Anak Buah Trump Peringatkan China Agar Tak Dekat-dekat Iran

JAKARTA — Pemerintah Amerika Serikat memperingatkan China agar tidak memperdalam hubungan dengan Iran di tengah konflik Timur Tengah, karena dapat memperumit hubungan dua ekonomi terbesar dunia tersebut.

Penasihat perdagangan utama Presiden Donald Trump, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, mengatakan hubungan Washington–Beijing saat ini masih stabil. Namun, ia mengingatkan bahwa keterlibatan China dengan Iran berpotensi merugikan kepentingan AS.

“Jika China terlibat dengan Iran dengan cara yang merugikan kepentingan AS, maka hal itu jelas memperumit situasi, dan itu adalah tanggung jawab China untuk mengatasinya,” kata Greer dalam wawancara dengan CNBC, Jumat.

Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap barang dari negara-negara yang mempersenjatai Teheran. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menggagalkan gencatan senjata dagang yang rapuh antara AS dan China jika benar-benar diterapkan.

Baca juga:  Ahmad Sahroni Diperas KPK Gadungan Rp 300 Juta

Meski tidak secara langsung mengirimkan senjata, Beijing disebut menyediakan teknologi dwiguna kepada Iran—yang dapat digunakan untuk kepentingan sipil maupun militer.

Di sisi lain, Trump dan Presiden China Xi Jinping tengah mempersiapkan pertemuan puncak di Beijing pada Mei mendatang. Agenda tersebut sempat ditunda agar Trump dapat fokus pada perkembangan konflik Iran di Washington.

Penundaan itu memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Konflik di Timur Tengah dinilai dapat memperburuk hubungan AS-China yang sebelumnya sudah tegang akibat isu perdagangan dan Taiwan.

China, sebagai salah satu importir minyak mentah terbesar dunia, turut terdampak oleh terganggunya pasokan energi. Penutupan efektif Selat Hormuz akibat konflik Iran telah mendorong lonjakan harga minyak dan gas.

Baca juga:  TNI Bersama Warga Percepat Pembangunan Tiga Titik Jembatan Aramco di Aceh Selatan, Perkuat Akses dan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Trump telah mendesak China dan negara lain untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran tersebut, namun seruan itu belum mendapat respons positif.

Gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan awal minggu ini mencakup kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Meski demikian, jalur strategis itu masih efektif tertutup dan tetap menjadi isu krusial dalam pembicaraan AS-Iran akhir pekan ini. []

Berita Populer

Berita Terkait