Kamis, Februari 12, 2026

Dua Dosen UIN Ar-Raniry Masuk Daftar Top 2 Persen Ilmuwan Dunia

BANDA ACEH – Dua dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh masuk daftar Top 2 persen Scientists Worldwide 2025 versi Stanford University dan Elsevier. Keduanya adalah Prof. Muhammad Siddiq Armia (bidang Hukum dan Pendidikan) serta Prof. Mursyid Djawas (bidang Sejarah dan Studi Historis).

Daftar ini disusun tim Prof. John P. A. Ioannidis dari Stanford, berbasis data Scopus, dengan indikator meliputi jumlah sitasi, indeks-h, hingga pengaruh kolaborasi. Edisi terbaru dirilis pada 19 September 2025.

Dari Indonesia, tercatat 209 nama, lima di antaranya berasal dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Tahun lalu, hanya satu nama dari PTKIN yang masuk daftar.

Baca juga:  Transformasi Digital Kampus, FAH UIN Ar-Raniry Bekali ASN Administrasi Berbasis IT

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amin Suyitno, menyebut peningkatan ini sebagai bukti transformasi mutu riset dan kolaborasi internasional di kampus keagamaan. “Ini menunjukkan bahwa PTKIN berada di jalur yang tepat,” ujarnya.

Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Arskal Salim, menambahkan capaian ini lahir dari tata kelola riset yang kian solid. “Fokus pada pendampingan publikasi dan jejaring global menjadi kunci,” katanya.

2ce3f24d ed73 4267 b691 a52e0c117e8e
Prof. Muhammad Siddiq Armia dengan Prof. Mursyid Djawas.

UIN Ar-Raniry juga mencatatkan kinerja riset terbaik di luar Jawa dan menduduki peringkat keempat nasional dalam SCImago Institutions Rankings (SIR) 2025, bersanding dengan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kampus ini menjadi satu-satunya PTKIN yang menembus lima besar nasional.

Baca juga:  Tim Community Development FP USK Turun ke Lokasi Bencana, Bantu Warga Pidie Jaya

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, menyebut capaian tersebut sebagai hasil kerja kolektif sivitas akademika. “Kami terus membangun budaya riset yang kuat dan relevan lintas bidang,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menekankan pentingnya dampak riset terhadap masyarakat.

“Target kita bukan hanya masuk daftar, tapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi literasi, moderasi beragama, dan pengembangan sains terapan,” kata dia. []

Berita Populer

Berita Terkait