Jangan Asal Pakai ChatGPT, Ini Tugas yang Sebaiknya Dikerjakan Sendiri

JAKARTA – Chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) buatan OpenAI, ChatGPT, semakin canggih dan mampu mengerjakan berbagai tugas, mulai dari mengolah teks, merangkum dokumen, menyusun kode pemrograman, hingga mengolah gambar.

Berbagai pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah menggunakan ChatGPT. Pengguna cukup memasukkan perintah, lalu chatbot tersebut akan memberikan respons sesuai permintaan.

Meski serbaguna dan mudah digunakan, bukan berarti semua tugas bisa diserahkan kepada ChatGPT. Ada sejumlah pekerjaan yang sebaiknya tidak mengandalkan chatbot ini, terutama yang berkaitan dengan informasi sensitif atau membutuhkan keputusan akurat.

Lantas, tugas apa saja yang sebaiknya tidak diserahkan kepada ChatGPT? Berikut daftarnya.

1. Meminta Saran Hukum

ChatGPT dapat membantu menjelaskan istilah atau konsep hukum dengan bahasa yang lebih sederhana. Namun, chatbot ini sebaiknya tidak dijadikan pengganti pengacara ketika seseorang menghadapi persoalan hukum.

ChatGPT bisa menghasilkan informasi yang terdengar masuk akal, tetapi ternyata tidak memiliki dasar hukum yang valid. Padahal, dalam persoalan hukum, kesalahan sekecil apa pun dapat menimbulkan konsekuensi serius.

Peneliti hukum dan ilmu data (data science), Damien Charlotin, pernah membuat basis data yang memuat lebih dari 2.000 putusan atau perkara di berbagai negara yang bermasalah akibat penggunaan ChatGPT. Salah satu persoalannya adalah munculnya kutipan, preseden, atau argumen hukum yang ternyata dibuat-buat oleh AI.

Masalah tersebut tidak hanya terjadi ketika masyarakat umum menggunakan ChatGPT. Sejumlah pengacara juga pernah menggunakan informasi yang dihasilkan chatbot, tetapi kemudian diketahui tidak akurat.

Karena itu, untuk menangani persoalan hukum, berkonsultasi dengan profesional tetap menjadi pilihan yang lebih aman.

2. Menjadikan ChatGPT sebagai Psikolog atau Konselor

Baca juga:  BSI International Expo 2026 Resmi Dibuka, Dorong UMKM Naik Kelas

Meski bisa diajak bercerita tentang masalah pribadi, ChatGPT bukan pengganti psikolog, psikiater, atau terapis. Chatbot ini memungkinkan pengguna menceritakan masalahnya kapan saja tanpa perlu membuat janji atau bertemu langsung dengan orang lain.

Namun, ada keterbatasan yang perlu dipahami. ChatGPT merespons berdasarkan informasi yang diberikan pengguna. Respons yang terdengar empatik belum tentu menunjukkan bahwa chatbot benar-benar memahami kondisi orang yang sedang berbicara dengannya.

Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah kecenderungan ChatGPT untuk menyetujui keyakinan pengguna dalam situasi tertentu. Respons semacam ini berpotensi memperkuat pemikiran yang keliru.

Oleh karena itu, ChatGPT sebaiknya digunakan untuk mencari informasi umum, bukan sebagai pengganti bantuan profesional, terutama ketika seseorang menghadapi masalah kesehatan mental yang serius.

3. Mengolah Dokumen Rahasia Perusahaan

Pekerjaan lain yang sebaiknya tidak sembarangan dilakukan menggunakan ChatGPT adalah mengolah dokumen rahasia perusahaan.

Pengguna terkadang harus memahami dokumen perusahaan yang panjang. Untuk menghemat waktu, mereka mungkin tergoda mengunggah dokumen tersebut ke ChatGPT agar lebih mudah dirangkum atau dianalisis.

Padahal, dokumen perusahaan bisa memuat informasi penting, seperti kontrak, data pelanggan, laporan internal, atau dokumen yang dilindungi perjanjian kerahasiaan.

Karena itu, pengguna tidak boleh sembarangan memasukkan dokumen perusahaan ke ChatGPT. Sebelum mengunggah dokumen, pastikan kebijakan perusahaan mengizinkannya dan tidak ada data rahasia atau informasi sensitif yang berisiko terungkap.

4. Mendiagnosis Penyakit atau Meminta Saran Medis

Pengguna tidak sebaiknya menganggap ChatGPT sebagai dokter. Chatbot ini tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis secara langsung sehingga tidak tepat dijadikan satu-satunya acuan untuk mendiagnosis penyakit atau menentukan pengobatan.

Baca juga:  Wakapolda Aceh Sampaikan Pesan Kamtibmas saat Subuh Keliling di Masjid Oman

ChatGPT tidak melakukan pemeriksaan fisik dan belum tentu memiliki informasi lengkap mengenai kondisi seseorang. Jawabannya juga bisa keliru meskipun disampaikan dengan bahasa yang terdengar meyakinkan.

Salah satu kasus yang pernah dilaporkan melibatkan seorang pria berusia 60 tahun yang meminta bantuan ChatGPT untuk mengurangi asupan klorida dalam makanannya. Ia kemudian mengganti garam meja dengan natrium bromida (sodium bromide) dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit akibat keracunan.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa mengikuti saran terkait kesehatan tanpa memeriksa kebenarannya dapat menimbulkan risiko serius.

Jika mengalami gangguan kesehatan atau membutuhkan pengobatan, pengguna sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

5. Memasukkan Kata Sandi atau Data Pribadi

Pengguna juga sebaiknya tidak memasukkan kata sandi (password), nama pengguna (username), nomor identitas, data paspor, informasi rekening, atau informasi pribadi sensitif lainnya ke dalam percakapan ChatGPT.

Memasukkan data semacam itu dapat menimbulkan risiko keamanan dan privasi, terutama jika informasi tersebut diakses oleh pihak yang tidak berwenang.

Perusahaan media asal Amerika Serikat, Fast Company, pernah menemukan sekitar 4.500 percakapan pengguna dengan ChatGPT muncul di Google. Meski OpenAI kemudian menghapusnya, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa informasi pribadi yang dibagikan secara daring perlu dijaga.

Karena itu, hindari memasukkan informasi rahasia atau data pribadi penting ke dalam percakapan dengan ChatGPT. Pengguna juga perlu memahami pengaturan privasi dan kebijakan pengelolaan data sebelum menggunakan layanan AI.

Dengan memahami keterbatasan ChatGPT, pengguna dapat memanfaatkan teknologi AI secara lebih bijak tanpa mengabaikan keamanan, privasi, dan pentingnya bantuan profesional.[]

Berita Populer

Berita Terkait