JAKARTA – Salah satu cara andalan menjaga kebugaran di tengah padatnya aktivitas masyarakat urban, yakni konsumsi multivitamin. Asupan pelengkap ini seolah menjadi tameng andalan pelindung tubuh dari berbagai risiko penyakit.
Ketergantungan tersebut memunculkan anggapan bahwa ada aturan wajib minum suplemen yang harus ditaati secara kaku.
Banyak orang akhirnya lebih mementingkan deretan pil vitamin ketimbang memperbaiki komposisi gizi dari piring makan mereka sendiri. Padahal, pandangan yang menempatkan suplemen di atas kebutuhan asupan alami tersebut merupakan sebuah kekeliruan besar.
“Aturan minum vitamin sebenarnya enggak ada yang baku, karena yang diutamakan tetap adalah makanan dulu, makanan utama,” terang pakar estetika dan kesehatan kulit, dr. Yessica Tania, Dipl. AAAM dalam acara peluncuran Zegavit Gummy Vitamin dari PT Kalbe Farma Tbk di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Suplemen bukan pengganti makanan
Kesalahan pemahaman mengenai fungsi suplemen paling sering terjadi ketika tubuh terasa lelah atau kurang bugar. Banyak orang langsung menelan multivitamin dengan harapan mendapatkan suntikan energi instan, agar bisa kembali beraktivitas.
Padahal, vitamin bukanlah sumber penghasil tenaga. Untuk bisa berfungsi secara optimal, organ dan otot membutuhkan bahan bakar utama yang hanya didapatkan dari makanan utuh, bukan dari sebutir pil.
“Tetap sumber kalori utama itu kan dari karbohidrat yang bisa diolah oleh tubuh jadi ATP (Adenosina Trifosfat) kan, yang bakal dipakai oleh otot kita untuk bekerja gitu,” ucap dr. Yessica.

Kelelahan fisik merupakan sinyal bahwa tubuh sedang kekurangan kalori dasar. Oleh karena itu, mengonsumsi suplemen tanpa didasari pemenuhan gizi, merupakan langkah yang keliru.
“Jadi, tetap tidak bisa mengesampingkan makronutrisi yang lain, yaitu karbohidrat, protein. Masih butuh,” sambung dia. Sesuai dengan sebutannya, multivitamin hanyalah asupan pendukung. Perannya baru benar-benar dibutuhkan ketika nutrisi dari porsi makan harian dirasa belum memadai.
Perhatikan jeda waktu minum multivitamin
Selain masalah pemenuhan kalori dasar, penentuan waktu mengonsumsi multivitamin ikut memengaruhi tingkat efektivitas penyerapan di dalam lambung. Kebiasaan menelan pil bersamaan dengan minuman seperti kopi atau susu harus dihindari.
Minuman semacam itu memiliki senyawa spesifik yang dapat menghambat laju penyerapan gizi penting ke dalam peredaran darah. Lebih lanjut, sistem pencernaan memerlukan jarak waktu agar semua zat bisa diproses secara bergantian tanpa saling membatalkan khasiat masing-masing.
Memberikan ruang antara jadwal makan besar dengan waktu minum suplemen memastikan kandungan aktifnya tidak terbuang sia-sia. “Jadi sebaiknya dijeda saja sejam atau dua jam gitu (sebelum atau sesudah),” tutur dr. Yessica.
Bahaya penumpukan vitamin Risiko kesehatan jangka panjang yang sering luput dari perhatian publik adalah ancaman penumpukan zat akibat konsumsi berlebihan. Berdasarkan sifat kelarutannya, vitamin dibagi menjadi dua klasifikasi besar, yakni larut dalam air dan larut dalam lemak.
Bahaya penumpukan vitamin Risiko kesehatan jangka panjang yang sering luput dari perhatian publik adalah ancaman penumpukan zat akibat konsumsi berlebihan. Berdasarkan sifat kelarutannya, vitamin dibagi menjadi dua klasifikasi besar, yakni larut dalam air dan larut dalam lemak.
“Kalau vitamin A, D, E, K, itu enggak bisa. Jadi dia akan terdeposisi atau numpuk di dalam lemak yang ada di tubuh kita,” imbuh dr. Yessica. Penumpukan sisa metabolisme dalam kurun waktu lama ini justru dapat merusak fungsi organ internal secara perlahan.
Maka dari itu, kebijaksanaan dalam mematuhi dosis pemakaian merupakan kunci utama agar niat hidup sehat tidak mendatangkan bahaya. “Jadi, sangat tidak disarankan mengkonsumsi suplemen yang sama dengan jumlah yang berlebihan,” ungkap dia.[]



