Kontroversi Klaim Giuliani tentang Raja Charles Kemungkinan Seorang Muslim

JAKARTA – Pernyataan mantan Wali Kota New York, Rudy Giuliani, memicu perhatian luas setelah ia menyebut bahwa Raja Charles III kemungkinan adalah seorang Muslim.

Dalam wawancara kontroversial bersama jurnalis Inggris Piers Morgan, Giuliani juga mengklaim bahwa umat Muslim ingin mengambil alih Inggris serta menyebut Al-Qur’an sebagai “kultus kematian”. Ia mengatakan, “Ada orang dari Inggris yang memberi tahu saya bahwa dalam 10 tahun Inggris akan menjadi negara Muslim,” dikutip dari Middle East Eye, Sabtu, 4 April 2026.

Giuliani turut menyinggung meningkatnya pengaruh Muslim di berbagai posisi publik di Inggris sebagai bagian dari argumennya. Namun, klaim tersebut tidak didukung oleh data resmi. Dalam diskusi yang sama, Morgan mengingatkan bahwa populasi Muslim di Inggris hanya sekitar lima persen dari total penduduk. Meski demikian, Giuliani tetap bersikeras bahwa angka tersebut tidak mencerminkan “pengaruh” yang ia maksud.

Baca juga:  Iran Gunakan Sistem Deteksi Inframerah Pasif Canggih Tembak Jatuh F-15E Strike Eagle Milik AS

Tudingan bahwa Raja Charles diam-diam seorang Muslim sebenarnya merupakan teori konspirasi lama yang telah lama beredar di internet dan tidak pernah terbukti. Sebaliknya, Charles dikenal sebagai kepala Gereja Inggris dan penganut Anglikan yang taat.

Meski bukan seorang Muslim, Raja Charles diketahui memiliki ketertarikan terhadap Islam. Ia pernah mempelajari bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an secara langsung. Dalam berbagai pidatonya, ia kerap menekankan bahwa Islam, Kristen, dan Yahudi memiliki banyak kesamaan sebagai agama monoteistik.

Dalam pidatonya pada 1993, ia menyebut bahwa prinsip utama dalam hukum Islam adalah “keadilan dan kasih sayang”. Ia juga pernah menyebut komunitas Muslim sebagai “aset bagi Inggris” yang memperkaya budaya nasional.

Baca juga:  Harlah Ke-80, Muslimat NU Tekankan Tiga Peran Strategis untuk Bangun Generasi Emas 2045

Selain itu, Giuliani kembali menuai kontroversi lewat pernyataannya tentang hukum syariah, yang ia sebut sebagai “kultus kematian” dan diklaim memiliki pengaruh besar di Inggris. Padahal, dewan syariah di Inggris tidak memiliki kekuatan hukum formal dan hanya bersifat informal.

Giuliani juga menyinggung Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dengan menyebutnya terlalu terpengaruh secara politik oleh komunitas Muslim—klaim yang kembali memicu perdebatan.

Berbeda dengan pandangan tersebut, Raja Charles justru melihat Islam sebagai bagian dari sejarah dan perkembangan Eropa. Ia pernah menyatakan bahwa Islam “bukan sesuatu yang terpisah, melainkan bagian dari warisan kita sendiri”.

Dengan demikian, pernyataan Giuliani menuai kontroversi karena tidak didukung bukti kuat, sementara pandangan Raja Charles cenderung menekankan dialog antaragama dan penghargaan terhadap keberagaman.[]

Berita Populer

Berita Terkait