JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengajak para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk melengkapi produknya dengan barcode. Menurutnya, barcode dapat membuka peluang lebih besar bagi produk-produk UMKM untuk menembus jaringan ritel modern. Barcode memudahkan integrasi ke dalam sistem pencatatan ritel sekaligus meningkatkan kredibilitas produk di mata konsumen.
Hal tersebut disampaikan Budi saat Peluncuran (Kick Off) Fasilitasi Sertifikasi Barcode bagi UMKM produk pangan kemasan dan produk kecantikan di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, Selasa (6/10). Program ini merupakan inisiatif baru Kemendag bersama GS1 Indonesia, sebuah organisasi penerbit nomor seri produk atau barcode resmi di Indonesia.
“Produk UMKM harus bagus dan berdaya saing karena konsumen dan ritel memiliki standar. Barcode menjadi salah satu standar yang mempermudah layanan, penyimpanan, dan distribusi produk, serta bagian dari digitalisasi yang mau tidak mau harus diikuti. Produk UMKM yang menggunakan barcode akan semakin mudah diterima di ritel modern,” ujar Budi.
Menurut Budi, potensi pasar melalui jaringan ritel modern di Indonesia sangat besar. Jumlah minimarket di Indonesia telah mencapai lebih dari 50 ribu gerai, belum termasuk supermarket dan toko serba ada (department store). Penetrasi produk lokal yang makin kuat ke jaringan ritel modern dapat membuka pasar yang makin besar bagi UMKM.
Ia menambahkan, barcode memberikan identitas unik bagi suatu produk dan identitas ini dapat dikenali secara internasional. Ia melihat hal ini sebagai upaya peningkatan daya saing bagi UMKM yang akan menyasar pasar ekspor.
Meski baru diinisiasi, para pelaku UMKM menyambut antusias fasilitasi sertifikasi barcode. Dari proses pembukaan pendaftaran (open call) dan kurasi tahap awal, sebanyak 100 UMKM telah terpilih untuk mengikuti Kick Off Fasilitasi Sertifikasi Barcode hari ini.
Selanjutnya, para peserta akan mengikuti tahap seleksi lanjutan untuk menentukan 50 UMKM yang akan mendapatkan fasilitasi sertifikasi barcode bagi produknya. Budi berharap, cakupan fasilitasi ini dapat terus diperluas sehingga makin banyak produk UMKM yang memenuhi standar dapat masuk ke jaringan ritel modern.
Budi memaparkan, dari total pendaftar program, sebanyak 94 persen merupakan UMKM produk pangan dalam kemasan, sedangkan enam persen lainnya merupakan UMKM produk kecantikan seperti sabun, sampo, dan produk kosmetik lainnya.
Salah satu UMKM yang lolos kurasi tahap awal adalah PT Choco Kreasi Sehat. Pemiliknya, Dian Annisa, menyambut positif program fasilitasi sertifikasi barcode dari Kemendag. Menurut Dian, kepemilikan barcode menjadi salah satu kebutuhan penting agar produknya dapat dipasarkan di jaringan ritel modern.
“Senang sekali dan alhamdulillah kami difasilitasi Kemendag. Selama ini, salah satu kendala kami adalah belum memiliki barcode sehingga produk belum bisa dipasarkan ke ritel modern. Fasilitasi ini sangat membantu kami,” ujar Dian.
Pertemukan Ritel Modern
Budi mengatakan, Kemendag terus memperluas akses pasar produk UMKM pangan maupun nonpangan dengan menggandeng Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO). Salah satu upaya sinergi dilakukan melalui penjajakan bisnis (business matching) yang mempertemukan UMKM terpilih dengan pelaku ritel modern.
Selama 2025–2026, Kemendag telah memfasilitasi business matching yang melibatkan kurang lebih 932 UMKM dengan peritel modern dan pusat perbelanjaan. Sejumlah ritel modern dan pusat perbelanjaan yang telah bersinergi, antara lain, MAP Group (Sogo dan Alun Alun Indonesia), Hero Supermarket, Metro Department Store, AEON Indonesia, IKEA Indonesia, serta KAI dan KAI Services.
“Kemendag menegaskan komitmen untuk membuka lebar jalan bagi produk UMKM agar dapat menembus jaringan ritel modern. Kami berharap semakin banyak produk UMKM dapat masuk ke jaringan ritel modern dan memperluas akses pasarnya,” pungkas Budi.
Budi juga mengajak para pelaku UMKM untuk hadir pada Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang akan digelar pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang. Menurutnya, TEI dapat menyediakan kesempatan bagi UMKM untuk memperluas akses pasar hingga ke mancanegara.[]


