BI Siapkan Empat Program Unggulan UMKM untuk Perkuat Ekonomi Kerakyatan

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) meluncurkan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu untuk Penciptaan Lapangan Kerja dan Ekonomi Kerakyatan sebagai upaya memperkuat peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Peluncuran program yang digelar di Jakarta, Senin (22/6), dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, para pimpinan dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian UMKM, para pimpinan perbankan, asosiasi, pondok pesantren, dan pengusaha UMKM.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, UMKM merupakan fondasi penciptaan lapangan kerja dan generasi wirausaha masa depan yang produktif dan berdaya saing. Penguatan sektor UMKM, menurutnya, sejalan dengan program prioritas nasional dan implementasi Asta Cita dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.

“Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, penguatan UMKM menopang pertumbuhan ekonomi domestik dan kesejahteraan masyarakat,” kata Perry.

Ia menjelaskan, Peran strategis UMKM ditunjukkan melalui kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2024, UMKM berkontribusi 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), 90 persen penyerapan tenaga kerja, dan 15 persen pangsa ekspor Indonesia.

“Meningkatnya risiko ketidakpastian ekonomi global, menuntut kemandirian ekonomi Indonesia melalui penciptaan wirausaha baru dan peningkatan kapasitas UMKM. Agar lebih berdampak, dilakukan pemilihan model bisnis terbaik dari UMKM binaan BI sehingga kesesuaian bisnisnya teruji di lapangan”, ujar Perry.

Lebih lanjut, Perry menegaskan bahwa Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu dirancang untuk menghasilkan dampak nyata melalui penciptaan wirausaha yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi kerakyatan. Program tersebut dilaksanakan dalam skala nasional dengan memanfaatkan jaringan 46 Kantor Perwakilan BI bersinergi dengan K/L, stakeholders strategis, lebih dari 3.000 UMKM binaan BI, serta lebih dari 1.500 pesantren yang telah diberdayakan.

Baca juga:  Purbaya Soroti Euforia Panda Bond: Cari Utang Kok Dibanggakan?

Menurut Perry, kemampuan kewirausahaan merupakan kunci kemajuan UMKM yang dibangun melalui pendidikan kewirausahaan, evaluasi, dan implementasi model bisnis yang telah teruji.

“Motivasi yang kuat, semangat pantang menyerah, dan kemampuan membangun kerja sama merupakan fondasi penting bagi kemajuan UMKM”, pungkas Perry.

Dalam kesempatan yang sama, Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi atas sinergi yang telah terjalin antara BI, Pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk pemberdayaan pondok pesantren.

Menurutnya, penguatan ekonomi pesantren merupakan bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi umat dan memperluas manfaat ekonomi syariah bagi masyarakat.

“Melalui sinergi yang kuat dan berkelanjutan, kita berharap ekonomi syariah, khususnya yang berbasis pondok pesantren, dapat semakin berkembang dan menghadirkan keberkahan yang lebih luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” ujarnya.

BI menyiapkan empat program unggulan sebagai bagian dari Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu pada tahun 2026.

Pertama, Cangkir Barista, program ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri kopi dari hulu ke hilir, melalui fasilitasi sertifikasi internasional kepada 400 barista hingga pendampingan usaha membuka usaha kedai kopi. Para barista ini diharapkan dapat mengembangkan ekosistem kopi yang terhubung dengan para petani kopi dalam negeri dan importir kopi luar negeri.

Baca juga:  Iran Protes Perlakuan AS di Piala Dunia 2026, Bakal Adukan ke FIFA

Kedua, Citra Nusa, program ini bertujuan agar UMKM wastra Indonesia semakin kuat di  pasar ekspor dan menyerap tenaga kerja yang lebih besar. Penguatan kapasitas teknis, kapasitas kewirausahaan dan inovasi desain produk kepada 300 pelaku UMKM diharapkan memperluas peluang menembus pasar global.

Ketiga, Air Berkah Indonesia, program ini mendorong kemandirian ekonomi pesantren dengan melakukan pengolahan usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) berbasis sumber daya lokal. Program ini menargetkan 200 pesantren pada 2026

Keempat, Tani Berkah Indonesia, melalui pemanfaatan teknologi greenhouse, program Tani Berkah Indonesia diharapkan dapat mendorong produksi dan keekonomian hasil pertanian pesantren, penyerapan tenaga kerja serta pada akhirnya turut menjaga ketahanan pangan daerah. Implementasi program ini ditargetkan pada 10 pesantren setiap tahun.

Perry mengatakan, program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu selaras dengan arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 untuk memperkuat ekonomi kerakyatan melalui peningkatan daya saing UMKM, perluasan akses ekonomi dan keuangan, serta penciptaan lapangan kerja.

Program tersebut dirancang secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari penguatan kapasitas kewirausahaan, pendampingan usaha, inovasi produk, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar ekspor untuk mencetak wirausaha baru yang produktif dan berdaya saing.

Bank Indonesia bersama Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional yang produktif, inovatif, dan berdaya saing. Melalui sinergi strategis ini, ekonomi kerakyatan Indonesia diharapkan akan semakin kuat, inklusif dan berkelanjutan, menuju Indonesia Emas 2045.[]

Berita Populer

Berita Terkait