Jumat, Februari 20, 2026

BI Beberkan Penyebab Rupiah Rontok

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengungkap penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp 16.500 per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut tekanan global dan domestik sebagai faktor utama pelemahan tersebut.

“Beberapa hari yang lalu dan memang kemudian di minggu hari-hari terakhir, ada tekanan dari global dan domestik sehingga kemudian melemah menjadi Rp 16.500. Kami terus berkomitmen kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin, 22 September 2025, seperti dikutip dari detikfinance.

Meski begitu, Perry menyebut nilai tukar rupiah sempat stabil dalam beberapa bulan terakhir. Dia menuturkan, rupiah bahkan sempat menembus Rp 17.000 per dolar AS ketika Presiden Donald Trump mengumumkan tarif resiprokal.

Baca juga:  Pertamina Proyeksi Kenaikan Kebutuhan LPG hingga 3,8 Persen saat Ramadan–Idul Fitri

“Kalau kita lihat, nilai tukar rupiah yang pada awal April 2025, di mana pada waktu itu pertama kali diumumkan resiprokal tarif pada waktu itu pernah mencapai sekitar Rp 17.000 bahkan di atas Rp 17.000 dan kemudian kami kemarin telah melakukan stabilisasi sehingga kemarin menguat ke 16.300 beberapa hari yang lalu,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas, BI melakukan berbagai langkah intervensi, termasuk di pasar valuta asing luar negeri melalui skema non-deliverable forward (NDF), transaksi tunai (spot), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menambah likuiditas.

Baca juga:  Korban Banjir Pidie Terima Bantuan Daging Meugang Rp2 Miliar dari Prabowo

“Kami memandang bahwa nilai tukar rupiah adalah salah satu bagian penting dari stabilitas perekonomian dan stabilitas dari negara,” kata Perry. []

Berita Populer

Berita Terkait