Rabu, Maret 4, 2026

Bank Indonesia Perkuat Kredit Pangan Jelang Idulfitri, Targetkan Inflasi Tetap Terkendali

JAKARTA – Menjelang Idulfitri, Bank Indonesia memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui dukungan penyaluran kredit pangan guna menjaga stabilitas harga di tengah meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan. Upaya ini ditempuh untuk mendukung daya beli serta menjaga inflasi 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen.

Stabilitas harga pangan menjadi kunci dalam menjaga daya beli masyarakat, khususnya pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Karena itu, pengendalian inflasi diperkuat melalui koordinasi dari hulu hingga hilir. Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, saat menyampaikan keynote speech pada seminar bertajuk “Ramadan Tenang, Harga Terkendali: Optimalisasi Kredit Pangan untuk Stabilisasi Pasar” di Jakarta, 2 Maret 2026.

Aida menambahkan, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, perekonomian Indonesia tetap berdaya tahan. Fragmentasi perdagangan dan volatilitas pasar keuangan internasional memengaruhi perekonomian domestik melalui tiga jalur utama.

Pertama, kenaikan harga minyak yang dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi, termasuk pangan, sehingga mendorong inflasi. Kedua, gejolak pasar keuangan yang memengaruhi nilai tukar dan berdampak pada harga barang impor serta stabilitas harga dalam negeri. Ketiga, perlambatan perdagangan global yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan memengaruhi dinamika permintaan serta inflasi.

“Dalam menghadapi tantangan tersebut, Bank Indonesia menempuh strategi 3K, yaitu kebijakan yang terintegrasi, kolaborasi erat dengan Pemerintah, serta komitmen untuk terus berada di pasar guna meredam gejolak dan memastikan inflasi tetap sesuai sasaran,” ujar Aida.

Baca juga:  UIN Ar-Raniry Buka Penjaringan Calon Rektor

Dengan strategi tersebut, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tercatat 5,39 persen (yoy) dan diprakirakan berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen pada 2026. Kinerja ini didukung oleh konsumsi masyarakat, peningkatan belanja pada periode HBKN, serta belanja Pemerintah pada awal tahun.

Dari sisi harga, inflasi Februari 2026 tercatat 4,76 persen (yoy), dipengaruhi faktor base effect kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025. Namun secara fundamental, inflasi inti tetap rendah. Meski demikian, komponen pangan bergejolak (volatile food) perlu terus dijaga stabilitasnya karena sensitif terhadap lonjakan permintaan, kondisi cuaca, dan gangguan distribusi.

Penguatan pengendalian inflasi dilakukan melalui tujuh program unggulan, antara lain hilirisasi pangan, optimalisasi kerja sama daerah, operasi pasar murah, serta komunikasi kebijakan untuk menjaga ekspektasi inflasi tetap terjangkar.

Menjelang HBKN, langkah tersebut difokuskan pada strategi 4K, yaitu menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan memperkuat komunikasi kebijakan. Implementasinya dilakukan melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dengan pendekatan sesuai karakteristik wilayah dan komoditas strategis.

Sebagai bentuk sinergi, Direktur Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan langkah penguatan ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Baca juga:  Bintang Pranata Sukma Antar Indonesia Naik Podium di Seri Pembuka Moto4 Asia Cup

Stabilitas inflasi tersebut juga memberikan ruang bagi sistem keuangan nasional untuk terus mendukung pertumbuhan. Kredit perbankan pada Januari 2026 tumbuh 9,96 persen (yoy) dan diprakirakan berada dalam kisaran 8–12 persen sepanjang 2026.

Untuk memperkuat pembiayaan sektor prioritas, Bank Indonesia mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dengan total insentif yang diterima bank sebesar Rp427,5 triliun hingga awal Februari 2026. Insentif ini diarahkan ke sektor pertanian, industri dan hilirisasi, jasa, konstruksi dan perumahan, serta UMKM guna memperkuat kapasitas produksi dan pasokan domestik.

Direktur Mikro BRI, Akhmat Purwakajaya, yang mewakili perbankan, menyampaikan komitmen untuk memperkuat penyaluran pembiayaan ke sektor pangan dan UMKM. Hal ini sejalan dengan pandangan ekonom senior CORE Indonesia, Hendri Saparini, yang menekankan pentingnya penguatan produksi domestik dan pembiayaan sektor pangan agar tekanan musiman dapat dikelola tanpa mengganggu daya beli masyarakat serta momentum pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia juga terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kecukupan likuiditas secara terukur. Selain itu, penguatan transmisi suku bunga kebijakan ke suku bunga sektor riil (interest rate channel) dilakukan agar pembiayaan semakin mendukung sektor riil.

Melalui bauran kebijakan serta koordinasi erat dengan Pemerintah dan para pemangku kepentingan, pengendalian inflasi dan penguatan kredit sektor prioritas terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. []

Berita Populer

Berita Terkait