Minggu, Februari 22, 2026

Bukan Sekadar Urus Bencana, Mualem Perhatikan Tradisi Meugang Warga Aceh

BANDA ACEH — Di tengah fokus penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem turut menaruh perhatian pada keberlangsungan tradisi meugang yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Aceh.

Perhatian itu disampaikan Mualem dalam rapat bersama jajaran menteri, anggota DPR RI, serta pejabat utama negara di Hotel Daka, Banda Aceh, Selasa, 30 Desember 2025.

Dalam pertemuan tersebut, Mualem meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantu menjaga ketersediaan dan pemenuhan daging meugang bagi masyarakat, terutama warga terdampak bencana.

“Bagi masyarakat Aceh, meugang bukan sekadar tradisi, tetapi kebutuhan sosial dan psikologis. Dalam kondisi pascabencana, ini menjadi sangat penting,” kata Mualem.

Baca juga:  Eks Kapolres Bima Kota Dijatuhi Sanksi PTDH dalam Sidang KKEP Terkait Kasus Narkoba

Dia menilai, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur dan logistik. Pemerintah, menurut Mualem, juga harus memastikan masyarakat tetap mampu menjalankan tradisi yang telah mengakar kuat dan menjadi penguat solidaritas sosial menjelang Ramadan.

Tradisi meugang telah berlangsung sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam, khususnya pada era Sultan Iskandar Muda. Saat itu, pemerintah kerajaan memerintahkan penyembelihan sapi untuk dibagikan kepada rakyat pada hari-hari besar Islam. Hingga kini, masyarakat Aceh mengenal tiga momentum utama meugang, yakni menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Baca juga:  DPRK Desak Penertiban Anjing Liar yang Resahkan Warga Banda Aceh

Mualem mengatakan, keberadaan daging meugang bagi masyarakat Aceh memiliki makna simbolik yang kuat. “Meugang menyangkut harga diri keluarga. Ketika masyarakat masih bisa meugang, secara batin mereka merasa tetap kuat meski sedang diuji bencana,” ujarnya.

Perhatian terhadap tradisi ini, menurut Mualem, juga menjadi bagian dari pendekatan sosial dalam kepemimpinannya. Dia berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pihak swasta dan donatur dapat berkolaborasi membantu masyarakat terdampak agar tetap dapat menjalankan tradisi meugang secara layak.

“Penanganan bencana harus dilihat secara utuh, tidak hanya fisik, tetapi juga sosial, budaya, dan spiritual masyarakat,” kata Mualem. []

Berita Populer

Berita Terkait