PIDIE JAYA – Intensitas curah hujan yang tinggi di wilayah pegunungan menyebabkan aliran Krueng Meureudu kembali meluap dan merendam permukiman warga di Kabupaten Pidie Jaya, Rabu (08/04/2026) malam. Peristiwa tersebut mulai terpantau sekitar pukul 20.00 WIB dengan ketinggian air bervariasi antara 40 hingga 70 sentimeter.
Banjir melanda dua kecamatan, yakni Kecamatan Meurah Dua dan Kecamatan Meureudu. Meski genangan air sempat merendam sejumlah desa, kondisi terkini dilaporkan mulai berangsur surut. Hingga saat ini, tidak terdapat laporan korban jiwa maupun kerugian material yang signifikan.
Di Kecamatan Meurah Dua, desa-desa yang terdampak meliputi Desa Pante Beurne dengan ketinggian air mencapai sekitar 70 cm, Desa Dayah Husen, Desa Meunasah Mancang, Desa Meunasah Raya, Desa Meunasah Bie, Desa Beuringin, serta Desa Geunteng dengan ketinggian air berkisar antara 50 hingga 70 cm. Seluruh wilayah tersebut saat ini menunjukkan tren penurunan debit air.
Sementara itu, di Kecamatan Meureudu, banjir merendam Desa Meunasah Lhok, Desa Beurawang, Desa Mayang Cut, Desa Meunasah Krueng, Desa Manyang Lancok, serta Desa Masjid Tuha. Ketinggian air di wilayah ini berkisar antara 40 hingga 70 cm dan juga dilaporkan mulai surut.
Dampak banjir juga dirasakan pada akses transportasi, khususnya di jalur lintas nasional Medan–Banda Aceh tepatnya di Desa Meunasah Krueng, Kecamatan Meureudu. Hingga saat ini, jalan tersebut belum dapat dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat, sementara kendaraan besar seperti truk masih dapat melintas dengan kehati-hatian.
Dalam upaya penanganan, personel TNI dari Yonif TP 857/GG telah berada di lokasi untuk membantu membersihkan material yang terbawa arus banjir serta mengatur arus lalu lintas guna mencegah kemacetan dan kecelakaan. Kehadiran aparat di lapangan juga memberikan rasa aman bagi masyarakat yang terdampak.
Selain itu, aparat gabungan terus memberikan imbauan kepada warga agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. Masyarakat diminta untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila debit air kembali meningkat, guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.
Koordinasi juga terus dilakukan antara TNI, Polri, dan tim SAR untuk menempatkan personel di titik-titik rawan banjir. Langkah ini diambil sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya peningkatan debit air dalam waktu dekat.
Banjir yang terjadi kali ini tidak hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan di daerah hulu, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi Krueng Meureudu yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi dan endapan lumpur. Hal ini menyebabkan kapasitas tampung sungai berkurang, sehingga air lebih mudah meluap ke permukiman warga.
Sehubungan dengan kondisi tersebut, diharapkan pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah strategis melalui normalisasi sungai, penutupan aliran-aliran baru yang tidak terkendali, serta pembersihan saluran air dan sisa-sisa lumpur di kawasan permukiman. Upaya ini dinilai penting guna meminimalisir risiko banjir serupa di masa mendatang.
Situasi di lokasi saat ini terus dipantau oleh aparat terkait, sementara masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kondisi cuaca dan debit air sungai.[]


