JAKARTA – Meningkatnya kasus diabetes dan penyakit degeneratif pada usia muda mendorong dokter penggiat kesehatan holistik dr Cahyono menyerukan pentingnya pendidikan kesehatan sejak dini.
Melalui kanal YouTube Kasisolusi, ia menilai larangan jajanan sekolah saja tidak cukup tanpa pemahaman yang benar tentang makanan dan gaya hidup sehat.
dr Cahyono menjelaskan bahwa saat ini anak-anak hidup di lingkungan yang sangat mudah mengakses makanan tinggi gula, tepung olahan, dan zat aditif.
Mini market, pedagang makanan cepat saji, hingga minuman kemasan tersedia hampir di setiap sudut, termasuk di sekitar sekolah.
Kondisi ini membuat kebijakan pelarangan jajanan tidak sehat di sekolah menjadi kurang efektif jika tidak dibarengi edukasi yang memadai. Anak tetap dapat membeli makanan serupa di luar sekolah tanpa memahami dampaknya bagi tubuh mereka.
Menurut dr Cahyono, akar persoalan kesehatan anak bukan sekadar pada ketersediaan makanan, tetapi pada rendahnya literasi kesehatan di kalangan anak dan orang tua.
Banyak keluarga belum memahami hubungan antara konsumsi gula berlebih dengan kerusakan metabolisme, resistensi insulin, hingga diabetes di usia muda.
Ia menekankan bahwa pendidikan kesehatan seharusnya diberikan sejak sekolah dasar, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak.
Materinya tidak hanya soal larangan, tetapi penjelasan logis tentang apa yang terjadi di dalam tubuh ketika mengonsumsi makanan tertentu secara berlebihan.
“Anak-anak harus diberi pemahaman, bukan sekadar dilarang. Kalau paham, mereka akan menjaga diri sendiri,” ujar dr Cahyono.
Lebih jauh, ia menilai meningkatnya penyakit kronis pada usia produktif akan berdampak besar bagi negara.
Beban pembiayaan kesehatan akan terus meningkat jika pencegahan tidak dilakukan sejak dini. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menggerus anggaran negara yang seharusnya digunakan untuk pendidikan dan pembangunan.
dr Cahyono menyebut bahwa bangsa yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga kesehatan fisik masyarakatnya.
Karena itu, ia mendorong sinergi antara sekolah, tenaga kesehatan, orang tua, dan pemerintah dalam membangun kesadaran hidup sehat.
Pendidikan kesehatan, menurutnya, bukan pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya penyakit degeneratif pada anak dan remaja. []


