Benjolan di Leher Tak Selalu Nyeri, Bisa Jadi Tanda Kanker Tiroid

JAKARTA – Banyak orang menganggap benjolan di leher baru perlu diwaspadai jika terasa nyeri. Padahal, benjolan yang tidak menimbulkan rasa sakit justru dapat menjadi tanda adanya gangguan pada kelenjar tiroid, termasuk kanker tiroid.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi-Onkologi Medik Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Martha Iskandar menjelaskan bahwa tidak semua benjolan pada kelenjar tiroid bersifat ganas. Namun, setiap benjolan yang muncul di area leher tetap perlu diperiksakan untuk mengetahui penyebabnya.

“Pada gangguan kelenjar tiroid, keluhan dapat berupa jantung berdebar, mudah berkeringat, berat badan turun, gelisah, mudah mengantuk, berat badan naik, kulit kering, hingga tubuh terasa lemas,” ujar dr. Martha, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, gejala gangguan tiroid dapat berbeda pada setiap orang. Karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganan yang tepat.

HARI LAHIR PANCASILA

Dr. Martha menambahkan, kanker tiroid pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala khas. Akibatnya, banyak pasien baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah berkembang lebih lanjut.

Baca juga:  Jaga Mutu Obat hingga ke Tangan Masyarakat, BPOM Aceh Lakukan Audit CDOB

“Benjolan yang semakin membesar, terasa lebih keras, disertai suara serak, sulit menelan, atau adanya pembesaran kelenjar getah bening di leher perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.

Ia menilai masih banyak masyarakat yang menunda pemeriksaan karena menganggap benjolan di leher bukan masalah serius. Padahal, deteksi dini dapat membantu dokter menegakkan diagnosis dan memberikan terapi yang lebih tepat sejak awal.

Untuk memastikan penyebab benjolan, dokter dapat melakukan sejumlah pemeriksaan, mulai dari tes darah untuk menilai fungsi tiroid, ultrasonografi (USG) tiroid, hingga fine needle aspiration biopsy (FNAB) bila diperlukan.

“Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengetahui penyebab benjolan dan menentukan langkah penanganan yang paling tepat,” tutur dr. Martha.

Penanganan Kanker Tiroid Lebih Presisi

Jika benjolan terbukti merupakan kanker tiroid, salah satu penanganan yang dapat dilakukan adalah operasi pengangkatan kelenjar tiroid (thyroidectomy). Setelah operasi, pasien dapat menjalani terapi radioaktif iodin untuk menghancurkan sisa sel atau jaringan kanker tanpa memerlukan tindakan pembedahan tambahan.

Baca juga:  Sambut 1 Muharram 1448 H, Aceh Besar Gelar Pawai Ta'aruf

Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Lim Andreas, SpKN, menjelaskan bahwa terapi radioaktif iodin menjadi salah satu inovasi penting dalam penanganan kanker tiroid karena bersifat minimal invasif.

“Terapi ini menggunakan radioaktif iodin yang diserap oleh sel tiroid untuk menghancurkan sisa sel kanker secara spesifik,” ujarnya.

Menurut dr. Lim, terapi tersebut dapat meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus menurunkan risiko kekambuhan pada beberapa jenis kanker tiroid. Selain terapi, pasien juga memerlukan pemantauan yang terarah untuk mengetahui penyebaran penyakit dan respons tubuh terhadap pengobatan.

Didukung Teknologi Kedokteran Nuklir

Untuk mendukung diagnosis dan evaluasi kanker, Mayapada Hospital Jakarta Selatan menyediakan layanan Nuclear Medicine & Molecular Theranostic Center yang dilengkapi teknologi PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan.

Layanan tersebut memiliki kemampuan whole-body imaging dengan hasil pencitraan yang lebih tajam, waktu pemeriksaan lebih cepat, alur perawatan yang lebih terarah, serta paparan radiasi yang lebih rendah (low radiation) dibandingkan teknologi serupa yang tersedia di Indonesia.[]

Berita Populer

Berita Terkait