Jumat, Februari 27, 2026

Iran Mulai Perundingan Nuklir dengan AS, Ajukan Tiga Syarat Utama

TEHERAN – Iran memulai perundingan penting terkait program nuklirnya dengan Amerika Serikat pada Kamis, 26 Februari 2026. Pemerintah Teheran menegaskan kesepakatan masih mungkin dicapai selama Washington mematuhi tiga syarat utama yang diajukan Iran.

Sejumlah diplomat Iran menyebut tiga syarat tersebut meliputi pengakuan hak simbolis Iran untuk memperkaya uranium, izin untuk mengurangi stok uranium yang sangat diperkaya, serta tidak adanya tuntutan pembatasan terhadap program rudal balistik Iran. Namun, belum jelas apakah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyetujui parameter tersebut.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sebelumnya menegaskan isu rudal balistik menjadi perhatian utama Washington. “Ini akan menjadi masalah besar jika Iran tidak mau bernegosiasi soal rudal,” kata Rubio.

Sementara itu, utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff bersama Jared Kushner disebut telah menerima prinsip-prinsip dasar tersebut dalam dua putaran perundingan tidak langsung sebelumnya. Keduanya dijadwalkan menuju Jenewa untuk melanjutkan pembahasan.

Baca juga:  Rapim Polda Aceh 2026 Ditutup, Wakapolda Tegaskan Sinkronisasi Kebijakan dan Penguatan Soliditas

Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran mengatakan proposal awal dari pihak AS dinilai relatif longgar. Namun, tidak ada tawaran pelonggaran sanksi secara langsung sehingga Iran masih menghadapi tekanan ekonomi.

“Permintaan utama hanyalah pembatasan pengayaan uranium di bawah 5% dan pengalihan penuh untuk penggunaan sipil,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Guardian.

Menjelang keberangkatan ke Jenewa, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan target Teheran adalah mencapai kesepakatan secepat mungkin.

“Iran tidak akan pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun, kami juga tidak akan melepaskan hak kami atas teknologi nuklir damai,” kata Araghchi. “Mencapai kesepakatan dimungkinkan, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan.”

Pernyataan tersebut muncul di tengah nada keras dari Trump dalam pidato kenegaraan yang memperingatkan ancaman rudal balistik Iran dan kembali menuding Teheran sebagai sponsor terorisme. Trump juga mengklaim Iran masih mengejar ambisi senjata nuklir, tuduhan yang dibantah keras oleh pemerintah Iran.

Baca juga:  UU Pemilu Digugat ke MK, Keluarga Presiden dan Wapres Dilarang Nyapres

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, bahkan membandingkan pernyataan Trump dengan propaganda Joseph Goebbels.

“Apapun yang mereka tuduhkan hanyalah pengulangan ‘kebohongan besar’,” tulis Baqaei di media sosial X.

Kehadiran Raphael Grossi, kepala badan pengawas nuklir PBB, dalam perundingan di Jenewa juga dinilai krusial. Grossi memiliki kewenangan untuk menilai apakah akses verifikasi yang ditawarkan Iran memenuhi standar internasional.

Iran juga disebut siap membantu Trump mengklaim bahwa kesepakatan baru ini lebih baik dibanding perjanjian nuklir 2015 yang dicapai pada era Presiden Barack Obama. Langkah tersebut dipandang penting bagi kepentingan politik domestik Amerika Serikat.

Sementara proses diplomasi berlangsung, situasi domestik Iran masih bergejolak. Protes mahasiswa dilaporkan terus terjadi di sejumlah universitas, hampir dua bulan setelah gelombang demonstrasi antipemerintah merebak di berbagai kota. []

Berita Populer

Berita Terkait