GAZA — Sebuah penyakit misterius dengan gejala mirip Covid-19 dilaporkan menyebar luas di Jalur Gaza, terutama menjangkiti anak-anak di tengah kondisi malnutrisi dan krisis kemanusiaan yang memburuk. Penyakit ini disebut memicu gejala seperti demam tinggi, nyeri sendi, pilek, hingga diare yang berlangsung lebih dari sepekan.
Direktur Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, Muhammad Abu Salmiya, memperingatkan situasi tersebut pada Kamis, 28 Agustus 2025. Dia menyebut bahwa belum ada tes laboratorium yang tersedia untuk mengidentifikasi secara pasti penyebab penyakit tersebut.
“Gejalanya termasuk suhu tubuh tinggi, nyeri sendi, pilek, dan kemudian disertai diare berkepanjangan,” kata Abu Salmiya, dikutip dari Middle East Eye.
Menurut dia, penyebaran penyakit ini tak bisa dilepaskan dari kondisi gizi buruk, kurangnya air bersih, keterbatasan bahan pembersih, serta kepadatan ekstrem di tenda-tenda pengungsian.
“Virus-virus ini memperburuk tekanan pada sistem kesehatan yang sudah kelelahan,” ujarnya.
Senada dengan Abu Salmiya, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir Al-Bursh, mengatakan bahwa penyakit tersebut terutama menyerang kelompok paling rentan, yaitu anak-anak.
Mengutip laporan Palestine Chronicle, Minggu, 31 Agustus 2025, rumah sakit di Gaza dilaporkan dipenuhi pasien dengan gejala menyerupai influenza. Al-Bursh menegaskan bahwa sistem kekebalan tubuh anak-anak di Gaza telah sangat melemah akibat kekurangan gizi dan minimnya asupan nutrisi dasar seperti buah-buahan dan vitamin C.
“Malnutrisi membuat tubuh anak-anak tidak mampu melawan infeksi,” katanya. “Ini menyebabkan lonjakan jumlah kematian.”
Dia menambahkan, tak adanya laboratorium dan alat diagnostik memperburuk krisis kesehatan. Penyakit musiman pun berubah menjadi ancaman serius, terutama di tengah kondisi tempat penampungan yang penuh sesak dan tak layak huni.
Hingga kini, otoritas kesehatan Gaza belum dapat memastikan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh virus baru atau infeksi yang telah ada sebelumnya. Namun, para tenaga medis mengkhawatirkan bahwa tanpa dukungan medis dan kemanusiaan yang memadai, wabah ini akan terus meluas dan menimbulkan lebih banyak korban jiwa. []


