JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Republik Belarus sepakat memperkuat kerja sama bilateral di sektor kesehatan. Komitmen yang menandai 33 tahun hubungan diplomatik kedua negara ini akan segera diresmikan melalui penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) yang disaksikan langsung oleh presiden kedua negara di Istana Merdeka.
Kesepakatan tersebut dimatangkan dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono dan Menteri Kesehatan Republik Belarus Aliaksandr Khajayeu di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menyambut kedatangan delegasi Belarus, Dante menyoroti potensi besar yang dimiliki kedua negara untuk saling melengkapi. Ia bahkan mengutip pepatah Belarus, Dobraye slova lyechyts yang berarti “kata-kata yang baik itu menyembuhkan”, sebagai landasan persahabatan kedua negara.
“Setiap negara memiliki sesuatu untuk diajarkan, dan setiap sistem kesehatan selalu memiliki ruang untuk ditingkatkan. Kita sepakat untuk membahas secara mendalam dua topik utama pada pertemuan hari ini, yaitu pendidikan kedokteran dan kerja sama di bidang farmasi,” ujar Dante.

Pada bidang pendidikan dan peningkatan kapasitas tenaga medis, Indonesia tengah menjajaki program fellowship yang berfokus pada penanganan kardiologi, onkologi, neurologi dan stroke, urologi, nefrologi, serta kesehatan ibu dan anak.
Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan RI akan segera mengambil langkah proaktif untuk merealisasikan pertukaran keahlian.
“Kami akan mengirimkan delegasi ke Belarus untuk mengevaluasi program-program di sana, serta mendatangkan para dokter dari Belarus ke Indonesia untuk memberikan pelatihan kepada dokter-dokter kami,” tegas Dante.
Selain pendidikan, penguatan sektor farmasi menjadi prioritas. Pemerintah membidik perluasan akses dan distribusi alat medis melalui potensi kolaborasi antara perusahaan farmasi Belarus, Belpharmprom, dengan industri manufaktur Indonesia.
“Besok pagi, perusahaan-perusahaan farmasi dari Indonesia akan mengadakan pertemuan dengan rekan-rekan mereka. Kementerian Kesehatan mendukung penuh pengembangan ini dan akan menjembatani koordinasi dengan perusahaan-perusahaan farmasi dari Belarus,” tambahnya.
Menanggapi komitmen tersebut, Menteri Kesehatan Republik Belarus, Aliaksandr Khajayeu, menyambut baik langkah konkret yang diusulkan oleh Pemerintah Indonesia. Ia menyoroti bahwa standar regulasi kedua negara, khususnya pada sektor obat-obatan, sudah selaras.
“Terkait area kerja sama, ini merupakan pertemuan yang sangat baik. Standar kita, terutama untuk obat generik, tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Kami siap menyambut para spesialis secara langsung guna mempercepat proses yang ada,” ungkap Aliaksandr.
Ia juga meyakini bahwa komunikasi dan koordinasi langsung antarsistem kesehatan dari kedua negara nantinya akan sangat membantu kelancaran proses registrasi farmasi maupun perizinan medis lainnya.
Sebagai wujud nyata komitmen peningkatan kualitas layanan kesehatan di dalam negeri, delegasi Belarus juga diajak meninjau fasilitas RS PON. Kunjungan ini merupakan representasi dari pilar transformasi sistem kesehatan nasional yang tengah digenjot oleh Indonesia. RS PON terus memperluas kapasitasnya untuk menyediakan layanan saraf dan otak komprehensif, mulai dari pembedahan hingga rehabilitasi, baik bagi pasien lokal maupun internasional.
Sebagai instrumen operasional dari kesepakatan tingkat tinggi ini, Indonesia dan Belarus telah menyusun Operational Road Map 2026–2030. Peta jalan ini disusun agar implementasi berbagai program kerja sama dapat segera berjalan secara terukur dan memberikan manfaat nyata bagi ketahanan kesehatan masyarakat di kedua negara.[]



