BANDA ACEH – Dinamika jelang penentuan kepemimpinan DPD Partai Demokrat Aceh kian menghangat. Di tengah tarik-menarik kepentingan internal, DPC Partai Demokrat Aceh Besar secara terbuka “pasang badan” mendorong drh. Nurdiansyah Alasta, M. Kes sebagai figur paling layak memimpin partai berlambang mercy tersebut.
Ketua DPC Demokrat Aceh Besar, Zarwatun Niam, menegaskan bahwa Nurdiansyah bukan sekadar kader biasa, melainkan representasi loyalitas dan kekuatan konsolidasi partai yang selama ini terbukti di lapangan.
“Nurdiansyah itu bukan hanya loyal, tapi punya kapasitas menyatukan kader yang selama ini terfragmentasi. Demokrat Aceh butuh pemimpin perekat, bukan pemicu konflik,” tegas Niam dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Menurutnya, rekam jejak Nurdiansyah Alasta sebagai Ketua DPC, Ketua Fraksi DPRA dan saat ini sebagai Ketua Komisi IV DPRA menunjukkan konsistensi dalam membangun jaringan politik dari tokoh atas hingga ke tingkat bawah. Bahkan, kontribusinya dalam mendongkrak perolehan kursi di dapil 8 dinilai sebagai bukti konkret, bukan sekadar klaim.
“Fakta di lapangan jelas, ada peningkatan kursi di DPRK Aceh Tenggara dan Gayo Lues, Itu kerja politik nyata, bukan retorika. Komunikasi yang dia bangun itu berbuah loyalitas kader,” ujarnya.
Niam juga menyindir secara halus munculnya figur-figur lain yang dinilai minim kontribusi namun mulai bermanuver menjelang momentum penentuan kepemimpinan.
“Jangan sampai Demokrat Aceh dipimpin oleh sosok yang hanya muncul saat momentum, tapi absen saat kerja-kerja partai dibutuhkan,” sindirnya.
Ia menegaskan, Demokrat Aceh saat ini berada di persimpangan penting: antara kembali ke jalur kejayaan atau justru terjebak dalam konflik internal yang berlarut.
“Kalau ingin bangkit, pilih pemimpin yang sudah teruji loyalitas dan kerja nyatanya. Bukan yang sekadar kuat di wacana,” tutup Niam.
Dorongan terbuka dari Demokrat Aceh Besar ini diprediksi akan memanaskan peta dukungan internal, sekaligus mempertegas bahwa kontestasi kursi Ketua DPD Demokrat Aceh tidak sekadar formalitas, melainkan pertarungan arah masa depan partai.[]


