JAKARTA – Asam urat merupakan salah satu jenis radang sendi yang banyak dialami masyarakat. Gejala yang paling umum dirasakan penderita adalah nyeri hebat pada persendian, terutama di area jempol kaki.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai gout arthritis, yaitu peradangan sendi yang terjadi akibat penumpukan kristal asam urat hasil pemecahan zat purin.
Purin merupakan zat yang secara alami terdapat di dalam tubuh sebagai hasil metabolisme protein. Selain itu, purin juga ditemukan dalam berbagai jenis makanan, seperti jeroan, hati, dan kacang-kacangan. Dalam kondisi normal, asam urat akan larut dalam darah, disaring oleh ginjal, lalu dikeluarkan melalui urine.
Namun, pada kondisi tertentu kadar asam urat dapat meningkat sehingga menumpuk di dalam tubuh. Penumpukan tersebut dapat memicu peradangan atau membentuk benjolan yang dikenal sebagai tophus. Peradangan inilah yang menyebabkan nyeri dan pembengkakan pada sendi, terutama pada jempol kaki atau yang disebut podagra.
Selain menyerang jempol kaki, asam urat juga dapat menimbulkan nyeri pada pergelangan kaki, tumit, lutut, pergelangan tangan, jari tangan, siku, hingga sendi-sendi besar lainnya. Dalam beberapa kasus, kristal asam urat juga dapat terbentuk di ginjal dan memicu terbentuknya batu ginjal.
Gejala Asam Urat
Mengutip Mayo Clinic, gejala asam urat umumnya muncul secara tiba-tiba dan sering kali terjadi pada malam hari. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- Nyeri sendi yang parah dan mendadak.
- Rasa tidak nyaman yang menetap setelah serangan nyeri mereda dan dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
- Pembengkakan pada sendi.
- Kemerahan pada area sendi.
- Sendi terasa hangat dan nyeri saat disentuh.
Jika tidak ditangani dengan baik, nyeri sendi akibat asam urat dapat semakin parah dan menyebabkan keterbatasan gerak pada persendian.
Penyebab Asam Urat
Menurut Medicine Net, asam urat terjadi akibat tingginya kadar asam urat dalam darah yang menyebabkan terbentuknya kristal pada persendian. Kondisi ini dapat muncul ketika tubuh memproduksi terlalu banyak asam urat atau ketika fungsi ginjal menurun sehingga tidak mampu membuang asam urat secara optimal.
Faktor Risiko
Berdasarkan Medical News Today dan Mayo Clinic, sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami asam urat, di antaranya:
- Berjenis kelamin pria berusia 30–50 tahun. Pada wanita, asam urat lebih sering terjadi setelah menopause.
- Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit asam urat.
- Mengonsumsi alkohol secara berlebihan dalam jangka panjang.
- Mengonsumsi makanan tinggi purin, seperti daging merah dan beberapa jenis makanan laut.
- Menggunakan obat-obatan tertentu, seperti diuretik, aspirin, beta blocker, dan ACE inhibitor.
- Mengalami obesitas atau kelebihan berat badan.
- Menderita penyakit tertentu seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, hipertensi, dan sindrom metabolik.
- Baru menjalani operasi atau mengalami cedera.
Diagnosis
Untuk memastikan diagnosis asam urat, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan, antara lain:
Tes cairan sendi
Dokter mengambil sampel cairan dari sendi yang mengalami peradangan menggunakan jarum suntik. Sampel kemudian diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi adanya kristal asam urat.
Tes darah
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur kadar asam urat atau uric acid dalam darah.
Rontgen
Rontgen digunakan untuk mengetahui kemungkinan penyebab lain dari peradangan sendi.
Ultrasonografi (USG)
USG memanfaatkan gelombang suara untuk mendeteksi penumpukan kristal asam urat pada persendian.
Perawatan Asam Urat
Menurut Arthritis Foundation, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi serangan asam urat secara mendadak, yaitu:
- Mengistirahatkan tubuh dan menghindari aktivitas berat.
- Meninggikan posisi bagian tubuh yang nyeri agar lebih tinggi dari dada untuk membantu mengurangi pembengkakan.
- Mengompres sendi yang meradang dengan es yang dibungkus kain selama sekitar 20 menit.
- Memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi.
Selain itu, dokter dapat meresepkan beberapa jenis obat, seperti:
- Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) untuk meredakan nyeri dan peradangan.
- Kortikosteroid, baik dalam bentuk obat minum maupun suntikan ke sendi yang meradang.
- Colchicine untuk membantu mengurangi nyeri dan mencegah kekambuhan.
- Allopurinol, febuxostat, atau probenecid untuk menurunkan dan mengontrol kadar asam urat dalam darah.
Komplikasi
Apabila tidak ditangani dengan baik, asam urat dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, antara lain:
- Kerusakan sendi permanen.
- Terbentuknya tophi, yaitu benjolan akibat penumpukan kristal asam urat di bawah kulit, yang umumnya muncul pada jari tangan, kaki, tangan, dan siku.
- Batu ginjal akibat penumpukan kristal asam urat di saluran kemih.
Pencegahan
Dikutip dari Healthline, beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah asam urat meliputi:
- Membatasi konsumsi alkohol.
- Mengurangi makanan tinggi purin seperti kerang, daging merah, daging babi, daging domba, dan jeroan.
- Mengonsumsi makanan rendah lemak serta sayuran yang aman bagi penderita asam urat, seperti wortel, brokoli, kentang, seledri, tomat, dan pare.
- Menjaga berat badan tetap ideal.
- Tidak merokok.
- Rutin berolahraga.
- Memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan cukup minum air putih setiap hari.
Dengan pola hidup sehat dan pengelolaan yang tepat, risiko serangan asam urat dapat dikurangi sehingga kualitas hidup penderita tetap terjaga.


