Mengenal Core Memory dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan Mental

BANDA ACEH – Pernah tiba-tiba teringat sebuah kejadian bertahun-tahun lalu hanya karena mendengar lagu, mencium aroma tertentu, atau melewati sebuah tempat? Kenangan sederhana itu bisa terasa begitu kuat hingga kembali menghadirkan emosi yang sama seperti saat peristiwa tersebut terjadi.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman semacam ini kerap disebut sebagai core memory, yakni kenangan yang begitu membekas dan dapat memengaruhi cara seseorang melihat diri sendiri, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Kenangan ini dapat ikut membentuk pola pikir, kepribadian, dan cara seseorang merespons berbagai situasi dalam hidup.

Istilah core memory cukup populer di media sosial dan budaya populer (pop culture) untuk menggambarkan sebuah kenangan yang dianggap sangat berkesan dan memiliki makna khusus bagi seseorang. Kenangan tersebut bisa berupa pengalaman positif maupun negatif.

Dalam istilah psikologi, konsep ini lebih dekat dengan autobiographical memory, yaitu ingatan tentang pengalaman pribadi yang berkaitan dengan kehidupan dan identitas seseorang.

Kenangan tersebut dapat memiliki muatan emosional yang kuat sehingga terasa lebih melekat dan mudah diingat. Misalnya, pengalaman bahagia, kehilangan, atau perubahan besar dalam hidup, baik yang terjadi saat masa kanak-kanak maupun ketika dewasa.

Mengenal Core Memory dan Ciri-cirinya

Core memory adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan kenangan yang terasa sangat membekas dan memiliki makna emosional kuat bagi seseorang. Kenangan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri, hubungan dengan orang lain, atau pengalaman tertentu.

Berikut ini adalah beberapa ciri yang sering dikaitkan dengan core memory:

1. Memiliki muatan emosi yang kuat

Kenangan yang membekas biasanya disertai emosi yang intens, seperti bahagia, sedih, takut, kecewa, atau rasa dicintai. Misalnya, mendapat pelukan dan pujian dari orang tua setelah tampil di acara sekolah, merayakan ulang tahun bersama keluarga, dimarahi di depan teman-teman, atau merasa sangat sedih saat harus berpisah dengan sahabat karena pindah sekolah.

Baca juga:  Sayembara Logo Milad ke-63 UIN Ar-Raniry Dibuka, Ini Syaratnya

Meski terlihat seperti kejadian sederhana, pengalaman tersebut dapat terus diingat karena memiliki makna emosional yang kuat bagi anak.

2. Bisa terbentuk pada berbagai tahap kehidupan

Kenangan yang sangat berkesan dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Pengalaman pada masa kanak-kanak memang dapat terasa sangat membekas, tetapi bukan berarti semua core memory pasti berasal dari masa tersebut.

Saat dewasa, misalnya, seseorang mungkin mengingat dengan jelas hari pertama bekerja, momen menerima kabar diterima di pekerjaan yang diimpikan, pernikahan, kelahiran anak, perjalanan yang sangat berkesan, atau saat harus kehilangan orang yang disayangi.

Pengalaman seperti ini dapat menjadi kenangan yang terus melekat karena memiliki makna emosional yang kuat.

3. Mudah terpicu oleh hal-hal tertentu

Core memory terkadang muncul kembali ketika seseorang mendengar lagu, mencium aroma tertentu, melihat tempat, atau mengalami situasi yang mengingatkan pada kejadian sebelumnya. Kemunculannya dapat disertai emosi yang sama atau serupa dengan saat peristiwa itu terjadi.

4. Dapat memengaruhi cara berpikir dan merespons situasi

Pengalaman yang membekas dapat ikut memengaruhi cara seseorang memaknai kejadian dan merespons situasi tertentu. Misalnya, seseorang yang pernah mengalami bullying mungkin menjadi lebih berhati-hati dalam berinteraksi atau merasa kurang percaya diri di lingkungan sosial.

5. Tidak harus berasal dari peristiwa besar

Hal sederhana juga bisa menjadi kenangan yang sangat bermakna. Misalnya, pelukan dari orang tua saat sedang sedih, ucapan penyemangat dari guru, atau dukungan sahabat di saat sulit. Meski terlihat sederhana, pengalaman seperti ini bisa terus diingat karena memiliki arti khusus bagi seseorang.

Dampak Core Memory terhadap Kesehatan Mental

Core memory dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasa, dan merespons berbagai situasi. Dampaknya dapat bersifat positif maupun negatif, misalnya:

  • Kenangan positif dapat membuat seseorang merasa lebih berharga dan percaya diri, sedangkan pengalaman yang kurang menyenangkan bisa membuatnya lebih mudah ragu atau merasa tidak aman.
  • Pengalaman masa lalu dapat membuat seseorang lebih mudah percaya dan nyaman dengan orang lain, atau justru lebih berhati-hati dan sulit membuka diri.
  • Pengalaman yang membekas dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya, termasuk kemampuan, kekurangan, dan nilai dirinya.
  • Lagu, aroma, tempat, atau situasi tertentu terkadang dapat mengingatkan seseorang pada kenangan lama dan memunculkan kembali emosi seperti sedih, takut, marah, atau bahagia.
Baca juga:  Bawa Spirit Bandung ke KTT BRICS, Prabowo: Bersatu Kita Teguh, Terpecah Kita Runtuh

Selain itu, pengalaman traumatis yang sangat membekas dan belum terselesaikan (unresolved trauma) dapat terus memengaruhi pikiran, emosi, perilaku, dan cara seseorang berhubungan dengan orang lain.

Dalam jangka panjang, hal ini juga dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental, terutama jika mulai mengganggu aktivitas atau keseharian.

Cara Mengelola Core Memory dengan Sehat

Mengelola core memory bukan berarti harus melupakan masa lalu. Hal yang terpenting adalah memahami perasaan yang muncul dan menemukan cara yang sehat untuk menghadapinya. Beberapa hal yang bisa Anda lakukan, antara lain:

  • Cobalah mengenali kenangan tersebut dan terima perasaan yang muncul dengan self-compassion (welas asih pada diri sendiri), tanpa menyalahkan diri atas kejadian di masa lalu.
  • Ceritakan apa yang Anda rasakan ke orang yang dipercaya atau tuliskan dalam jurnal agar pikiran dan emosi lebih mudah dipahami.
  • Jika kenangan tertentu muncul kembali, coba tenangkan diri dengan menarik napas perlahan, menyadari kondisi saat ini, dan mengingatkan diri bahwa peristiwa tersebut sudah berlalu.
  • Jaga kesehatan tubuh dengan tidur yang cukup, rutin berolahraga, makan bergizi, dan melakukan aktivitas yang membuat Anda merasa lebih tenang.

Sumber: Alodokter

Berita Populer

Berita Terkait