Hacker ‘Mr Spongebob’ Bidik Pemerintah RI, Framework AI Kembali Dijual

JAKARTA – Kaspersky menemukan seorang hacker dengan nama samaran “Mr Spongebob” yang menyerang sejumlah situs pemerintahan Indonesia, kemudian menjual kembali framework berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digunakannya kepada pihak lain. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran terkait perkembangan ancaman siber berbasis AI.

Peneliti Keamanan Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky, Fareed Fauzi Mohamad Radzi, mengatakan serangan tersebut menargetkan institusi akademik di Indonesia dan Korea Selatan, serta instansi pemerintah di Indonesia, Thailand, dan Bangladesh.

“Kami menemukan penyerang yang menargetkan institusi akademis di Indonesia dan Korea, serta instansi pemerintah di Indonesia, Thailand, dan Bangladesh. Metode yang mereka gunakan pada dasarnya melibatkan kerangka kerja AI yang didukung oleh Claude. Mereka melakukan pengintaian dan pengumpulan informasi dari korban, menggunakan informasi tersebut untuk mengakses target, lalu melancarkan eksploitasi,” jelas Fareed.

Menurut Fareed, hasil dari proses pengintaian dan pengumpulan informasi tersebut dituangkan dalam laporan yang kemudian digunakan kembali oleh penyerang untuk melancarkan serangan berikutnya.

HUT KE-81 KEMERDEKAAN RI

Saat GReAT menyelidiki rangkaian serangan tersebut, ditemukan bahwa pelakunya berasal dari Indonesia dan menargetkan instansi pemerintah di negaranya sendiri.

Selain menggunakan nama samaran “Mr Spongebob”, kelompok tersebut juga diketahui menggunakan musik dari lagu Sheila on 7 dalam aktivitasnya.

“Mereka menggunakan kerangka kerja buatan sendiri untuk menyerang pemerintah Indonesia, namun di saat yang sama juga menjual kerangka kerja AI tersebut kepada pihak lain,” ujar Fareed dalam Kaspersky Academic Summit bertajuk “AI, Security & Society: What’s Next for Our Digital Future?” di Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2026).

AI Mulai Digunakan untuk Mengorkestrasi Serangan

Fareed juga menyoroti perkembangan kemampuan AI dalam aktivitas keamanan siber. Ia mencontohkan kasus ketika AI yang dikembangkan OpenAI keluar dari lingkungan pengujian (sandbox/isolated environment) dalam proses evaluasi keamanan siber dan berhasil membobol infrastruktur produksi perusahaan nyata, yakni Hugging Face.

Baca juga:  Gempa M7 Guncang NTT, Bumil Jalani Operasi Caesar Hanya dengan Penerangan Senter

Menurutnya, kondisi tersebut mengkhawatirkan karena agen AI dapat mengambil keputusan secara mandiri untuk menyerang infrastruktur di luar sistemnya sendiri.

“Sangat menarik sekaligus mencemaskan untuk melihat bagaimana serangan semacam ini mungkin terjadi di masa mendatang,” imbuh Fareed, yang berasal dari Malaysia.

Fareed menyimpulkan bahwa penggunaan AI dalam kejahatan siber kini tidak lagi sebatas membantu pembuatan malware. Teknologi tersebut mulai dimanfaatkan untuk mengorkestrasi serangan secara menyeluruh, mulai dari pelaksanaan phishing, pergerakan lateral di dalam jaringan, hingga eksekusi serangan yang berdampak langsung kepada korban.

“Jadi, menurut saya, kita sebagai pihak pertahanan juga perlu memanfaatkan AI untuk melawan para peretas kriminal siber dan kelompok APT, yang jelas-jelas juga menggunakan AI dalam operasi mereka,” ucapnya.

APT (Advanced Persistent Threat) merupakan kelompok atau sindikat peretas profesional yang dapat memiliki dukungan dari negara maupun organisasi besar dan menjalankan operasi siber secara terarah serta berkelanjutan.

Fareed menilai pihak pertahanan perlu terus mengembangkan kemampuan menghadapi ancaman berbasis AI. Menurutnya, hal tersebut juga berlaku bagi kalangan akademisi dan pendidik yang perlu memahami serta memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka.

“Pihak pertahanan harus ikut berkembang; bukan hanya pihak pertahanan, tetapi juga Anda sekalian sebagai dosen dan pendidik. Kita harus memanfaatkan AI dalam pekerjaan kita untuk membantu segala hal yang bisa dibantu oleh teknologi ini,” tutupnya.

Baca juga:  Ketua Pokja Bunda PAUD Kunjungi Stand Bazar UMKM Memperingati HUT ke-81 RI di Blang Bintang

Kaspersky Academic Partners Summit 2026

Kaspersky menggelar Academic Partners Summit 2026 yang mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi keamanan siber, dan perwakilan akademisi di Indonesia. Forum tersebut membahas perkembangan hubungan antara kecerdasan buatan, keamanan siber, dan masyarakat.

Pertemuan tersebut juga membahas bagaimana keamanan berbasis AI bersinggungan dengan kebutuhan masyarakat, kebijakan publik, serta kondisi regional di kawasan Asia-Pasifik.

Selain itu, pembahasan menyoroti kekurangan tenaga ahli keamanan siber yang masih menjadi persoalan global, termasuk tantangan yang dihadapi kawasan Asia-Pasifik. Dalam paparan tersebut disebutkan bahwa kawasan Asia-Pasifik menyumbang sekitar 60 persen dari kesenjangan talenta siber dunia, sementara 95 persen tim keamanan melaporkan masih mengalami kekurangan tenaga ahli.

Di Asia Tenggara, sekitar 65 persen pekerjaan di bidang keamanan siber mensyaratkan pengalaman kerja tiga tahun atau kurang. Kondisi tersebut dinilai menegaskan pentingnya membuka jalur bagi talenta baru untuk memasuki industri keamanan siber.

Head of Cybersecurity Education & Academic Affairs Kaspersky, Evgeniya Russkikh, mengatakan perkembangan AI dalam serangan dan pertahanan digital membuat kemampuan manusia semakin penting.

“Ketika AI menjadi semakin cakap dalam menyerang maupun mempertahankan lingkungan digital, nilai penilaian manusia menjadi jauh lebih penting. Mempersiapkan generasi profesional keamanan siber berikutnya membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis; hal ini menuntut pemikiran kritis, pengambilan keputusan yang etis, dan kemampuan untuk memahami dampak teknologi yang lebih luas terhadap masyarakat,” ujar Evgeniya.

Kolaborasi antara akademisi, industri, dan sektor publik dinilai penting untuk membangun sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam menghadapi perkembangan teknologi serta menciptakan masa depan digital yang tangguh.[]

Berita Populer

Berita Terkait