Jumat, Februari 20, 2026

Ilmuwan Kaji Opsi Nuklir untuk Antisipasi Asteroid Tabrak Bulan

JAKARTA – Para ilmuwan tengah mengkaji kemungkinan penggunaan senjata nuklir untuk menghancurkan asteroid 2024 YR4, yang diperkirakan berpotensi menabrak Bulan pada 2032.

Dalam studi terbaru yang dirilis 15 September lalu di server pracetak Arxiv, para peneliti memperingatkan perlunya tindakan cepat untuk mencegah dampak serius, baik bagi Bulan maupun lingkungan antariksa di sekitar Bumi.

Asteroid berukuran sekitar 55 meter itu pertama kali terdeteksi pada Desember 2024. Dengan ukuran yang setara gedung pencakar langit kecil, batu angkasa ini mendapat julukan “city killer” karena kemampuannya meluluhlantakkan satu kota jika menabrak permukaan Bumi.

Awalnya, peluang asteroid ini menghantam Bumi diperkirakan sebesar 3,1 persen. Namun pengamatan lanjutan yang dilakukan hingga Februari 2025 menurunkan risiko itu menjadi hanya 0,28 persen. Meski kabar tersebut sempat menenangkan, model terbaru justru menunjukkan adanya kemungkinan 4 persen asteroid menabrak Bulan.

Baca juga:  Aceh Terparah Terdampak Bencana Akibat Curah Hujan Tinggi, Pakar Tekankan Strategi Mitigasi

Menurut laporan tersebut, dampak tabrakan dengan Bulan tak bisa disepelekan. Lontaran debu dan batuan kecil dari permukaan Bulan dapat mengancam berbagai wahana luar angkasa, termasuk satelit, pakaian antariksa, hingga Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Namun misi defleksi asteroid bukan tanpa risiko. Salah perhitungan bisa berujung fatal. Para peneliti mengakui masih ada ketidakpastian besar mengenai massa 2024 YR4. Jika misi pembelokan tidak berhasil, ada kemungkinan asteroid justru terdorong menuju Bumi.

“Misi defleksi yang salah rencana bisa secara tidak sengaja mendorong asteroid menuju Bumi,” demikian tertulis dalam laporan, dikutip dari Live Science, Kamis, 25 September 2025.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sebelumnya pernah menguji teknologi serupa pada 2022 melalui misi Double Asteroid Redirection Test (DART). Misi itu berhasil mengubah sedikit lintasan asteroid kecil bernama Dimorphos.

Baca juga:  Purnawirawan TNI Prihati Pujowaskito Ditunjuk Sebagai Dirut BPJS Kesehatan

Namun, para peneliti menyebut pendekatan serupa tak akan efektif untuk menghadapi 2024 YR4, mengingat terbatasnya data dan waktu. Sebagai alternatif, mereka menilai menghancurkan asteroid secara langsung bisa menjadi opsi lebih realistis.

Wahana seperti DART disarankan dikirim bukan untuk membelokkan, melainkan memecah asteroid menjadi bagian lebih kecil. Jika gagal, pilihan terakhir adalah menggunakan senjata nuklir, yang diledakkan di atau dekat permukaan asteroid.

Meski demikian, studi itu mencatat bahwa kemungkinan asteroid akan melintas aman tanpa menabrak Bulan mencapai 96 persen. Para ilmuwan memandang kasus ini sebagai peluang untuk mengembangkan teknologi pertahanan planet lebih lanjut.

Kini, tim peneliti tengah memperkirakan waktu pembuatan wahana baru sekaligus merancang desain misi penghancur asteroid. []

Berita Populer

Berita Terkait