir kurang dari 48 sentimeter menjadi faktor risiko dominan.

Evaluasi program penurunan stunting di Pidie pada 2022 juga menunjukkan kinerja Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) belum optimal. Keterbatasan sarana, prasarana, dan koordinasi lintas sektor membuat indeks penanganan stunting daerah tersebut baru mencapai 51,6, dengan capaian terendah pada dimensi pendampingan keluarga dan pangan.

Berdasarkan temuan itu, Iskandar mengembangkan model pemberdayaan lembaga adat yang diintegrasikan ke dalam aksi konvergensi penurunan stunting. Model tersebut diuji menggunakan desain cluster randomized controlled trial, disertai pendampingan, pelatihan, serta pembekalan berbasis petunjuk teknis yang telah divalidasi tim pakar.

Hasilnya, dari 14 indikator program yang dapat diperankan lembaga adat, sembilan indikator menunjukkan peningkatan cakupan layanan secara signifikan. Indikator tersebut meliputi ASI eksklusif, asuhan gizi anak, pemantauan tumbuh kembang, akses air bersih, tambahan gizi anak dan ibu hamil, pemahaman stunting, pemanfaatan pekarangan, serta konsumsi tablet tambah darah pada ibu hamil.

Dampak paling menonjol terlihat pada penurunan prevalensi stunting. Pada kelompok intervensi berbasis lembaga adat, prevalensi stunting turun dari 39 persen menjadi 23,9 persen. Sementara itu, pada kelompok kontrol tidak ditemukan penurunan yang berarti.

Iskandar menyimpulkan bahwa lembaga adat memiliki peran strategis dalam mendukung peningkatan cakupan program sekaligus menurunkan prevalensi stunting di tingkat desa. Pendekatan ini dinilai relevan untuk diterapkan di daerah dengan struktur sosial dan adat yang masih kuat, seperti Aceh.

Iskandar lahir di Sukon Paku, Kabupaten Pidie, pada 3 Juni 1977. Ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, melanjutkan magister epidemiologi lapangan, dan kini menyelesaikan pendidikan doktor dengan konsentrasi Ilmu Gizi Masyarakat. Selain mengajar, dia aktif sebagai tenaga ahli percepatan penurunan stunting Provinsi Aceh serta anggota tim penilai kinerja kabupaten/kota di Aceh. []

Berita Populer

Berita Terkait