BANTEN — Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Syafi’i mengajak para santri menjadikan nilai-nilai kesantrian dan kepramukaan sebagai landasan pembentukan karakter yang religius, nasionalis, dan patriotis. Menurutnya, pendidikan pesantren dan kegiatan kepramukaan memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda yang berakhlak, disiplin, serta memiliki kecintaan terhadap bangsa dan negara.
“Jadikan semangat kesantrian dan kepramukaan sebagai dasar pembentukan mental kalian untuk menjadi warga negara Indonesia yang agamis, nasionalis, dan memiliki semangat patriotisme,” pesan Wamenag saat membuka Perkemahan Santri Pramuka Putri antar pondok Pesantren se-Banten, Jawa Barat, dan Lampung dalam rangka Milad ke-30 Pondok Pesantren Modern Manahijussadat, Banten, Senin (2/11/2026).
Wamenag mengatakan, para santri patut bersyukur karena memiliki kesempatan menempuh pendidikan di pesantren. Selain memperoleh pengetahuan agama, mereka juga dibiasakan hidup disiplin dan bertanggung jawab melalui berbagai kegiatan pembinaan, termasuk kepramukaan.
Ia turut membagikan pengalaman pribadinya yang sejak kecil ingin mengenyam pendidikan pesantren, tetapi belum memiliki kesempatan karena keterbatasan akses dan kondisi ekonomi keluarga.
“Anak-anakku sekalian, kalian adalah orang yang terpilih, bisa belajar di pondok pesantren,” tuturnya.
Menurut Wamenag, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Pendidikan yang diperoleh para santri bukan hanya menjadi bekal untuk meraih cita-cita pribadi, melainkan juga membawa tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan negara.
“Jadi, saya berani mengatakan kalian orang hebat. Itu bukan hanya sekadar pujian, tetapi juga merupakan amanah,” tegasnya.
Wamenag berharap para santri mampu tumbuh menjadi generasi yang berprestasi, berintegritas, dan siap mengambil peran strategis dalam pembangunan Indonesia.
Pesantren Punya Peran Penting dalam Sejarah Bangsa
Dalam sambutannya, Wamenag juga mengingatkan besarnya kontribusi pesantren dalam perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia menilai sejarah perjuangan bangsa tidak dapat dipisahkan dari peran para kiai dan santri yang turut membangun kesadaran kebangsaan serta mempertahankan kemerdekaan.
“Karena wajah pesantren ini adalah wajah lahirnya negara Indonesia,” ungkapnya.
Wamenag menyinggung Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 sebagai salah satu tonggak perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Menurutnya, semangat tersebut perlu terus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan yang menanamkan kecintaan terhadap agama dan Tanah Air.
Karena itu, ia meminta para pengasuh pesantren untuk terus memperkuat pembentukan karakter kebangsaan para santri.
“Para ustaz dan ustazah, para kiai, terima kasih atas perjuanganmu menjadikan anak-anak ini garda pemelihara moral bangsa. Terus didik mereka dengan semangat nasionalisme, bangun semangat patriotismenya,” pesannya.
Ingatkan Santri Jauhi Terorisme dan Narkoba
Selain menanamkan nasionalisme, Wamenag mengingatkan para peserta perkemahan untuk mewaspadai berbagai ancaman yang dapat merusak masa depan generasi muda.
Ia secara khusus mengajak santri menolak terorisme dan penyalahgunaan narkoba serta menggunakan teknologi digital secara bertanggung jawab.
“Hati-hati dengan hasutan membenci negara kita sendiri, hasutan membenci bangsa kita sendiri, hasutan memecah belah persatuan bangsa. Dari mana pun datangnya, kita harus tegas menolak terorisme,” tegasnya.
Terkait penggunaan teknologi, Wamenag mengingatkan bahwa telepon genggam dapat memberikan manfaat maupun dampak negatif, bergantung pada cara penggunanya memanfaatkan perangkat tersebut.
“Handphone ini bisa apa saja, tergantung pengendalian kita,” katanya.
Ia pun mengajak para santri memanfaatkan teknologi untuk kegiatan positif, memperluas pengetahuan, membangun komunikasi, dan mempererat silaturahmi.
“Gunakan handphone untuk kepentingan-kepentingan yang benar, kepentingan-kepentingan yang baik, memudahkan komunikasi, dan memudahkan silaturahmi,” pesannya.
Apresiasi 30 Tahun Pengabdian Pesantren
Pada kesempatan tersebut, Wamenag turut mengapresiasi perjalanan 30 tahun Pondok Pesantren Modern Manahijus Sadat di bawah kepemimpinan KH Sulaiman Effendi.
Ia menilai perkembangan pesantren yang dirintis dari lima santri hingga memiliki sekitar 500 santri dan cabang di Kota Padang, Sumatera Barat, merupakan bukti ketekunan dan keikhlasan para pengasuh dalam mengembangkan pendidikan Islam.
“Saya kira ini menggambarkan ketekunan, keuletan, dan di atas segalanya adalah keikhlasan untuk mengasuh santri di pondok pesantren,” ujarnya.
Wamenag juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Basmah Ihsan atas perhatian dan dukungannya terhadap pengembangan pendidikan pesantren di Indonesia.
Wamenag berharap kegiatan perkemahan dapat mempererat persaudaraan antar santri dari Banten, Jawa Barat, dan Lampung, sekaligus memperkuat karakter kepemimpinan generasi muda.
“Dan kalian mendapat semangat bonding yang bagus, menjalin silaturahmi Banten, Jawa Barat, dan Lampung,” harapnya.[]


